Saturday, August 11, 2012

love letter to hubby #5

dear suami...
Kalau nanti suatu saat kamu baca suratku yang kelima ini, aku cuma pengen kamu tau, kalau sampai hari ini aku sayaang banget sama kamu. Aku masih terus pengen bahagiain kamu, pengen kamu terus ada buat ngebimbing aku tentang agama, pengen banget terus masakin kamu dan anak-anak kita kelak (amin), dan selalu pengen cari tahu gimana jadi istri yang baik buat kamu.

Hari ini hari kesembilan belas aku telat haid. Udah gak ada air mata kalo ngeliat testpacknya bergaris satu. Aku tau, aku egois kalau aku mikir aku yang salah karena gagal lagi ngebahagiain kamu. Aku sadar, kalau ada tangan besar yang selalu memberikan yang terbaik untuk aku, untuk kita semua. DIA yang tahu, kapan waktu yang tepat bagi kita untuk menimang anak. Walau gak dapat dipungkiri kalau aku ingin (nyerempet iri) dengan kehamilan si anu-ini-unu. Dan kamu? Kamu dengan kepolosan dan kesantaian kamu itu selalu membuat aku tenang. Kamu yang tahu sekali caranya ngelesin pikiran aku biar gak sedih, yang selalu manja-manja gak jelas biar akunya lupa. Ya ampun, ntar kalau udah ada anak kita rebutan deh sama kamu yang.

Aku masih inget kok, betapa kamu juga ingin sekali dipanggil Panda, walaupun kita berdebat lagi pasti akan ada banyak pandangan miring soal panggilan itu. Tapi ya-udah-lah, kalau kamu nyaman dengan panggilan itu, aku pun seneng.

Hari ini hari kesembilan belas. Sabar ya sayang. Insya Allah aku bakal ngasih kamu "yang lucu-lucu" sesuai doa kamu waktu ultah aku kemarin.

I love you to the moon and back, my man...




yours,

-wifey-

Thursday, August 9, 2012

waktu

Setelah…sekian…lama…
I’m back.

Baru nemu kata-kata bagus (lagi).

Yes, indeed.
Sepertinya baru kemarin saya kenal dengan suami saya (yang ternyata it was 5 years ago). Rasa-rasanya baru kemarinnya lagi kami berbicara banyak dan mengobrol tentang masa depan. Rasanya juga baru sebentar saja kami melakukan lamaran di hadapan keluarga besar kami berdua. Dan rasanya baru tadi pagi kami saling mengucap ikrar sehidup semati di depan penghulu.

Hari ini, tepat 4 bulan lewat sehari kami melewati hari pernikahan kami. Suka, duka, amarah hampir saja menjadi krayon kehidupan kami sehari-hari. Tapi saya bahagia. Bahagia karena setidaknya telah mewujudkan salah satu mimpi saya untuk menikah muda.


Terima kasih waktu. Sampai bertemu di kesempatan lain yang tepat.