Monday, April 22, 2013

Si Kupret

Holaw!


Senin lagi. Awal minggu lagi. Still have to struggle with 5 days ahead. Semenjak hamil dan berkantor di Depok, terbukti loh segala emosi dan tenaga yang terkuras di 5 hari kerja sangat terbayar di 2 hari libur, Sabtu dan Minggu. Dengan catatan, gak ada embel-embel kondangan, temenin ke kondangan, temenin ke arisan, atau bad mood mau nge-mall yaaa... Tapi serius, saya menikmati menjadi karyawan Senin-Jumat lagi, dibalik kenistaan bahwa di 5 hari kerja tersebut, saya harus bertemu partner yang kurang lebih sama nyebelinnya dengan weekend yang ternodai dengan kondangan dkk. 

Ingat postingan saya tentang Thoughtless People? Sebutlah dia kupret, nama yang pas diberikan oleh suaminyaw. Selain umurnya yang jauh lebih tua, dia sangatla egois, tidak mau mengalah, dan seringkali pura-pura sibuk kalo dimintain bantuan. Awalnya menghadapi orang ini, eike sangatlah kenyaaaang karena banyak orang yang begini juga di kantor lama. Lama-lama, ternyata saya kesel juga. Gimana enggak, dia khan laki masa gak mau ngalah sama perempuan, hamil pula lagi! Emang kupret.

Terakhir kejadian yang saya alami minggu lalu, when I asked for his help to accompany me nempel poster seantero kampus. Saya minta tolong karena dia terlihat sedang tidak mengerjakan apa-apa. Gak ada salahnya toh, apalagi hari sebelumnya sudah janji mau membantu saya. Tidak dinyana, tidak diduga (halah), dia malah bilang mau ngeliput sambil ngeloyor pergi ke luar ke ruangan TANPA membawa kamera. What the meaning of the maksud khan ya? Setelah menunggu, dia kembali ke ruangan, dan duduk di kursinya sembari internetan lagi. Saya diamkan saja, sampai akhirnya saya gerah dan mengambil poster yang akan ditempel dan menenteng ‘peralatan perang’ yang akan saya gunakan untuk menempel poster. For making it short, setelah saya lelah berjibaku dengan berdiri-nunduk tiap akan menempel poster, dan begah di perut karena keteken tiap nunduk, saya kembali ke ruangan dan melihat si kupret tetap pada posisinya sebelum saya pergi tadi. Fuck! Rasanya pengen saya ulek mukanya saat itu juga! Tampang pura-puranya yang bloon itu loh, pengen tak eek-in. Yang saya lakukan adalah keluar ruangan, duduk si sofa depan ruangan, sambil menarik nafas dalam-dalam dan menangis.

Ketika saya ceritakan tentang hal ini, suaminyaw marah dong dong. Si kupret langsung jadi tema sore itu. Terlebih, karena sudah berhasil membuat saya menangis. Eh iya, saya tapi belum cerita si kupret menerima balasannya khan? Yap, saya berhasil (secara gak langsung) membalas perlakuan dia. Siangnya, kami ada acara pertemuan dengan mahasiswa dari pulau seberang. Saya ditunjuk sebagai MC, dan kebetulan acara baru dimulai sekitar jam 2 siang. Eh tau-tau, si tamu sudah datang dari jam 1 kurang, dan posisi saya belum makan siang. Akhirnyaaa, karena si kupret udh istirahat dari jam 11 (sekaligus soljum sik!), eike ngeloyor pergi maksi dong sama yang lain. Si kupret? Ya ngelayanin dan nyiapin sendirian dong ah, cowok khan, masa minta bantuin orang hamil belom maksi. Kecuali kalo minta digares balik :p Yaudah, saya makan no hard feeling, temen-temen pun juga begitu. Balik ke ruangan, dia udah duduk manis depan ruangan sambil nenteng kamera. Bagus deh, berarti saya tinggal rapi-rapi sedikit, semprot parfum, siap deh. Sesampainya di ruangan pertemuan, tiba-tiba dia heboh minta saya bbm partner saya yang lain untuk mengambil suatu barang yang ketinggalan. Awalnya sih ngomong: “eh prit si anu ketinggalan”. Saya sewotin aja sambil jawab: “trus??!”. Mungkin karena saya sewot dia minta saya bbm partner saya yang lain. Saya bilang aja: “Dia lagi sibuk bawa yang lain, elo sendiri aja yang ambil”. PUAS! Gak enak khan digituin. Saya mah gak mau pura-pura atau apa, mending langsung to the point. Dan bener-bener loh, saya puas liat dia kelabakan sendiri. Mamam tuh.

Nah, 2 hari libur kemarin, tiba-tiba saya kepingiiiiin sekali makan rujak abang-abang yang juga jualan buah dingin itu. Dan entah kenapa, itu abang-abang yang biasanya saya tau pangkalannya dimana aja, kayak menghilang ditelan bumi. Gak ada satu pun tukang jualan rujak yang berjualan. Saya mencarinya dari siang sampai sore pun masih aja enggak ketemu. Daripada saya kesal, akhirnya saya dan suaminyaw bergegas ke Carrefour untuk membeli bahan rujak-rujakan. Sambelnya? Ngulek sendiri ajah, walaupun pada prakteknya si gula jawa dan terasi sukses membuat saya yang gagal senam hamil jadi ‘senam’ beneran karena bolak-balik dapur-ruang makan. 

Dari kejadian si kupret dan rujak, tadi pagi suaminyaw tiba-tiba bicara sesuatu:
“Segala sesuatunya, aku percaya kok kamu mampu ngatasin sendiri. Bahkan sampe hal sepele pun, rujak. Aku nyari gak ketemu, kita berdua nyari juga gak ketemu, akhirnya kita bisa bikin sendiri, dari mulai beli buah sampe ngulek sambelnya. Bahkan aku gak bantuin kamu ngulek dan ngerjain apapun itu. Nah, kembali ke si kupret, aku yakin kamu lebih bisa ngatasinnya. Berbekal hal-hal sepele yang bisa kamu atasin sendiri, jadi kamu yakin aja dan jangan pernah bergantung orang lain untuk hal yang paling gak mampu kamu kerjain sendirian. Aku yakin dan percaya kamu bisa.”

Wow suaminyaw... percaya diri saya langsung menukik setinggi langit. Yang biasanya saya berangkat ke kantor dengan perasaan was was, dan malas, tadi saya niatkan dengan doa yang berbunyi: “Semoga hari ini jauuuh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Jauhkan saya dari orang-orang egois, gak mau ngalah dan sering pura-pura ya Tuhan”. Dan voila, saya jauh lebih siap menghadapi hari ini dan hari-hari selanjutnya, dengan muka-masa-bodoh menghadapi si Tuan Kupret yang nyebelin itu. Bantu Ndatie ya adek bayyi :*

Anda sedang membaca artikel tentang Si Kupret dan anda bisa menemukan artikel Si Kupret ini dengan url https://pritasyalala.blogspot.com/2013/04/si-kupret.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Si Kupret ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Si Kupret sumbernya.

No comments:

Post a Comment