Tuesday, April 2, 2013

FYI.


Lagi-lagi masalah kepo-mengkepo hadir. Heran deh, lagi hamil gini masih aja ada ‘orang baik’ yang mau ngasi pahala. Nurut sama suami selain dapet pahala, emang menguntungkan juga. Dengan diam, saya benar-benar bisa memetik pahala dan buah kesabaran. Thanks to my silly hub...

Ini berawal dari cap yang sudah berlaku di diri saya sejak masalah Twitter. Sebenernya juga heran, ngapain sih ngotak-ngatik sampah orang. Lalu hal ini berlanjut saat awal Maret lalu. Sejak awal februari, saya memang sudah kembali menikmati madunya hari sabtu di rumah. Tapi sesekali masih aja sih ‘terganggu’ dengan adanya job translate. Karena memang gak menyita waktu dan itu sering saya kerjakan di kantor terdahulu, saya sih masih semangat-semangat ayam mengerjakannya. Tanggal 2 Maret lalu saya kembali diberi tugas untuk menterjemahkan perkejaan tersebut. Terjemahan itu terdiri dari 32 halaman bergambar majalah anak-anak, yang sama sekali (sebenernya) tidak menyita waktu. Namun, tanggal 2 waktu itu, saya benar-benar sedang sakit. Sejak hari Jumatnya, badan saya demam naik turun suhunya. Parahnya di hari Sabtu, saya sempat merasakan panas hingga suhu 39,2 derajat. Pokoknya hari itu yang rencananya suami harus ngecek pemasangan alat apa gitu di kantor, sampai gak berani ninggal saya yang hanya terbaring di tempat tidur. Siangnya, pas suhu badan agak mendingan, saya memberanikan diri untuk ke kamar mandi sekedar untuk membasuh muka dan wudhu untuk sholat Dzuhur. Setelah sholat, saya membuka BB dan melihat ada noification email masuk disana. Ternyata ada kiriman email untuk tugas menterjemahkan lagi. Saya liat BBM, mantan mbabos cuma menulis “Prita...” yang saya jawab dengan “ya” saja. BBM tersebut hingga malam harinya tidak berlanjut dengan pertanyaan apapun, bahkan hingga keesokan harinya. Saya hanya mengira bahwa hari itu jaringn lagi kacau dan sinyal BBM pending ke semua provider. Ya, saya masih berpikir positif. 

Karena keadaan suhu tubuh yang kembali meninggi, akhirnya suami saya memutuskan untuk membantu saya mengerjakan terjemahan tersebut. Saya benar-benar bedrest, hingga dikompres. Yang namanya termometer selalu dekat dengan saya, kalau-kalau saya kehilangan kesadaran. Saya masih bertahan untuk tidak dibawa ke RS, karena saya masih bisa berkeringat hanya dengan kemulan dengan bedcover yang tebal. Kok jadi suami saya yang mengerjakan? Memang bisa? Beberapa kali dia pernah melihat saya mengerjakan itu, bahkan sesekali melihat-lihat isinya. Jadi dia sama sekali tidak merasa asing dengan pekerjaan saya.

 Saya tertidur hingga sore hari dan melihat suami saya tidur di kasur tambahan. Kasian :( Pasti dia lelah melihat bahasa majalah anak yang agak rumit kalau ditranslate ke bahasa Inggris. Saya membangunkannya, dan dia berkata: “Aku udah ngerjain semuanya, kecuali yang komik, kepanjangan sih, hehehe,. Sama yang itu Nda, translate lagu Balonku. Gak ngerti”. Ah baiknyaa :’) sungguh, baju yang saya kenakan masih sama dengan hari kemarin. Saya sempatkan ke kamar mandi, tapi bukan untuk mandi, hanya untuk membersihkan badan formalitas saja dan berganti pakaian. Setelah bersih-bersih dan lain-lain, saya bedrest kembali. Kembali, badan saya meninggi suhunya. Yaudahlah, hari itu benar-benar saya  gunakan pure untuk beristirahat.

Besoknya, saya merasa baikan. Saya ingiiiin sekali makan Okonomiyaki, itu tuh pizza ala Jepang. Langganan saya ada di Detos, lantai dasar (lantai Hypermart). Jadilah saya dan suami kesana, berhubung saya juga mulai minat makan. Ternyata badan saya belum sembuh benar, karena sesampainya di Detos, badan saya kembali diselimuti keringat dingin. Too bad :( Sepulangnya dari Detos, saya sempat mampir ke rumah orangtua saya, untung mengambil sari Kurma, untuk peredam panas. Niatnya, sesampainya di rumah saya ingin tidur sebentar dan mengoreksi pekerjaan aya yang tertunda kemarin. Baiknya suami saya, dia malah meringankan tugas saya dengan mengerjakan komik yang menurutnya panjang dan lama pengerjaannya, demi saya yang akan beristirahat dulu. Hiks hiks, nikmat Allah yang manakah yang engkau dustakan?

Ketika bangun, saya kembali menemukan suami saya tertidur pulas kelelahan. Saya menguatkan diri untuk mengecek terjemahan saya yang terbengkalai. Hihihi, lucu kalo ngeliat bahasa Inggris suami. Acak-acakan tapi menghibur lah. Yang bikin stres, editor jaman sekarang itu males banget bikin one page activity. Semua halaman dibikn two pages activity, dengan details yang lumayan bikin mata njelimet. Jaman saya baru masuk dulu, saya benar-benar ditempa untuk bagaimana membuat naskah yang baik. Bahkan sampe dibawain indikator dan sasaran pembelajaran, agar bener-bener nyampe ke anak usia TK. Saya bukannya gak mau ngerjain terjemahan itu, tapi saya ragu, apa penerbit asli majalah ini gak siwer matanya kalo banyak detail yang gak jelas begini. Di tengah saya bersuhu badan tinggi, saya menulis di twitter: “Terkutuklah Tom and Jerry!” (bukan nama majalah sebenarnya). Setelah menulis itu di twitter, saya merasa puas karena itu sepadan dengan weekend saya yang terbuang sia-sia karena harus mengerjakan terjemahan itu, dan dengan kondisi badan saya yang gak enak. 

Semakin menuju ke halaman akhir itu majalah, saya benar-benar tidak melihat perubahan tentang detail yang ada. Sangat berantakan dan membingungkan! Saya gelisah, anak saya di dalem perut pun gak bisa berhenti bergerak. Kembali saya menulis: “ Kalo ngerjainnya udah nyusain orang begini pasti produknya gak laku khan khan khan? Amin!”. It was refer to nyuruh orang lain yang juga kerja on weekdays, di weekend, sementara yang ngasi kerjaan enak-enakan tidur atau jalan-jalan, emang enak? Memang enak! Untung saya masih mengangap mantan kantor saya, dan mencintai pekerjaan itu. Saya hanya sebal karena tidak bisa ask a request or even ngasi pendapat tentang pekerjaan itu. Hhh, sebel!

Saya mengerjakan dari setelah sholat dzuhur sampe menjelang maghrib. Suami saya mungkin sudah bermimpi mengelilingi dunia saking nyenyak tidur karena kelelahan. Tiba-tiba saya eneg, dan ingiiiiiiin sekali menyeduh shabu-shabu di Hanamasa. Sekali lagi, saya men-tweet di Twitter: “Kepengen banget shabu-shabu Hanamasa. Ada yang dicelupin juga kepalanya?”. Saya gak ada maksud tertentu mengenai twit saya ini. Semua orang tokh bisa menulis seperti ini juga khan? Kurang kerjaan aja sih menurut saya kalo ada yang ngerasa ;)

Yang saya lakukan ini adalah imbas dari kejadian hari Selasa lalu. Sambil menunggu pekerjaan (yang sayangnya jatuh di hari libur nasional), saya sempatkan untuk membuka Twitter dan facebook, untuk membuang waktu. Saya melihat twit dari seorang teman saya di kantor terdahulu, yang me-mention mantan mbabos saya. Saya tergelitik untuk membuka akun twitter mbabos saya, yang sengaja saya block demi kebaikan semua. Lagi, saya tergelitik untuk membuka akun blog-nya yang tercantum di bio twitter-nya. Saya agak terkejut, ketika membaca postingan terbaru yang dibuatnya tangal 3 Maret 2012. Dia menyebutkan tentang seseorang yang lagi-lagi memposting hal-hal yang tidak baik di jejaring twitter. Saya spontan langsung melihat ke history akun Twitter saya di tanggal yang sama. Ya, saya sudah mengira, bahwa seseorang yang mbabos saya di Twitter itu kemungkinan besar saya. Serta merta, saya flashback di tanggal itu, dan mengingat postingan twit di beberapa akun twitter milik teman saya di kantor terdahulu, dan kegiatan saya di tanggal itu. Saya mengingat jelas kejadian di tanggal itu, yang saya sudah sebutkan tadi bahwa saya sedang dalam kondisi badan yang tidak sehat. Bukan suudzon ataupun menuduh, saya langsung mendapat 2 nama, sebut saja si wanita X dan si laki-laki Y. Ada twit mereka di tanggal-tanggal tersebut yang sedikit menyinggung ucapan saya di akun twitter pribadi saya. Kurang kerjaan.

Saya ingin mengutip kembali sebuah posting-an di ILoveAllah.com. Kutipan itu berbunyi: “ Remember that life is a test. We will be tested by Allah SWT in matters that require Sabr (patience) and Shukr (gratitude)”. Semenjak hamil, saya banyak menerima cobaan, baik itu dari orang (manusia) maupun dari hal pekerjaan. Saya ingat, i decided to walk at my own path. Mencari kebahagiaan dengan cara saya sendiri, walau jika orang lain melakukan itu belum tentu kuat dan mudah. Saya tau resikonya ketika saya memutuskan untuk pindah pekerjaan. Saya akan kehilangan dunia indah saya bersama teman-teman sepenanggungan di kantor dulu. Saya akan meninggalkan kebiasaan sehari-hari saya, dan bahkan komputer yang sehari-harinya menamani saya. Sungguh. Bahkan saya sempat mem-posting blog terakhir saya dengan komputer pegangan saya itu. Rasanya? Luar biasa sedih! Cuma saya berpikir, hidup itu pilihan. Kalo gak dari kita yang milih dan nyari kebahagiaan macam mana, lalu siapa lagi? 

Sudah ‘lagu lama’ saya tidak akur dengan mantan mbabos saya. Di mata saya, mbabos saya itu sebenarnya baik, namun misterius. Agak misterius sih lebih tepatnya, soalnya dia susah percaya dengan seseorang. Dia harus yakiiiiin sekali dengan dirinya, baru bisa mempercayai orang lain. Dia juga hobi memposisikan dirinya ketika berteman. Cara berteman dia dengan si A, mungkin agak berbeda ketika ia berteman dengan si B. Yang lebih gak manusiawi lai, dia entah lupa atau tidak bisa menghargai pekerjaan yang dilakukan anak buahnya, dia mungkin bisa menghargai atau memuji pekerjaan yang dilakukan oleh sahabatnya, tapi tidak ke saya. Apa kabar ketika saya ‘dilaknat’ untuk menjadi MC di setiap acara? Apa kabar ketika saya harus in charge pada suatu pekerjaan ketika dia ‘dinobatkan’ untuk menjadi koordinator editor? Apa kabar ketika saya menikah, dan saya sudah memberi tahunya bahkan ketika H-6 bulan, dia malah secara (ngakunya) tidak sengaja memesan tiket ke Bali untuk liburan? Apa kabar ketika saya memilih untuk gigit jari ketika (bahkan) dia bisa datang ke pernikahan teman-teman seangkatan saya, tapi TIDAK ke anak buahnya sendiri? Apa kabar ketika dia bisa memaklumi teman-teman sejawatnya ketika berbuat salah, tetapi TIDAk kepada saya? Apa kabar ketika dia meminta saya untuk lembur di H-1 saya resign? Blah, ini hanya sekian dari sikap dia ke saya ya, masih banyak yang lainnya, yang bahkan membuat saya menangis tiap kali pulang ke rumah. Makan hati? Iya!

Walau begitu, sesungguhnya saya sangat menghormati dia. Dia tidak melarang saya berkomunikasi lo-gue dengannya. Saya bahkan sempat mengirim kue untuk kado natal dia. Saya selalu berharap dia akan jauh lebih baik kepada saya, esok-esok harinya, saat saya menjalani hari-hari saya di kantor terdahulu. Bahkan, saya hanya berharap sedikit, agar dia bisa memaklumi saya yang sudah menikah dan sedang mengandung, seperti dia memaklumi sahabat-sahabatnya yang sedang mengandung juga. Susah sih, ah yasudahlah.

Anyway, sampe sekarang saya gak tau sih siapa yang memberi tau mbabos sampe dia tau, atau mungkin dia melihat sendiri, iseng seperti saya. Walau begitu, jujur saya tersinggung dengan isi blog pernyataannya. Dia menggunakan ayat alkitab untuk membuktikan dan merasa bahwa dirinya benar serta bebas masalah. Lalu, buat apa dia menyerang perbuatan saya di twitter dan malah menuliskan di blog? Bukannya itu contoh pengecut? Blog becomes social network then... I see. 

Negara ini negara bebas. Semenjak Soeharto lengser dan kementerian pimpinan Harmoko ditiadakan, rakyat Indonesia justru semakin bebas mengutarakan pendapat. Janganlah selalu merasa bahwa orang di usia jauh di bawahmu anak kecil, jangan selalu merasa dan bilang "gak usah sok dewasa deh lo" ke orang yang mungkin ternyta benar pendapatnya. Janganlah menaruh curiga dan merasa bahwa dirimu yang dipermasalahkan ya. Saya bahkan bodo amat dan tidak menaruh curiga dengan perbuatan anda selama ini. Catat dan ingat, kapan saya pernah membangkang? Jangan merasa paling hebat dengan ayat agama anda. Anda tahu, itu sudah menyangkut SARA, apalagi menganggap diri Anda paling beragama dan orang lain tidak. Selama ini bukannya anda yang mengajarkan saya, bahwa menulis berita atau tulisan harus hati-hati, takutnya menyinggung hal yang berhubungan dengan SARA. Kalo anda merasa perbuatan adalah cerminan dari sikap seseorang, anda sendiri bagaimana dengan menulis hal tidak baik melalui media-yang-bukan-jejaring sosial, sedangkan anda mencantumkannya di bio media sosial? Sama saja, bukan?

Yang adil, mulailah respect others dengan gak usah mengotak atik sampah orang dan menganggapnya sebagai sebuah ancaman, dan saya pun (akan lebih) begitu. Sekarang sudah terpampang nyata dong, bahwa anda ternyata juga memposting aneh di blog. So, simpan ayat anda. Resapi baru nyatakan. 

Enjoy your day :)

Anda sedang membaca artikel tentang FYI. dan anda bisa menemukan artikel FYI. ini dengan url https://pritasyalala.blogspot.com/2013/04/fyi.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel FYI. ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link FYI. sumbernya.

No comments:

Post a Comment