Sunday, January 22, 2012

Harmonika

Ya! I met him again. Saya bertemu dengan bapak tua, si pengamen harmonika lagi. Pertama kali bertemu dengan dia, sekitar tahun 2009. Waktu itu saya dan pacar masih mempunyai waktu untuk sekedar berolahraga bersama. Saya bertemu dengan si Aki-begitu beliau menyebutnya juga-di Mesjid Nurussalam, yg terletak sekitar 200 meter dari rumah. Beliau membawa tas kecil, memakai kemeja dan celana lusuh, topi bundar, dan sepatu kets. Ia memainkan harmonika, kalau tidak salah memainkan lagu Ibu Kita Kartini. Dalam keadaan bokek berat, saya samar-samar teringat hanya memberikan nasi bungkus (dari rumah) dan uang sebesar 3ribu atau 5rb. Kebetulan hanya itu yang tersisa di dompet saya :'(. Dulu saya mengira bapak memiliki gangguan penglihatan, karena jalan pakai tongkat, seolah tongkat itu hanya pijakan yang dia punya untuk melihat. Beliau sampai memegang tangan saya dan Mas Pujo untuk memastikan siapa yang peduli dengan dia. Kami berdua sampai menitikkan air mata, karena trenyuh mendengar dia berdoa panjang sekali untuk kehidupan kami. Merasa belum cukup, saya bergegas kembali ke rumah untuk meminjam uang ibu saya. Saya ingin memberinya lebih. Namun sayang, pas kami mencari beliau, beliau sudah tidak terlihat. Sungguh mengutuk dompet saya kala itu, karena bisa menghasilkan uang yang tak seberapa.






17 Agustus 2011
Di tanggal ini kebetulan hari libur. Saat sedang leyeh-leyeh di depan TV menunggu pengibaran bendera dari Istana, saya sayup-sayup mendengar suara harmonika memainkan reffrain lagu Hari Merdeka. Saya langsung terlonjak, dan mengambil dompet. Alhamdulillaaaah, gak hina-hina banget isi dompet saya. Saya berhasil membayar kekecewaan saya, dan benar-tidak salah lagi suara harmonika itu berasal dari tiupan lembut si Aki. Aki sudah tidak memakai tongkat, tapi beliau memakai kacamata. Pandangannya masih sedikit kabur, jadi memang dia melihat dengan telinga. Saat saya menyelipkan 'hak' beliau di tangannya, Aki langsung memegang tangan sambil berucap "sepertinya Aki gak asing dengan suara Neng. Kita pernah ketemu ya?". Subhanallah, beliau masih mengingat peristiwa 2 tahun lalu. Ya Allah, Maha Besar bisa menemukan kami kembali. Kembali, Aki mendoakan saya panjang lebar, dan saya hanya bisa menangis tersedu sedan dibuatnya. Tidak pernah saya mendengar orang yang begitu mendoakan saya dengan tulus langsung di depan mata. Saya langsung mengirim sms ke Mas Pujo. Dia senang sekaligus sedih karena kangen bertemu dengan Aki. Begitulah kami, sama-sama takut darah dan gak tega ngeliat orang-orang tua yang masih harus bekerja :')

22 Januari 2012
Lagi-lagi saya sedang bersantai di rumah. Sayup-sayup sekali, seperti ada yang memanggil saya, saya mendengar lantunan harmonika yang membawakan lagu "Layang-Layang". Sebelumnya, Bapak saya yang hobi sekali membaca buku di teras tiba-tiba masuk dan ingin menutup pintu ruang tamu. "Ada pengamen," katanya. Pas terdengar suara harmonika, serta merta saya langsung berteriak: "aku mau ngasih pengamennya!".
Rindu memuncak dan lega seketika bercampur ketika saya melihat Aki tampak sehat. Masih setia dengan pakaiannya: kemeja putih lusuh yang dimasukkan ke dalam celana panjang, topi bundar, kacamata, tas kecil, dan sepatu kets. Subhanallah, masih tercantel di pikiran saya. Saya langsung menghampiri dia. Karena dia bukan pengamen model mengunjungi rumah satu-satu. Dia hanya berjalan pelan, sambil memainkan harmonikanya dengan merdu. Sungguh, saya merindukan alunan harmonikanya dan Aki sekaligus. Kali ini saya langsung menghampiri, dan berjabatan tangan dengannya. Tapi sepertinya dia sudah lupa dengan suara saya. Tak apalah, saya yang sangat merindukan dia juga. Sembari menyelipkan 'hak' beliau, saya bertanya "Bapak sehat? Bapak tinggal dimana?". Dia menjawab: "aki tinggal di Cimanggis, sama teman-teman ngontrak. Makasih ya neng, neng kuliah apa sudah berumah tangga?". Sontak saya ingin tertawa, mungkin muka saya masih pantas seperti anak kuliah sekaligus ibu rumah tangga. Saya hanya bilang: "kerja, aki."

Aki lantas berdoa. Seperti biasa, panjang dan tulus. "Semoga kerjanya lancar, sehat, sukses terus ya Neng". Beliau berkata itu sambil mengelus bahu saya. Ya Allah, perih rasanya hati saya... Karena tiba-tiba terlintas kondisi Mbah Kung Mas Pujo yang lagi sakit parah. Asmanya sudah tidak bisa ditolerir lagi sehingga harus dibawa ke RS. Sambil bolak-balik berbaring dan duduk, beliau sempat ngomong: "Astaghfirulloh, Allahuakbar...jangan pada buang-buang waktu ya. Dzikir, inget sama Allah".

Astaghfirulloh, saya, Mas Pujo, dan Aji-sepupu Mas Pujo seperti ditampar untuk lebih mengingat sang Maha Kuasa. Kami tidak mau melihat Mbah Kung semenderita alm. Mbah Putri yang begitu tersiksa selama 3 hari sebelum beliau meninggal. Kami hanya berharap yang terbaik untuk Mbah Kung agar pulih seperti sedia kala.

Ya Allah, lindungi Aki, Mbah Kung, dan kedua orangtua kami ya.... Sehatkanlah mereka, Amin.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Anda sedang membaca artikel tentang Harmonika dan anda bisa menemukan artikel Harmonika ini dengan url https://pritasyalala.blogspot.com/2012/01/harmonika.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Harmonika ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Harmonika sumbernya.

No comments:

Post a Comment