Friday, September 2, 2011

rindu Mbah Putri

Selamat Sore!
Sebelumnya, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin untuk segala kesalahan. Selamat Lebaran teman-teman...

Pas lagi baca tweet seorang kawan mengenai mudik, tiba-tiba saya teringat dengan mendiang Mbah Putri. Mungkin saya akan sedikit bercerita tentang beliau untuk sejenak mengobati kerinduan saya terhadap ia.

Mbah Putri saya terlahir dengan nama Walimah. Karena menikahh dengan Mbah Kung saya, yang bernama Atmosubagio, maka beliau lebih terkenal dengan sebutan Bu Bag (dari kata Bagio). Seperti mbah=mbah pada umumnya, beliau sangat mencintai cucu-cucunya. Terlebih karena saya adalah cucu pertama yang sudah ia nantikan selaa 7 tahun, dan perempuan satu-satunya diantara 3 cucu laki-laki lainnya. Ibu saya sendiri adalah anak tertua dari 3 bersaudara, yang kesemuanya adalah perempuan.

Menurut cerita ibu saya, Mbah Putri dulu berasal dari Kota Gede, Yogyakarta. Setelah dinikahi Mbah Kung, Mbah Putri menetap di Kauman, Solo sampai dengan akhir hayatnya. Beliau dulu adalah seorang pedagang batik yang cukup sukses. Dengan mempunyai pabrik sendiri di rumah, Mbah Kung dan Mbah Putri merupakan pedagang batik yang cukup terpandang. Setiap bulannya, Mbah Putri selalu mengantar batik dagangannya ke Yogyakarta. Bahkan sampai beliau mempunyai cucu, beberapa kali Mbah Putri masih kuat untuk mengirim dagangan ke Daerah Istimewa tersebut.

Dulu, saya sempat tidak suka dengan Mbah Putri. Hmm, maklumlah, pikiran anak kecil. Yang namanya mbah-mbah itu khan mempunyai aroma yang sudah khas, seperti hmm..ya pokoknya bau mbah-mbah gitu deh! Hehehe... Beliau sangat suka menciumi cucu-cucunya setiap pulang kampung. Dan kami, para keempat cucunya, paling jengah kalau dicium oleh beliau dulu. Lucu kalau diingat sekarang.

Saya sebenarnya suka dekat dengan beliau. Jikalau beliau ada waktu senggang, saya suka diajak tidur siang bersama dan didongengi. Dongengnya bukan legenda, atau cerita rakyat, tapi tentang kisah ibu atau tante-tante saya semasa mereka kecil. Selain itu, setiap kali beliau selesai mandi, saya ingat sekali detail apa yang beliau perbuat. Mbah Putri akan membuka cepolan rambutnya (rambutnya sampai akhir hayat beliau panjangnya sekita sepantat), menyisirnya dengan rapi, jika ada yang rontok beliau akan kumpulkan untuk dijadikan konde/ gelungan (ini serius, Mbah punya sekitar 10 buah konde dari rambutnya). Setelah selesai dengan rambut, beliau akan memakai body lotion Vaseline dengan aroma lidah buaya. Sampai searang pun, untuk mengenang beliay saya pun menggunakan body lotion yang sama.

Sebelum naik haji di tahun 1995, dalam kesehariannya Mbah Putri mengenakan kain jarik, kebaya brokat/ yang berbahan tembus pandang, dan stagen. Khusus stagen beliau hanya melepasnya saat mandi, dan sesaat sebelum tidur. Setelah naik haji, Mbah putri mulai belajar untuk mengenakan daster panjang.

Kebiasaan Mbah Putri yang lain adalah, tidak bisa mendengar atau tenang kalau ada salah seorang cucunya yang sakit. Suatu kali sat saya SMP, saya pernah dirawat untuk pertama kalinya di RS karena DBD dan tifus. Kedua penyakit itu sempat membawa saya ke demam berderajat lebih dari 40 derajat, dan tranfusi darah. Karena ibu saya sudah panik menemani saya, beliau sengaja tidak menelpon atau memberi kabar Mbah Putri tentang penyakit saya. Entah mendapat kabar dari siapa, beliau akhirnya mengetahui kalau saya sakit, dan langsung bergegas menuju Depok ditemani oleh pembantu kami disana untuk menemui saya. Saat beliau sampai Depok, kebetulan saya sudah pulang. Saat itu bekas suatu suntikan yang letaknya di pantat saya, tiba-tiba berubah menjadi berwarna biru, namun tidak sakit. Karena tidak enak dipandang, akhirnya Mbah Putri dengan telatennya memijat pantat saya itu sambil membisikkan banyak doa, sampai saya tertidur. Ketika bangun, ibu saya sempat guyon dengan berkata "wah idhu (ludah) Mbah sakti, bikin biru di pantatmu ilang loh!". Pas saya cek, memang benar warna biru di pantat saya sudah memudar. Agak kaget juga kalau memang benar itu pijitan tersebut menggunakan ludah. Tapi kalau disuruh memilih, saya rela dipijit dengan ludah saktinya asala beliau ada selalu disini setiap saya sakit.

22 April 2004
Saya sudah tidak mau sebenarnya untuk mengingat-ingat tanggal tersebut. Tanggal tersebut sudah merampas Mbah Putri dari hidup kami, dan memunculkan trauma di diri saya terhadap sirine mobil jenazah. Tepat sehari sebelum kepergiannya, pagi harinya Mbah Putri menelepon ibu. Tidak biasa-biasanya beliau menelepon, karena biasanya ibu saya yang menelepon beliau setiap minggu untuk menanyakan kabar. Beliau menanyakan kabar kami, saya dan adik, sekolah kami, dan kesehatan kami sekeluarga. Tidak ada firasat apa-apa kata ibu saya waktu itu, karena telepin tersebut memang murni karena Mbah Putri kangen dengan cucunya. Sorenya, saya mendapat telepn dari adik sepupu saya, Arsa. Arsa bercerita pada ibu kalau Mbah Putri baru saja menelepon. Beliau juga mengobrol dengan kedua adik sepupu saya, dan bercerita bahwa beliau tidak nafsu makan dan berniat untuk makan sup hangat saja malam itu. Tetap tidak ada firasat apa-apa.
Keeskan harinya, saat itu ibu baru membangunkan kami untuk bersiap ke sekolah. Biasanya saya (yang waktu itu kelas 2 SMA) yang terlebih dahulu dibangunkan, baru adik saya. Setelah membangunkan saya, ibu bergegas ke kamar adik saya. Saat itu telepin berbunyi, sekitar pukul 06.00 pagi. Ibu hanya berkata: "sopo kuwi (siapa itu ya)?". Setelah diangkat beliau langsung terlibat dengan percakapan bahasa Jawa dengan seorang saudara kami seperti ini kira-kira di dalam bahasa Indonesia:
Ibu: Oiyo lik, ono opo?
Saudara di Solo: Kus (panggilan ibu saya), Ibumu sakit. Cepat pulang. Dibangunin dari Subuh tadi gak bangun-bangun. Gimana ya?
Ibu: (sambil nangis)yaudah lik, dibawa ke rumah sakit sekarang, aku langsung cari tiket pulang ke Solo hari ini juga.

Kemudian telepon dimatikan. Dan ibu saya histeris. Saya yang sudah bangun cuma dibentak saat menanyakan kenapa dengan Mbah Putri. Ibu saya yang berniat baru akan ke Solo sorenya, disuruh bapak saya untuk naik kereta atau pesawat saja secepatnya. Untuk lebih meyakinkan lagi, ibu saya disuruh baak untuk memantau perkembangan Mbah Putri dengan menelepon orang yang menunggui Mbah Putri di rumah Solo. Percakapan yang saya dengar begitu cepat, dan saya hanya bisa ibu saya histeris dan berteriak "innalillahi". Innalillai wa innailaihi ro'jiun.. Allah membawa 'pulang' Mbah Putri kami ke haribaan-Nya dalam tidur beliau. Beberapa waktu sebelum beliau berpulang, Mbah Putri minta dibantu oleh salah seorang tetangga kami yang kurang mampu, untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Setelah pembantu rumah tangga di Solo meninggal, otomatis Mbah Putri hidup sendiri. Dan si Mbak ini yang membuat ibu histeris dengan mengabarkan Mbah Putri sudah tidak ada.
Ibu: Mbak, gimana Bu Bag? Jadi dibawa ke rumah sakit?
Mbak: nyuwun pangapunten, mohon maf Den Kus, Bu Bag sampun mboten enten (sudah tidak ada)
Ibu: astaghfirullah, Innalillahi...aku mulih yo Mbak...

Saat itu di pikiran saya terlintas pertemuan terakhir dengan Mbah Putri di bulan Januari 2004, dimana saya tidak pernah sekalipun melihat beliau melambaikan tangan ketika kami pulang ke jakarta, tapi saat itu beliau melambaikan tangannya, seolah memberi pesan "selamat tinggal".
Tidak ada lagi yang mengumpulkan koin seratus dan 500-an untuk dibagikan ke kaum papa saat lebaran.
Tidak ada lagi pemandangan ketika beliau menyisir rambutnya yang panjang.
Tidak ada lagi pemandangan beliau ketika mengusapkan lotion vaseline lidah buaya ke penjuru tubuhnya.
Tidak ada lagi orang yang biasa kami marahi kalau beiau mulai melakukan pekerjaan rumah tangga yang lumayan berat seperti mencuci.
Tidak ada lagi yang mengusap dan mendingengi saya sampai tertidur di kala sakit.
Tidak ada lagi yang memanggil nama saya dengan "pritiprit" atau adik saya dengan "njedidit" (nama adik saya Adiet).
Tidak ada lagi...

Saya dulu percaya dengan adanya pernyataan "tidak ada yang namanya suatu kebetulan". Namun saat mau berangkat ke Solo dengan menggunakan pesawat, di luar dugaan berbarengan dengan Kongres Golkar yang juga diadakan di Solo, dan dapat ditebak, tidak ada tiket pesawat apapun yang bisa langsung berangkat ke Solo. Ahasil kami harus menunggu selama 7 jam, dan sekitar jam 16.00 baru bisa berangkat. Wallahualam, mungkin memang Allah punya suatu rencana...

Setelah beberapa waktu menginjakkan kaki di tanah Solo, di sepanjang jalan rumah kami, berjejer rapi karangan dan rangkaian bunga tanda duka cita dari berbagai kerabat. saat itu waktu sudah menunjukkan selespas Maghrib, Rasa haru, kesal, sedih, lelah membaur jadi satu, dan kami hanya bisa tertegun bingung. Mungkin karena sudah lelah menangis seanjang perjalanan, kami memutuskan untuk mengajikan jenazah Mbah Putri dengan bacaan Yasin.

Subhanallah, beliau masih hangat. Walau saya tahu sudah sekitar 12 jam lebih meninggal, rupa Mbah Putri seperti halnya orang tertidur pulas, dan tidak mau diganggu. Entah kenapa, yang keluar dari mulut bukanlah kesedihan tapi saya tersenyum. Saya yakin beliau khusnul khotimah, dari wajahnya yang tenang. Insya Allah.

Keesokan harinya, kami emutuskan untuk menguburkan beliau. Ya, lebih dari 24 jam kami biarkan beliau dan kami berada dalam satu atap di rumah yang penuh kenangan. Saya mengikuti prosesi dari memandikan, mengkafani. Sayang sekali, saya tidak sempat menshalatkan Mbah, karena ada kendala. Yang paling menyedihkan adalah ketika saya, ibu dan tante-tante saya ditaruh di rombongan paling belakang menuju pemakaman. Menurut adat jawa, para permepuan lebih baik disusulkan saja, demi tercipanya ketenangan saat pemakaman. Yang saya rasa itu gundah, gundah sekali, Saya ingin melihat Mbah Putri dimakamkan, saya ingin sekali memastikan kalau Mbah Putri merasakan bahwa dia sudah tenang dalam rangkulan anak-cucunya. Mulai detik itu, saya mulai merasakan trauma menggila terhadap mobil ambulans, terlebih mobil jenazah. Setiap melihat ambulans, dan mendengar sirine-nya, saya selalu melihat di dalam itu Mbah Putri dan saya tidak mau melihat beliau ada di dalam sana dengan sirine yang bunyinya memekakkan. Saya tidak mau...




Buat Mbah Putri...
Prita kangen, Mbah.
Mohon doa restu, maaf lahir batin ya Mbah.
Disana ada lebaran gak sih mbah? Pasti kue kacang, aqua gelas dan teh kotak kecil melimpah ruah ya disana Mbah?
Sampai ketemu ya Mbah, nanti kalau ketemu Pita mau dipijit lagi dan didongengi...

"Jaga Mbah Putri aku ya, Ya Allah..."