Wednesday, February 27, 2013

08.04.12

Gak nyangka udah hampir setahun saya jadi istri orang. Udah ‘buncit’ pula ini perut! Sekarang tiba-tiba pengen share tentang persiapan nikah. Jeng, jeng… Sumpah ya, pengen banget pakai baju bagus dan dandan cantik lagi (maksudnya kangen jadi manten gituu…). So yang lagi persiapan nikah, boleh diliat-liat cerita saya ini …

Tanggal Pernikahan
Saya sudah menyiapkan tanggal pernikahan sejak H-6 bulan, kalau gak salah bulan Oktober 2011. Selain serius, waktu itu saya dan suami mikirnya “udah lima tahun nih, udahlah diresmiin aja”. Lagipula nikah khan ibadah dan butuh kepastian. Jadi tanggal pernikahan adalah satu hal utama yang harus ditetapin (kalau bisa) dari jauh-jauh hari. Dan jadilah, 8 April 2012 sebagai hari pernikahan saya.

Ada cerita lucu sebelum memutuskan tanggal. Jadi si suami tiba-tiba mendatangi Bapak saya. Urung meminta ijin untuk menikahi saya, Bapak saya malah langsung mengambil kalender untuk mencari tanggal kosong yang pas *tepok jidat*. Awalnya, ditentukan tanggal 15 April. Tapi saya lebih sreg tangal 8. Bukan karena ngebet nikah, tapi waktu itu saya belum dapat jatah cuti. Tanggal 6 April bertepatan dengan Jumat Agung. Kebetulan ada harpitnas, hari sabtu (ya ya ya, kantor saya dulu mewajibkan karyawannya masuk di hari Sabtu). Saya bisa lah me-lobi bos saya ntuk meminta ijin di hari sabtu-nya, so saya memilih tanggal 8 April sebagai hari bersejarah kami.

Sunday, April 8th 2012


Catering dan Gedung
Agak bingung waktu itu, karena di Depok punya banyak banget kenalan orang catering yang terkenal enak. Ada 2 tetangga deket rumah. Yang satu, masakan udang-udangan dan gubukannya enak-enak. Satu lagi, fleksibel harga. Sayangnya, 22nya gak vendor atau rekanan dengan gedung manapun, baik di Depok maupun di Jakarta. Huhuhu, sempet sedih. Tapi akhirnya, ibu saya memutuskan menggunakan Lestari Catering (the flexible ones) untuk catering saat siraman dan midodareni.

Persoalan gedung, sejak tanggal sudah ditetapkan, saya dan suami langsung main-main ke UI. Waktu itu yang dituju Wisma Makara. Kurang sreg sih sama “nantinya parkirnya gimana”. Karena yang udah-udah, saya pernah datang ke 2 pesta pernikahan bertempat disana, parkiran mobilnya di pinggir jalan bukan di dalam area gedung. Dan itu sumpah, bikin ribet orang yang baru dating mau parkir, sama yang akan keluar. Pas nanya-nanya (udah mikir untung-untung dapet diskon karena Bapak pensiunan dosen UI), ternyata muahal sekali Wisma Makara itu.13 juta rupiah untuk sewa lengkap dengan pool, belum termasuk charge unbtuk catering, en de brey, en de brey… Hands up lah saya berdua. Entah kenapa, hati saya sudah nyantol dengan Depdagri di Kalibata, karena sempat kesana waktu mantan bos saya menikah. Tapi saya hanya mengutarakan waktu itu ke si suami. Ibu saya ngotot ingin di tengah-tengah. Alhasil ingin ke Aula SMK 57 di Mampang. Eww, bukannya apa-apa ya. Itu sempit dan kecil banget. Bahkan kesannya suram. Sorry to say.

Gedung Bangda Depdagri, Kalibata


Akhirnya, ibu mertua gatel pengen ikutan nyari juga. Dia nyari sampai Gedung El Nusa di TB Simatupang, Transmigrasi Kalibata, dll. Kalau ada yang nanya “kenapa gak coba di Deptan sih, tokh masih 6 bulan lagi?”, saya sudah mencoba. Dan kenyataannya, Deptan sudah full booked bahkan sampai Desember 2012. Walaaah, saya gak mau! Bukannya gak inget prestige atau apa, saya sengaja tidak mau memundurkan pernikahan karena mumpung pada sehat, panjang umur semuanya, jadi lebih cepat lebih baik tho? Akhirnya, saking ibu saya ngotot tapi calon mertua gak sreg, saya sarankan coba mereka berempat (bapak ibu saya, dan bapak ibu mertua) ke Depdagri Kalibata. Dan benar aja, mungkin karena jodohnya saya, di tanggal 8 April gedung tersebut belum di-booking, dan akhirnya kami langsung DP untuk bertempat disana. Dan murah sodara-sodara, untuk gedungnya saja hanya 3 juta rupiah saja. Alhamdulillah…

Eh, masih ada PR selanjutnya untuk mencari catering. Karena sudah pasti gedungnya, kami langsung meminta brosur, catering dan rekanan lainnya. Ada dua yang menarik perhatian, Tidar Catering dan satu lagi apa gitu, pokoknya temennya Tante (adiknya ibu). Karena ternyata anak dari bapak mertua semua pas nikah menggunakan Tidar, dan saat bapak mertua dan ibu mertua menikah juga menggunakan Tidar, akhirnya kami memutuskan menggunakan Tidar Catering dengan berbagai pertimbangan. Memang agak mahal dibanding catering lainnya. Tapi yang bikin tenang semua sudah OK, jadi: Fiuh!

Menu yang kami pilih mungkin gak jauh-jauh dari menu di pernikahan pada umumnya. Yang menjadi perhatian kami di gubug-nya. Ada bberapa menu unik seperti mie mangkok dan aneka pasta. Yaah standar sih, tapi paling tidak menggugah selera tamu yang datang. Yang mengasyikkan, karena bapak mertua sudah dianggap sodara jauh oleh si pemilik, bahkan anaknya yang meneruskan usaha catering ini, kami diberi ekstra jumlah porsi, baik untuk di gubug maupun di prasmanan. Yumm!



Dukun Manten
Dukun? Nah! Jadi, kalau di adat Jawa itu perias manten disebutnya dukun manten. Karena udah banyak sepupu-sepupu yang nikah dan kebiasaan denger kata itu, jadi kebiasaan deh ngomong dukun manten. Nyari sanggar rias yang oke dan terjangkau itu sama sulitnya kayak nyari gedung. Never-ending story banget deh pokoknya. Ada dua macem, Kusumo Inten dan sanggar Liza yang udah menariiiiik hati banget, tapi gokil! Harganya bikin pengen gantung diri. Akhirnya setelah nanya sama seorang kenalan, dia merekomendasikan ke Sanggar Ninik (pemiliknya namanya Ibu Ninik), di kawasan Fatmawati.

Bu Ninik, sang dukun manten


Akhirnya, saya, bapak-ibu, dan CPP kesana di sekitar H-5 bulan lah. Jangan tanya kenapa sih masih lama udah nyari ini-itu, dan terkesan buru-buru ya. Ibu saya orangnya perfeksionisnya ampun-ampunan. Jadi dia mau semuanya diurusin, ntar deket waktunya tinggal lengkapin aja. Anyway, kita kesana dan langsung nemu tempatnya sesuai ancer-ancer yang dikasih temen saya itu. Sebelumnya ibu saya sudah menelepon, dan kata ibu, orangnya welcome sekali sampai gak mau ngomongin harga paket ini-itu di telepon. Indeed, Ibu Ninik itu orangnya rame tapi haluuus sekali (nah loh?). Pokoknya dikit-dikit “boleh sayang, iya manis” kalau ngomong sama saya. Pas di tempat Ibu Ninik, saya ketularan ibu. Saya mau ini-itu, gak mau pake ini-itu, harus begini-begitu. Konsep sudah dicocokkan. Walaupun saya dan ibu duluuu sekali pernah pingin memakai busana dodot  (Solo Basahan), tapi karena menghormati mertua yang haji 22nya, saya akhirnya memantapkan untuk menggunakan busana Solo Putri. Warna yang diangkat bernuansa abu-abu dan silver. Sisanya, seperti urusan tawar menawar dan upacara adat apa saja yang akan dilaksanakan, saya serahkan ke ibu saya. Deal, akhirnya jodoh saya jatuh ke Sanggar Ninik untuk urusan dukun manten, busana pengantin dll.

Oh ya, busana pengantin yang awalnya saya masih labil mau bikin atau beli atau nyewa, akhirnya saya putuskan untuk menyewa saja, dengan syarat Bu Ninik membuatkan (menjahitkan) baru untuk saya, namun dengan status “saya menyewa”. Sebelumnya saya sudah coba-soba dengan busana yang ada. Niatnya memang mau memakai model shanghai, ternyata memang tidak ada. Sehingga mau diapakan juga, memang harus buat yang baru.

Dekorasi
Awalnya saya pinginnya sih satu vendor aja semuanya dari si Tidar Catering. Tapi dasar (lagi-lagi) ibu saya perfeksionis, jadinya saya harus merelakan ibu saya yang mencarikan untuk dekorasinya. Saya pengennya untuk bunga semua satu atau maksimal 2 warna. Pilihan saya jatuh ke warna putih dan pink. Kebetulan, ada seorang tetangga yang bekerja sebagai perias pengantin dan dekorasinya. Saya sih enggak begitu suka. Cuma karena dekat, dan harga relatif terjangkau, dan juga ibu saya yang ngebet banget pakai dia, akhirnya kami memakai dia untuk dekorasi pelaminan. Dari awal, sampai gladi resik, saya keukeuh sumeukeuh pokoknya bunga dekorasi hanya satu warna, yaitu putih. Dan saya juga minta dibuatkan buket kembang, hanya dengan mwar putih. Kebaya akad nikah saya juga menyewa di temen ibu saya ini. Hmm, sebenernya kalau bukan tetangga dan temen ibu saya, saya bener-bener gak sreg memakai dia. Cuma yaaa, mau gimana lagi...

Undangan
Saya menyiapkan undangan cetak sekitar 450 undangan. Waktu itu agak bingung mau model apa, warna apa, mesen dimana. Nah mesen dimana dan model apa ini jadi PR banget. Undangan bolak-balik bikin berantem sama Ibu ataupun si Mas Pujo. Bapak dan Ibu, tanpa sepengetahuan saya, sampai ke kalibata (waktu itu sekalian cek gedung sih) buat ngeliat tukang bikin undangan. Sebelumnya sih saya udah nanya-nanya ke temen yang udah nikah dimana tempat mereka bikin undangan. Rata-rata bilangnya ke Pasar Tebet. Cuma karena buta arah gini yah kami-nya, akhirnya saya ingat di jalan tiap pulang dari kantor dulu, di daerah Pal tepatnya, banyak sekali tempat yang menerima pembuatan  undangan. Langsung deh mau cus kesana sepulangnya kantor.
Suatu hari di bulan Januari 2012, akhirnya saya menyempatkan diri kesana bersama si Mas. Saya menghampiri toko Gemilang, yang pajangan undangannya lebih banyak. Hehehe, lebih banyak referensi lebih bagus toh! Jujur, langsung bingung ketika saya melihat berbagai ragam bentuk undangan. Tapi karena sudah memastikan mau warna abu-abu, itu lumayan membantu. Awalnya sih saya gak mau menyematkan titel sarjana kami di belakang nama. Cuma ya, waktu itu Bapak saya dan ortu si Mas kayak-kayaknya pengen banget titel ditaruh di belakang nama kami. Baiklaah Ayahanda, dengan berat hati saya selipkan itu titel gak penting di undangan saya. Oh ya, akhirnya saya mesen undangan simpel, tapi hard cover, berwarna abu-abu tua, dengan bahasa Indonesia (tidak ada tulisan WEDDING di depan, lalu dalamnya berbahasa Indonesia gitu...), tanpa amplop dengan harga Rp. 4500,- saja. Murah gak sih? Kalo menurut saya sih dengan konsep simpel tapi ngajeni (ngehargain/ ngehormatin orang yang ngundang dan diundang) itu sih murah. Hehehe. Orangnya yang bikin pun baik dan nerima masukan kalau ada yang kurang. Untuk foto undangannya, menyusul yaa...

Souvenir
Souvenir menjadi salah satu hal yang tak kalah pelik juga. PR banget mau souvenir apa khan buat nikahan. Yang cocok untuk saya, belum tentu cocok sama si Nyonya Rumah alias Ibu. Ibu oh Ibu, why are you always make everything seem terrible? Saya sih mikir kipas, cuma gak suka kipas batik. Jadi dari bahan tikar dianyam gitu. Ibu maunya bros jilbab. Emang semua orang pake bros jilbab? Hadeeh! Tempat pencarian souvenir ini jatuh ke Pasar Jatinegara. Man, it was the worst place buat nyari parkir yaaa... Selain tiap lantai hanya dibatasi sekitar 2,5 meter saja tingginya, berbagai truk box, mobil pick up bener-bener bikin rungsing, rusuh dan pusing. Kocaknya lagii.. masa ada eskalator turun tapi gak ada eskalator buat naiknya! Lift ada, tapi disegel alias RUSAK. Wassalam ini mah... mana dapet parkirnya tau dimana sodara-sodaraaaa...lantai paling atas gedung. Nah bagi yang punya Jaguar atau mobil mewah sejenisnya, gak usah berpikir dua kali atau bahkan 10 kali untuk datang ke pasar jatinegara bawa mobil kalian deh. Jangaaan deh benerr..
Akhirnya, kita membeli dua macam souvenir. Pertama untuk siraman dan pengajian, jadi souvenirnya untuk yang nyiramin saya dan yang kedua untuk resepsi. Souvenir yang dipilih dompet batik serupa clutch, sama kipas anyaman tikar (pilihan saya, yeay!) untuk resepsi. Oh ya, dasar Nyonyah Rumah keukeu sumeukeuh mau 2 macam untuk sovenir, dia sampai ke Yogya untuk membeli bros jilbab murahan (yeah, murahan) yang kayaknya dari perak bakar tapi ternyata plastik. Emang dasar emak-emak, maunya pengen diturutin aja. Yaudalah ya... Begitulah cerita perjuangan mencari souvenir.

Dokumentasi
Dokumentasi menjadi salah satu hal yang tidak terlalu wajib tapi sangat dipikirkan oleh saya. Kalau orang tua, yang penting acara lancar, dan sukses. Kalau saya, kalau tidak ada yang bisa mengabadikan acara sekali seumur hidup saya dengan apik, siapa lagi? Masa mantennya? Khan gak mungkin. Setelah Tanya sana-sini, dan ibu saya pun menawari vendor dari kawan si pendekor pelaminan, saya memilih untuk mencari sendiri fotografer.

Saya memilih Ridho Sanusi dan tim (sekarang Nunema Photography). Kebetulan, Ridho ini sahabat karib dari teman kantor saya, Nisa. Nisa bilang, selain masih seumuran kita-kita, Ridho ini sangat fleksibel kalo soal harga. Wow, ini yang saya cari! Mana ada fotografer bagus tapi menawarkan harga yang reasonable. Janjian lah kami untuk bertemu. Kami sempat berjanjian untuk bertemu. Namun sayang, ada kabar duka. Tepat di tanggal kami berjanjian tersebut, ayahanda Ridho dipanggil yang Kuasa. Akhirnya kami harus me-arrange ulang untuk bertemu. Sekitar awal bulan November 2011 kami pun berjanjian untuk bertemu di rumah saya. Saya sampai mengalah untuk pulang cepat, karena orang tua saya juga ingin berbincang langsung dengan Ridho.

Penampakan Ridho Sanusi :p 

Setelah bertemu, dan nego harga, kami pun sepakat memakai jasa Ridho untuk pernikahan saya. Ridho orangnya asyik, gak neko-neko pula. Selain fleksibel soal harga, waktu dan tempat pun dia ngikut kliennya aja. Asyik! Menjelang hari H, sekitar sebulan sebelum hari H, saya kepikiran untuk iseng foto prewed. Awalnya sih orangtua berkehendak untuk jangan memakai foto prewed. Tapi saya ingiiiin sekali, paling tidak ada 1 atau 2 frame terpampang di hari pernikahan saya. Akhirnya diputuskan sekitar pertengahan bulan Maret, kami melakukan photoshoot untuk prewed.

Photoshoot berjalan lancar, kendalanya hanya cuaca. Hujan sepanjang hari membuat kami harus stay di lokasi hingga hampir 8 jam! Untuk lokasinya sendiri saya mengambil di UI, pokoknya seantero UI saya gunakan. Selain dekat dengan rumah, strategis untuk berjanjian adalah hal yang saya utamakan. Ridho sangat kooperatif ketika saya meminta gaya ini-itu, bahkan tanpa saya sadari, dia membuat bebrapa ide gila yang ketika diperlihatkan kepada saya, sangat menakjubkan.





Lucunya, setelah bulan November saya mengambil Ridho untuk seksi dokumentasi pernikahan saya, 2 sahabat saya, Pipie dan Mbak Novi, memilih dia juga sebagai sesi dokumentasi pernikahan mereka. Seru!

H-2: 6 April 2012
Saya sudah resmi libur sejak hari tersebut, ya sebenernya sih karena itu hari libur jadi semuanya juga libur. Belum ada acara berarti di H-2 ini. Namun, saya sudah resmi dipingit, alias gak boleh ketemu sama CPP. Hiiks...

Acara saya hari utu adalah ke salon. Sudah janjian sama orang salonnya juga, jadi saya berniat mempercantik diri. Dimulai dari lulur, pijet, hair mask, spa, dan teman-temannya. Untuk segala persiapan kecantikan itu, saya menghabiskan 6 jam di salon! 6 jam pertama seumur hidup saya yang say ahbiskan di salon. Sementara di rumah, tukang tenda sudah mulai memasang rangka-rangaka tenda. The Tantes mulai datang untuk merias kamar manten. Karena paling deket dari pintu ruang tamu adalah kamar ortu, jadi kamar ortu dipakai buat kamar manten sementara, hihihi. Sempet diomelin sama mbak sepupu, kok ya sampai hari kemarinnya masih ngantor. Ya maunya sih enggak mbaaak.. +_+

Malamnya sekitar jam 10an, tim dekor untuk siraman datang. Agak ribet karena dekor yang dipilih sm Bu Ninik mepet banget sama plafon. Alhasil, ibu minta dituker sama yang biasa aja (pakai gebyog). Untung kepala tim pendekor orangnya baik hati bin gak suka ngeluh, jadi gak ada masyalah. Oh ya, si ibu udah mulai cuap-cuap alias ngomel-ngomel.

H-1: 7 April 2012
Sekitar jam 6 pagi, tim dekor untuk gebyog siraman sudah sampai kembali di rumah saya. Gebyognya baguuuus sekali, bunganya pun masih tampak segar. Karena acara pengajian lalu siraman baru dimulai sekitar jam 1, saya masih bisa berleha-leha. Walau begitu, kami ‘tersiksa’. Adik, saya, dan bapak saya selalu kena damprat ibu. Saya tahu beliau deg-degan, dan hanya bisa diluapkan dengan marah-marah. Ya sudahlah, saya hanya berdoa semoga keesokan harinya, atau rangkaian acara hari ini lancar.
Hari ini selain ada pengajian dan siraman, rencananya malamnya akan diadakan upacara midodareni. Konon dalam adat Jawa, dalam upacara bidadari-bidadari dari khayangan akan turun ke bumi, dan menitiskan kecantikan mereka ke calon manten wanita. Wallahualam sih, tapi kalo nanti saya tampak mangling toh thanks to Bu Ninik dan tim 

dekor dan gebyog untuk siraman


Sekitar jam 1, ibu-ibu dari majelis ta’lim tempat ibu saya mengaji mulai berdatangan. Saya sempatkan untuk sms calon suami, untuk mengutkan saya. Mudah-mudahan saya dikuatkan untuk acara hari ini. Yang bikin deg-degan, tim rias belum datang! Sedangkan untuk persiapan siraman, paling tidak mereka datang jam 12an. Ya udahlah, karena tamu sudah berdatangan, saya focus ke pengajian dulu.

Bu Ninik pun datang, gak lama setelah pengajian dimulai. Ibu saya dipanggil untuk dirias pertama. Setelah itu saya. Jadi pure tuh, pengajian dan ustadzah-nya hanya ditemani tante-tante saya. Masalah baru pun muncul. Ridho belum sampai hingga acara pengajian sudah hampir selesai. Saya tidak tahu salah siapa. Tapi sebenernya ini hanya salah kaprah dari si ustadzah yang sangat keburu-buru memimpin acara pengajian. Pengajian diprediksi selesai sekitar pukul 3, dan saya sudah meminta Ridho bersiap sekitar pukul 3. Ternyata eh ternyataaaa...pengajian selesai pukul 2 aja dong! Sembari dirias dan berganti pakaian untuk siraman, saya tidak berhenti panik sambil meng-sms Ridho. Ternyata, dia mengabari saya bahwa ada rekannya yang akan datang duluan. Thanks God!

Acara siraman dimulai. Saya pun sudah mempersiapkan selembar kertas berisi surat permintaan maf kepada orang tua. Hiiikkss, di bagian ini saya sudah tidak sanggup berkata-kata. Acara minta pamit, dan maf-maafan selesai, berlanjut ke acara puncak yaitu siraman. Baju kemben motif berwarna biru dan rangkaian melati di dada saya, wow, saya gak membayangkan di usia saya yang menjelang 25 tahun saya menikah. Saya sudah mengimpi-impikan memakai baju seperti ini. Sayang, cuaca saat itu sedang mendung. Bener-bener duingiiin sodara-sodara ketika orangtua dan para tetua bergantian menyirami saya dnegan air dari 7 sumber mata air yang penuh dengan bunga. Ridho pun sudah datang. Mungkin karena melihat mata saya sembab, dia tidak berani menggoda saya seperti biasanya. Acara siraman selesai. Sesuai adat, biasanya calon manten wanita akan digendong bapaknya sebagai gendongan terakhi sebelum memulai rumah tangga. Berhubung ye, bokap udah tuir, jadinya tangan saya hanya merangkul pundak beliau dari belakang. Setelah itu, saya menuju ruang tamu untuk prosesi potong rambut. Rencananya, potongan rambut saya akan ditaruh di semacam wadah emas kecil berisi air bunga, yang nantinya akan dikirim ke rumah calon suami, dan digabungkan dengan rambut dia. Suami sendiri tidak melaksanakan prosesi siraman heboh seperti yang keluarga saya lakukan. Keluarga pihak calon suami hanya meminta satu kendi kecil air siraman saya, untuk diguyurkan ke kepala calon suami sebagai formalitas saja, bahwa kami menyucikan diri untuk siap berumah tangga.




Setelah potong rambut, saya bergegas mandi untuk kemudia dirias sebagai persiapan prosesi midodareni malamnya. Baru kali ini saya merasakan seperti seorang putri raja, yang dimanja banyak orang. Sampai mandi pun ditungguin juru rias loh! Hehehe. Setelah mandi, rambut saya dikeringkan sambil dibacakan doa-doa secara islam oleh Bu Ninik, agar ritual merias calon manten untuk midodareni lancar dan wajah saya manglingi banyak orang. Kemudian setelah rambut kering, rambut saya yang terletak tepat diatas jidat mulai dikerik, alias dicukur. Ini berguna untuk mempermudah membuat paesan kesokan harinya. Muka saya mulai dirias, dengan diawali 3 macam fondation! Gokil...baru kali ini saya dipakaikan fondation sampai 3 lapis. Sementara saya dirias, Rido dan tim sdang sibuk ‘membuat prakarya’, alias menggunting bakal foto prewed saya, agar tampak fit di framenya. Salut deh sama Ridho! Empunya hajat lagi dirias, ortunya tau pada dimana, orang catering pada berseliweran, mereka malah anteng ngendon di kamar tempat saya ditias sambil gunting-gunting foto. Sesi rias pun selesai setelah  memakan waktu hampir 2 jam. Muka berasa berat bo! Apalagi kepala yang sudah disasak ala putri Solo, dengan konde alias gelungan manis menyungi di belakang kepala. Bunga melati full memenuhi kepala saya, yang sebenernya saya hanya ingin itu menghiasi seperti bando saja. Tapii, ya sudahlah, asala saya tampak cantik dan manglingi saja udah bikin gembira.

Setelah selesai rias, ada prosesi suap-suapan. Sesi ini kocak banget, karena pertama gak ada yang liat, bahkan sodara yang lain sedang sibuk ganti baju untuk persiapan midodareni. Jadi yang menyaksikan hanya orang tua, Bu Ninik dan tim dokumentasi. Hihihi...

riasan malam midodareni (maap buram!)



Sambil menunggu jam 7, waktu dimana keluarga calon suami akan datang, saya sedikit mengobrol dengan tante saya. Ngadu sih sebenernya, soal ibu yang ngomel-ngomel mulu. Hihi! Tapi setelah itu saya dipingit ke kamar lgi, untuk bersiap midodareni. Gak lama, rombongan calon suami datang. Orang tua saya dan keluarga lainnya sudah berkumpul menyambut mereka. Setelah acara sambutan dan perkenalan, tibalah puncak acara dimana Bapak saya menuturkan catur wedha ke calon suami saya. Catur wedha ini sebenernya seperti pertanyaan. Ada 4 pertanyaan yang akan ditanyakan Bapak saya kepada calon suami. Inti dari pertanyaan itu adalah seberapa besar calon suami siap menikahi saya, dari menafkahi, menyayangi sampai memberi pelajaran tentang agama. Setelah itu, tibalah acara makan malam, sambil melongok si calon manten wanita yang cantik jelita (uhuk!). Sebenarnya hanya kaum wanita saja yang boleh melongok ke dalam kamar pengantin, tapiiii akhirnya tetangga bapak-bapak, pakde-oom dari pihak suami juga ikutan nongol. Untung dibilang cakep, lah kalo dibilang jelek? Hehehe, tetep narsis. Intinya, calon suami dilarang keraaas ikutan ngintip. Makan pun gak boleh, yang boleh cuma mimik air putih sama ngeliatin orang-orang pada makan. Hehehehe, kesian.

Setelah makan malam, diadakan prosesi penyerahan bawaan, eh apa sih namanya, seserahan! Alhamdulillah sesrahannya banyaaak sekali, jadi agak sedikit terharu karena calon mertua sayang banget sama calon mantunya. Si ibu sampai geleng-geleng, karena saking banyaknya bingkisan, sedangkan kita membalasnya hanya kira 1/3 dari sesrahan yang diberikan kepada saya. Kenapa juga seserahan dilakukan saat midodareni? Pertama, karena banyaknya seserahan. Kedua, jika dilakukan pas hari H, takut gak ada yang koordinir, malah ilang-ilangan. Jadi di hari H, pure hanya mahar dan alat solat aja yang dibawa. Itu pun sudah ditentukan, siapa yang akan diberi tanggung jawab untuk menyimpannya.

Acara pun selesai, sodara-sodara sekarang sibuk bungkus-bungkus makanan karena si tuan rumah takut kerepotan harus mengurusi makanan yang sisa banyaaak sekali. Sedangkan besok harus siap pukul 4 pagi untuk dirias. Sasakan saya pun diminta untuk tidak diluruskan, katanya biar besok gak musti disasak lagi. Secara ya boo, hampir tiap kali disasak nangis. Hairspray yang dipake aja yang strong. Kebayang khan?

Hari H: 8 April 2012
Bangun jam setengah 4 pagi, dengan kondisi rambut yang masih kayak nenek sihir. Mobil yang mengantar ke gedung sudah siap sedia. Ada tetangga yang kebetulan berbaik hati mau mengantar kami sekeluarga ke gedung. Ah baiknyaaa :’)

Sampai di gedung resepsi, dukun manten nan handal, Bu Ninik, dan tim-nya sudah sampai. Sambil menyiapkan peralatan ‘perangnya’, saya menyempatkan diri solat Subuh terakhir sebagai seorang gadis. Setelah itu saya siap untuk dirias. Proses merias kali ini lebih berjalan lama dibandingkan untuk persiapan untuk midodareni kemarin. Dimulai dari jam 5, hingga menjelang jam 8. Tiga jam! Belum pernah saya dirias hingga selama itu. Sebelum mulai merias, seperti biasa Bu Ninik membaca doa-doa kelancaran. Awalnya muka saya yang masih bantal banget, disemprot dengan face spray. Segar sekali. Setelah itu, baru Bu Ninik membubuhi 3 lapis fondation, dari yang berwarna hijau pupus, sampai dengan warna muka. Muka saya dibuat halus tanpa terlihat jerawat ataupun komedo. Belum lama dirias, rombongan pengantin laki-laki datang. Calon adik ipar sampai heran melihat muka saya yang sedang dibubuhi fondation hijau, seperti Hulk. Lucunya, si calon suami hampir gak mau masuk, karena dipikirnya proses pingitan masih berjalan. Hehehe, udah selesai kaleee... sambil sarapan dalam diam (mungkin sambil menghapal ijab kabul :p ), calon suami memperhatikan saya saat dirias.

proses rias-merias, that takes 3 hours!


Satu jam sebelum dimulainya akad nikah, saat pemasangan paes, calon suami mulai dirias. Gak hanya mempelai wanita, calon suami juga diberi bedak tipis di muka, dan tidak lupa membubuhkan fondation di kedua tangan. Agar tampak putih, cin!

Tiba saatnya menjelang akad dimulai. Deg-degan campur perasaan gak jelas mulai terasa. Bagaimana rupa saya nanti di depan penghulu, akankah ada kejadian gak terduga, haduh campur-campur deh! Setelah proses penyambutan calon pengantin pria, dan pembacaan ayat suci Al-Quran, saya baru boleh masuk ke ruang akad. Makin deg-degaaaan! Eh tapi saya melihat Pipi dan beberapa sahabat saya ketika kuliah S1 dulu. You can do it, Prita!




Sebelum suami membaca ijab kabul, lagi-lagi saya diminta untuk menyampaikan permohonan ijin untuk menikah sekaligus permohonan maaf kepada bapak, selaku wali nikah saya. Jujur, hati saya berkecamuk karena gak nyangka, di usia Bapak yang sudah senja, beliau masih bisa menikahkan saya. Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, semoga bapak diberi panjang usia agar bisa bertemu cucunya kelak. Amin. Setelah lagi-lagi berderai air mata, tibalah sat yang ditunggu-tunggu, yaitu pembacan ijab kabul. Kocaknya, suami saya belum sempat mengeluarkan contekan ijab kabul, eh Bapak saya udah memulai ijab kabul. Surprisingly, mungkin saking excitednya, Bapak menghapal isi ijab kabul dengan lancar, benar, dan lantang. Alhamdulillaah, suami saya menjawab dengan lantang, cepat, dan tanpa kendala. Resmilah kami berdua menjadi sepasang suami istri. Fiuh!


SAH!


Setelah akad, kami melakukan prosesi panggih. Prosesi ini sebenernya tidak wajib dilakukan di setiap pernikahan adat Jawa. Tapi karena saya ingiiiiin sekali, saya meminta secara khusus untuk dipersiapkan prosesi panggih. Intinya, prosesi ini adalah waktu bertemunya pengantin wanita dan pria setelah diadakan akad nikah. Jaman dulu, akad nikah tidak wajib dihadiri oleh mempelai wanita. Tapi sekarang optional. Penghulu saya khusus meminta kami berdua ada pada saat prosesi akad nikah. Gak masyalah juga sih. Toh ini khan juga cuma prosesi adat. Awalnya, kami saling melempar masing-masing 3 daun sirih gulung. Katanya sih, kalo kena di dada berarti tepat di hati alias jodoh. Kami berdua mah heboh-heboh aja disuruh lempar-lemparan daun, asal bukan piring aja sih. Setelah itu, saya membasuh kaki suami saya dengan air bunga, setelah dia menginjak telur. Ini maknanya sebagai istri saya harus mengayomi suami lahir dan batin. Kami kemudian dirangkulkan dengan kain jumputan warna merah, yang kemudian dituntun oleh bapak saya. Ini maksudnya, sebagai orangtua, bapak saya mengajarkan si pengantin baru bagaimana sih menjejakkan kaki di dunia rumah tangga. Ini dilakukan sampai kami berdua duduk di kursi pelaminan. Oh ya, dalam prosesi ini, orangtua pengantin pria tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan. Nanti ada waktunya, ketika prosesi sungkeman akan dimulai. Setelah duduk manis di kursi pelaminan, saya kemudian melakukan prosesi (gatau namanya!) adat yang maknanya kayak suami menyerahkan nafkah ke istri. Jadi perlengkapan yang digunakan 2 buah kain, yang satu untuk menaruh beras kuning dan uang recehan, satu lagi bentuknya seperti kantong, sebagai tempat beras dan recehan nanti yang akan diberikan oleh suami. Kantong berisi beras dan recehan itu, nantinya saya berikan ke ibu saya, sebagai nafkah pertama kami sebagai suami-istri. Setelah itu kami suap-suapan, dan dilanjutkan dengan suapan es kelapa muda dariorang tua kepada kami, sebagai pengantin baru. Setelah itu, baru keluarga pengantin pria memasuki ruangan dan dilanjutkan dengan prosesi sungkeman.


suap-suapan #panggih


sungkeman #panggih


Prosesi panggih selesai, kami langsung bersiap diri dan ganti baju untuk persiapan resepsi. Menjelang resepsi ini, saya sempat meminta Bu Ninik untuk melepas sebentar tusuk konde yang ditusukkan ke dalam konde saya. Berat bo, I tell you! Terlebih, di resepsi ini akan ditambah beberapa tusuk konde, hingga nantinya berbentuk menyerupai kipas. Napas dulu sebentar boleh kali ya. Di bagian ini, saya sangat suka pada saat tim Bu Ninik membantu saya saat memakai gaun pengantin. I love my kebaya. It’s beautiful and fit to my body. Hmm, sebenernya gak fit-fit amat sih. Dari terakhir fitting, yaitu 2 minggu sebelum hari H, itu udah dikecilin karena ukuran tubuh dan tangan saya mengecil thanks to ibu saya yang tiap hari memberi bekal berupa REBUSAN wortel, buncis dan kentang. Hiks! Di hari H, ternyata tubuh saya agak mengecil kembali. Sempat dimarahin sama seorang tim gara-gara kerajinan diet, yah maunya juga gak pake diet sih. Tapi bener loh, diet sebelum nikah benar-benar mempengaruhi mood saat hari H. kenapa? Banyak yang bilang saya manglingi. Alhamdulillah sih kalo begitu! Hihihi...

Kami sempat sarapan soto, yang merupakan menu setelah akad nikah. Lumayan ada anget-anget di perut, sebelum salaman dengan para tamu.  Kemudian, kami melakukan foto studio bersama keluarga. Berhubung gak ada tempat untuk menaruh backdrop, jadilah ruang rias kami yang lumayan besar digunakan sekalian untuk foto studio. Foto studio selesai, kami pun bergegas menuju ruangan resepsi untuk acara puncak.

foto studio ala-ala :p


I love the ambience when we walked to the pelaminan. Sudah banyak teman, sahabat, dosen, bahkan dokter yang membantu ibu saya saat melahirkan saya dulu  pun datang. Seneng juga ngeliat teman-teman terpuaskan dengan catering yang sudah kami dan sekeluarga siapkan. Hingga jam mendekati selesai pun, masih banyak tamu yang datang. Walau prasmanan sudah habis, ada sekitar ratusan tamu yang ikut makan di bagian khusus keluarga, dan itu pun melimpah sampai mereka kekenyangan.




I looove the gown!


Walau semua hal tampak memuaskan di hari besar saya (alhamdulillah), ada satu hal yang sampai sekarang masih mengecewakan saya. Itu adalah dekor pelaminan, red carpet dan bunga di sepanjang red carpet dan pelaminan. Saya sarankan bagi kalian yang sedang mempersiapkan pernikahan untuk tidak menyewa atau memakai jasa dari si empunya dekor ini. Kalau bukan teman baik dan nurut ibu saya, saya menolak mentah-mentah untuk menggunakan dia. Oh ya! Janur kuning yang disiapkan pun kecil sekali. Hiks...Yasudahlah, nasi menjadi bubur. Walau begitu, kesemua hal yang tadi saya sebutkan tidak mengurangi kebahagiaan saya di hari itu sampai hari ini. Alhamdulillaaah :)





Anda sedang membaca artikel tentang 08.04.12 dan anda bisa menemukan artikel 08.04.12 ini dengan url https://pritasyalala.blogspot.com/2013/02/080412.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel 08.04.12 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link 08.04.12 sumbernya.

3 comments:

  1. salam kenal mbak Prita,saya agnes, boleh minta info tentang dukun mantennya mbak? hasil riasannya bagus dan manglingi mbak. bisa dikirim ke nothing_thanme@yahoo.com atau reply comment ini..

    makasih ya mbak

    ReplyDelete
  2. huuiihhh...
    mantab ridho non irama dibahas detail dimari.
    sip sip
    ;)

    ReplyDelete
  3. Prithaaa~
    aku menemukan blog mu pas lg hunting2 gedung nih.. share2 ke akuh dong prithaaaaaaaaa

    nanti aku kasih pudding caramel dehh

    ReplyDelete