Friday, January 20, 2012

nikah dan resign

halo!
Saya baru saja tiba di kantor setelah kurang lebih 3 jam menembus jahanamnya panas kota Bekasi. Saya diantar oleh seorang rekan kantor lelaki bernama Mas EW (kok agak aneh ya?)

Ah-nyway, dia orang yang lempeng dan suka cerita. Macem-macem ceritanya. tentang pernikahannya, karena saya sedang menyiapkan pernikahan; tentang keluarga; dan tentang pekerjaan. Nah yang terakhir ini memang agak sensi permasalahannya.



Baru-baru ini seorang sahabat baik saya di kantor memutuskan untuk mengundurkan diri. Dia sedang dihadapi dengan kenyataan harus menikah mendadak, dan mengikuti jejak sang suami untuk tinggal di Bandung. Rencananya yang super mendadak ini memang cukup mengejutkan kami, dan juga sang bubos. Masalahnya, beliau sedang sering tidak di kantor dan sekalinya ke kantor udah ada kabar begitu aja.

Sebenernya gosip dan isu setelah nikah langsung resign ini gak juga baru seumur jagung lamanya. Contohnya,saat saya bercerita ke sang mbabos kalau mau ada rencana nikah, dia langsung histeris “terus lo resign?”. Saya, yang notabene masih muda bergairah dan penuh semangat ini (sorry narsis) gak serta merta juga sih jadi ibu rumah tangga yang setiap minggu minta jatah sama suami buat shopping. Nah, I don’t wanna like that. Bukan tidak menghormati profesi ibu saya yang murni menjadi rumah tangga, justru saya dinasehati orang tua untuk turut bekerja memenuhi nafkah membantu suami. Dan PAS, saya karyawan swasta dan calon suami PNS. Alhamdulillah…

Intinya, saya gak akan segitu (sorry) begonya untuk melepas pekerjaan, seperti anggapan orang di kantor. Saya butuh juga pemasukan untuk pribadi (at least membantu suami untuk tidak ‘jajan’ menggunakan uang rumah tangga). Dan saya masih bersyukur, walaupun sewalaupun-walaupunnya kantor saya ini err..emm brengsek kebijakannya, lokasinya masih cukup strategis dengan tempat tinggal saya.

Kembali ke topik, si Mas EW. Doi tadi cerita ke saya kalau dia sudah tidak kuat lagi bekerja di kantor kami tercinta ini. Dia merasa bidangnya bukan disitu lah, gak kuat lah, udah gak oke suasananya lah, begitu lah intinya. Sebagai orang yang lebih muda dan minim pengalaman, saya memang tidak berhak menasehati. Dan menurut saya, permasalahan dia jauh lebih kompleks, mengingat istrinya tidak bekerja dan anaknya sudah 2 (makjang!). Sepanjang 3 jam perjalanan kami pulang pergi tadi, dia terus menerus mengeluh. Dalam hati saya, jujur saya salut sekaligus iba dengan mas EW. Tapi saya bersyukur, Alhamdulillah tidak ada masalah selama 9 bulan bergabung di kantor ini, dan belum ada terlintas untuk resign dalam waktu dekat.

Dengan ini, saya nyatakan, bahwa saya tidak akan resign ya mbabos-bubos setelah nikah…:)

Sekian.

Anda sedang membaca artikel tentang nikah dan resign dan anda bisa menemukan artikel nikah dan resign ini dengan url https://pritasyalala.blogspot.com/2012/01/nikahresign.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel nikah dan resign ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link nikah dan resign sumbernya.

No comments:

Post a Comment