Wednesday, February 1, 2012

cobaan X cobaan = cobaan kuadrat

Halo!
Hati saya mungkin agak sedikit sendu karena (lagi-lagi) tentang wedding stuff. Setelah seorang sahabat di kantor melangsungkan pernikahan-dengan-persiapan-22 hari-nya, sekarang tinggal Pipi dan saya yang masih harus menelan pahit-getir-senang-susah menyiapkan pernikahan yang tinggal hitungan minggu. Kemarin saya mendapat kabar dari seorang sahabat , yang pacarnya mantannya adalah sahabat Mas Pujo. Kemarin, setelah sekian lama, kami akhirnya bertukar pin BB dan berkomunikasi layaknya orang yang sudah tidak pernah bertemu tahunan dan membicarakan tentang pernikahan saya. Sebagai sahabat, saya merasa tidak enak karena dia selalu menanyakan apa saja yang sudah saya persiapkan, dan saya menjelaskan dengan riang. Saya juga bertanya kapan ia menyusul, namun tidak dijawab. Bahkan, terlihat sekali ia menampik dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan untuk saya.

Sempat saya menitip pesan, “tolong bilangin abang kalau aku nikah nanti dia pulang ya jeng?”. Kami memang seperti itu, selalu janjian jika ada yang menikah. Sampai pada akhirnya ia tidak membalas BBM saya, dan ia mengirim pesan yang membuat saya cukup bergidik serta menumbuhkan nafsu ingin menghajar sahabat Mas Pujo itu.

Isi pesannya adalah: “Sepertinya aku tidak menyampaikan pesan kamu untuk menyuruh abang pulang, prit. Abang sudah memilih wanita lain yang menurutnya lebih cocok untuk dia. Gagal sudah rencana menyebarkan undangan untuk bulan Juni.

Astaghfirullah ‘al adziimm…

Cobaan apa lagi yang menimpa persiapan pernikahan saya? Di kala saya mencak-mencak menghadapi banyak kepala yang mengatur rencana pernikahan ini, saya malah dihadiahi berita kejutan yang tidak mengenakkan. Yang saya bisa lakukan hanya memberikan BB saya ke Mas Pujo sambil berkata: “temen kamu nih! Dididik macam apa sih sampe bisa nyakitin perempuan sabar macem sahabatku?”. Sebagai tambahan, sambil menahan tangis.

Sampai hari ini (sekarang), saya masih bertukar pesan BBM, dan belum menyangka kalau hal ini terjadi. Yang patut mengagumkan dari sahabat saya ini adalah, dia mengkhawatirkan saya takutnya akan berubah pikiran mengingat sudah H-2 bulan pernikahan. Dia gak mau saya seperti itu. Insya Allah, saya tidak mau dan akan selalu berbakti kepada Mas Pujo menjelang dan setelah menikah nanti. Amin Ya Rabb…

Itu baru hal pertama. Hal kedua saya rasakan, paling tidak, dua hari terakhir ini. Kawan-kawan di kantor merencanakan pergi ke Jawa Timur sedapatnya cuti tahunan kami yang jatuh kira-kira di bulan Juli 2012. Dari awal saya memang hobi traveling, dan sudah punya pikiran liar akan kemana saja setelah saya sudah menikah dengan Mas Pujo. Maksudnya, sebelum menikah kami khan masih di bawah pengawasan kedua orangtua kami, jadi kalau sudah menikah sudah sah, begitu lho!

Anyway, saya juga mengimpi-impikan bepergian dengan teman sekantor, seperti yang pernah terlaksana di bulan Oktober lalu (Cirebon Trip). Nah hari pernikahan saya mulai dekat, saya pun makin intens ngobrol soal wedding stuff di meja bundar (meja di kubikel berbentuk bundar, yang tidak jarang kami pakai untuk makan siang). Semenjak itu pula, ketika saya mulai bawa bekal diet untuk makan siang, saya sudah jarang berkumpul dengan tim hura-hura. Di saat itu pula, saya merasa sudah jauh dan banyak obrolan yang saya lewatkan. Mengingat juga banyak kicauan, dan saya tidak termasuk di dalamnya. My bad, gampang sensi. Tapi pernah suatu kali saya meminta dikasih tahu dan ngobrol, mereka malah berkata (mungkin bercanda): ”ah lo khan udah ada yang biayain, tau jadi aja deh. Hahaha!”

Astaga, sebegitukahnya saya? Sebegitukahnya saya terlalu mengumbar wedding stuff? Sebegitukahnya saya sampai tidak mau berkumpul dengan yang lain? Kenyataannya, saya ,alah merindukan masa-masa itu. Saya ingin sekali diajak, mengobrol seru, atau apa saja asal bersama-sama. Kalau hal itu bisa dilakukan, kenapa ke saya tidak?

Sebegitukahnya lembaga pernikahan akan membeda-bedakan situasi akrab di kantor? Kenyataannya, Mas Pujo begitu tegas berkata pada saya kalau “kamu mau pergi pas kita udah nanti, boleh kok. Mau kemana? Medan? Jawa Timur? Gapapa, aku ngijinin, asal ada anak-anak.”

Overall, mungkin saya hanya bisa menyimpukan: “saya tidak ingin dibeda-bedakan dalam hal keuangan setelah saya nikah nantinya, keberadaan dan posisi saya, atau apapun itu. Kedudukan saya di kantor insya Allah masih tetap sama, KECUALI saya langsung mengandung setelah saya nikah, dimana itu memang tidak memungkinkan untuk pergi”.

Sekian.

Anda sedang membaca artikel tentang cobaan X cobaan = cobaan kuadrat dan anda bisa menemukan artikel cobaan X cobaan = cobaan kuadrat ini dengan url https://pritasyalala.blogspot.com/2012/01/cobaan-lagi.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel cobaan X cobaan = cobaan kuadrat ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link cobaan X cobaan = cobaan kuadrat sumbernya.

No comments:

Post a Comment