Saturday, February 12, 2011

kangen SOLO...

kangen nonton Sekaten

kangen bangun pagi udah ditongkrongin gendhuk penjual Nasi Liwet atau Pecel atau Cabuk Rambak

kangen ngiras cendol di Pasar Gede

kangen ngiras cendol sego kuah sirup jeruk nipis (yang cuma ada satu-satunya di dunia mungkin, dan itu di Solo)

kangen mborong abon dan serundeng

kangen naik becak yang bahkan muat 3 orang dewasa satu becaknya

kangen liat suasana lesehan malem-malem

kangen naik kereta cuma untuk ke Jogja

kangen tabur bunga di makam Mbah Putri


kangen SOLO.

Sunday, February 6, 2011

OmPol

kalo ada perjaka ting-ting, mungkin status saya sekarang lebih disebut 'fresh graduate' ting-ting. Hehehe... Dimana-mana, pasti hadiah wisuda bunga, atau gak bingkisan, atau makan malam. Buat saya, makan malam, udah biasa. Karena kebiasaan yang saya pikir biasa itu (maksudnya apa ini ya? :p), hari ini saya mendapat hadiah yang luar biasa.

DITILANG.
Yak, ditilang! Siang bolong, di sekitar kawasan Kuningan, kami (saya dan Mas Pujo) ditilang saat berkendara motor. Gak kali ini sih ditilang, semumur-umur, yaa..udah sekitar 3 kali lah saat bersama Mas Pujo kami ditilang. Cuma hari ini, si Kanjeng Tuan Polisi yang SOK terhormat ini luar BINASA!

Peristiwa ini diawali pada saat saya ingin mencari Gedung Ariobimo Sentral. Sudah ketemu gedung ybs, entah kenapa mas Pujo berulang kali mengajak memutar jalan melalui Casablanca. Karena dekat kawasan Mega Kuningan, saya memilih untuk menolah keinginan Mas Pujo, mengingat di kawasan tersebut dekat dengan pusat perbelanjaan Mal Ambassador dan ITC Kuningan. Setelah kembali ke jalan utama, kami berusaha mencari putaran balik.

Setelah melihat ada putaran, sebelumnya kami yang memang sudah masuk di jalur cepat (mengikuti perintah yang ada di papan pinggir jalan, ya apalah itu ya namanya! :p), melihat ada sekawanan polisi yang ternyata sudah mendapat 'mangsa'. Mas Pujo seketika langsung berkata"shit!", yang entah kenapa saya berpikir bahwa kenapa sih hari ini kok Mas Pujo khawatir sekali dengan jalan pilihan saya.

Dan, jeng jeng jeng...kami diberhentikan! Otomatis dalam diam saya melirik keadaan saya dan Mas Pujo yang merasa sudah lengkap sekali atribut berkendara motor. Helm, oke. Jaket tebal, oke. Sarung tangan dan bahkan kacamata hitam pelindung sinar matahari pun kami pakai. Krik krik, apa karena kami salah menggunakan jalur? Trus apa gunanya papan perintah yang di pinggir jalan itu dong??!! Shit pangkat sejuta, saya pun sudah siap dengan seberondong penyangkalan jika Kanjeng Tuan Polisi yang SOK ingin dihormati ini banyak mulut.

Polisi: Selamat siang Pak, maaf kami mengganggu perjalanan Anda
(dalam hati gw, lo udah terlanjur rek ganggu perjalanan kita!)
Polisi: Maaf Pak, apa Anda sadar kesalahan Anda apa?
Mas Pujo: aduuh, kenapa sih Pak, saya aja berhenti karena Anda suruh, kenapa Bapak nanya balik?
Polisi: Maaf pak, kami hanya melasanakan perintah atasan kami saja (dalam hati gw, atasan? Tuhan? Situ aja gak manusiawi ngadepin manusia!)
Mas Pujo: iya kenapa Pak? To the point deh
Polisi: Sesuai peraturan berkendara di jalan raya, Anda seharusnya menyalakan lampu Pak.
Mas Pujo: Buset Pak, lampu doang.

Saya berpikir, mungkin kami juga salah karena mengabaikan peraturan yang ada. Saat itu juga, saya pun melihat sekitar. Tak jarang, bahkan banyak sekali mobil dan motor bahkan yang lewat begitu saja tanpa menyalakan lampu. Bahkan, karena si Kanjeng Polisi SIALAN lagi 'asyik masyuk' ngurusin mangsanya, banyak yang lewatin jalan puteran itu TANPA LAMPU sodara-sodara.

Setelah ngomong basa-basi, dan mungkin puluhan kali ngomong"maaf saya hanya menjalankan tugas dari atasan" (WTF!), dia ngeluarin entah surat apa yang berisi harga-harga pelanggaran, dan harga untuk pelanggaran tidak menyalakan lampu adalah 100.000!!! Spontan Mas Pujo dan saya langsung gak terima, sambil menunjuk-nunjuk motor dan mobil yang bebas dari intaian polisi-polisi. Daaan, dia gak bergeming sama sekali, malah sibuk mau menyiapkan segala keperluan sidang dan bla bla bla...

Karena kami sama-sama diam, akhirnya mungkin karena si polisi bang*at itu takut kehilangan rejeki super HARAM-nya itu, dia langsung menemui kami kembali, sambil berkata :"yaudah Pak, gimana kalo setengah harga Pak?"

Buseeet, lo kira kain di Tanah Abang bisa setengah harga!!?? Mending beli tanah ukuran 2 X 1 meter aja sekalian buat lo Pak!

Alhasil, daripada kebanyakan ngoceh, dan udah terlanjur liat Mbak-Mbak yang kayaknya bener-bener gak punya duit dan SIM plus STNK ditahan, dengan SAMA SEKALI GAK IKHLAS kami berikan 50ribu ke Kanjeng Polisi yang 'baaiiiiiiiiik' sudah memberhentikan kami. Dan kami langsung melanjutkan perjalanan pulang ke Depok.

Bukan besarnya uang 50ribu yang kami tidak ikhlaskan, tapi saya menyayangkan loyalitas POLISI yang seharusnya melindungi rakyat malah sekarang 'mengiris nadi' kehidupan rakyat dengan kebejatannya.

Persetan sama harga-harga pelanggaran, persetan karena hanya menjalankan tugas, dan mungkin juga persetan dengan adanya POLISI-POLISI bejat di Indonesia.