Thursday, February 16, 2012

malu-malu(in)

Halo!
Tumben-tumbennya kemarin pas adzan Maghrib, saya sudah sampai rumah. Itu semua berkat tenggo, yang bener-bener ngaruh. Sesampainya di rumah, ibu saya tiba-tiba nyeletuk: “Eh Indonesian Idol udah mulai lagi!”. Acara yang dulu selalu saya tunggu-tunggu di setiap musimnya. jadi inget sesuatu...

Jadi ceritanya gini, dulu saya pernah memimpikan ingin menjadi seorang penyanyi. Kalau gak salah, jaman-jamannya saya bingung mau jadi apa pas udah lulus kuliah nanti. Waktu SD, saya ingat kalau saya pernah mengikuti sebuah perlombaan menyanyi. Bukan mengikuti sih, tapi lebih ke ‘disuruh’ sama guru, karena kebetulan suara saya lantang. Jadilah dulu saya membawa tim paduan suara menang menjuarai lomba menyanyi antar SD, dan akhirnya membawa saya dikirim ke tingkat kabupaten. Too bad, saya kalah. Klise, demam panggung. I mean, panggung yang di tingkat kabupaten lebih gede rupanya. Hehehe…

Anyway, setelah itu saya tidak pernah mengasah bakat menyanyi saya lagi. Saya cuma tahu, kalau saya tidak buta nada dan mengenal lagu-lagu lama yang sering dinyanyikan ibu dan bapak. Sekitar SMA mungkin, lagi musim-musimnya “pulang sekolah yuk kita nge-band”. Jujur, saya iri sama yang bisa bermain alat musik. Mereka punya alasan untuk datang ke studio musik. Beda dengan saya, sudah tidak bisa main musik, malu pula untuk bilang saya bisa nyanyi. Hingga suatu hari saya diajak salah satu teman paskibra saya untuk mengunjungi sebuah studio musik yang letaknya tidak jauh dari rumah saya. Dekat sekali. Disitu saya mulai mengenal dunia musik, walau cuma selintas dengan alasan “diajak sama temen”. Sampai saya akhirnya dekat dengan salah satu operator studio tersebut, dan sempat berpacaran. Karena putus, saya sempat tidak mengunjungi lagi studio tersebut. Jujur, jiper juga ketemu mantan yang udah dapet gandengan baru.

Sampai akhirnya saya diajak teman saya untuk mengisi vokal di band-nya. Iseng awalnya, karena saya memang sudah lama tidak bernyanyi lagi. Paling banter kamar mandi, dengan saksi bisu gayung, sabun dan sampo. What a surprise, teman saya suka dengan kualitas suara saya dan diajak lagi untuk berlatih intens…yak di studio tempat mantan saya bekerja itu. What a lucky me, orang-orang di studio lebih bersahabat dengan saya karena memang saya gampang bergaul dan mudah dekat dengan siapa saja. Menariknya, saya sudah tidak canggung ke studio dan mulai berlatih intens disana. Pensi, lomba band antar kelas sampai perpisahan SMA saya selalu dipercaya untuk menyanyi. Alhamdulillah, selain dikenal dengan “oh si Prita yang anak Paskibra itu”, guru-guru juga mengenal saya dengan sebutan “oh si prita yang anak paskibra dan yang suka nyanyi itu ya”. Lumayan lah ada tambahannya :p

Setelah kuliah, kegiatan pasti makin bertambah. Sibuk? Pasti. Tapi saya tetap aja tuh bandel ke studio. Bandel dalam hal ini adalah pulang kuliah bukannya pulang malah main ke studio. Saya ngobrol dengan banyak orang yang saya kenal, dan sering ditutup dengan nyanyi bersama-sama. Sekitar 2006, ketika saya dekat dengan mantan kesekian saya (mantan terbaik, tersabar, dan masih baik sampai sekarang), saya diminta untuk manggung. Setelah hampir setahun saya vakum tidak manggung, ini kali pertama saya diajak untuk nyanyi lagi. Gak jauh-jauh sih, di acara tujuh belasan di RT tetangga. Karena memakai peralatan dari studio, kami sekalian diminta untuk manggung. Lumayan, untuk penampilan pertama saya di jenjang kuliah saya menyanyikan 5 lagu, bersama grup band top 40 saya. Band Top 40 itu band yang suka bawain lagu-lagu ter-IN saat itu.salah satu personelnya, adalah si mantan saya yang juga operator studio itu. Tapi seneng, waktu manggung pacar saya yang dulu mantan duduk di depan panggung, tepat melihat saya. Hihihi *malu*

Penawaran nyanyi mulai berdatangan. Yang paling gila, setelah itu saya didaulat untuk nyanyi di Ciledug dan sorenya di Mall Depok. Waktu itu, saya diminta untuk menggantikan salah seorang personel sebuah band top 40 yang sedang sakit. Lumayan nambah pengalaman lah waktu itu, dan capek juga ngerasain jadi penyanyi yang super sibuk seharian nyanyi terus. Kalau yang di Ciledug itu acara pensi, dan yang di Mall Depok kalau tidak salah acara launching Ayodya Pala, salah satu sanggar tari ternama di Depok. Jam terbang saya mulai tinggi, baik mengganti personel yang tidak hadir atau solo. Sayangnya, saya harus berhenti karena kewajiban saya sebagai mahasiswa agak tersendat, walaupun tidak menurunkan indeks prestasi di kampus.




Awal 2007, saya mencoba peruntungan untuk audisi Indonesian Idol. Disuruh Ibu sih, daripada maen di studio gak jelas, katanya. Saya ingat sekali harus bangun jam 4 pagi untuk berangkat ke Balai Kartini setelah solat Subuh. Sampai Balai Kartini sekitar jam 6 pagi, dan antrian sudah menyemut hingga keluar gerbang balai kartini. Believe it or not, saya bahkan belum tahu lagu apa yang akan saya nyanyikan saat itu, entah terlalu excited atau grogi. Sampai terlintas ingi menyanyikan lagu “surat cintaku”-nya Vina Panduwinata, yang suka dinyanyiin sama Ibu kalau konser di kamar mandi. Eeeh, panitia suara seorang panitia membahana: “bagi peserta audisi Indonesian Idol diminta dengan sangat untuk tidak menyanyikan lagu Ratu (saat itu vokalisnya Mulan) ataupun Vina Panduwinata, karena sudah terlalu banyak yang menyanyikan dengan berbagai nada.” Walaaah, bubar ide saya! Bingung bingung bingung, karena kanan kiri saya suaranya oke banget semua! Tidak ambil pusing saya langsung teringat ingin menyanyikan lagu Prahara Cinta – Shelomita. Apa lagu Dia – Reza ya? Ah yasudahlah, mudah-mudahan nanti kalau sudah dipanggil gak grogi.

Tiba giliran saya, saya sumpah tambah grogi. Dingin, nervous, pengen poop, semua jadi satu. Pas ditanya mau nyanyi apa, dengan mantap saya bilang:”Prahara Cinta, Shelomita”. Dan tahu apa yang terjadi saudara-saudara setelah panitia menyilahkan saya untuk bernyanyi, mulut saya malah menyanyikan refrain lagu Dia – Reza yang berbunyi: “oh malunya hati ini bila kuingat saat itu, bla bla bla”. Yeah, lo emang malu-maluin Prita! Mentang-mentang reffrain Dia dan Prahara Cinta ada unsur malu-malunya, yang saya lakukan justru malu-maluin. Saya sadar setengah mati, dan mungkin panitia juga kaget kenapa yang keluar di mulut saya justru lagu lain, saya langsung keluar dan mengambil bingkisan sponsor dan ingin pulang saat itu juga. Sebagai tambahan, saya antri dari jam 6 pagi, baru mendapat giliran ‘memalukan’ itu sekitar pas adzan Dzuhur.

Untungnya saya tidak meneruskan karie menyanyi saya itu ya, hihi..malah terdampar jadi editor. Yaaah, menyanyi bagi saya cukup jadi hobi aja deh akhirnya :D

Anda sedang membaca artikel tentang malu-malu(in) dan anda bisa menemukan artikel malu-malu(in) ini dengan url https://pritasyalala.blogspot.com/2012/02/malu-malu.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel malu-malu(in) ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link malu-malu(in) sumbernya.

No comments:

Post a Comment