Friday, April 12, 2013

tangan suami

Semenjak menikah, kebiasaan bermanja pada suami selain halal makin bertambah intensitasnya. Apalagi setelah hamil, terkadang saya bisa seharian bermanjaan dengan suami ketika weekend tiba. 

Hamil anak pertama ini ternyata berat di awalnya. Saya punya maag, dan mengalami bad morning sickness hingga bulan kelima kehamilan. Samapi sekarang sih masih suka mual, tapi paling hanya 2 minggu sekali paling sering kalau muntah. Saya akui, di trimester kedua akhir ini saya baru merasakan nikmatnya mengandung. Di luar badan melebar, perut membuncit, saya bisa leluasa makan, walau terkadang masih aja suka gak cocok sama menu yang ada di rumah. Maklum, masih menetap di Pondok Indah Mertua. jadi terkadang kabur ke rumah orangtua minta makan, atau beli sekalian di luar setelah pulang dari kantor. Hehehe, option terakhir ini yang menghasilkan dompet kempes sebelum hari gajian tiba.

I'm not picky eater, though. Tapi seringkali terkadang ketika saya merasa capek namun lapar, dan melihat isi meja makan, saya urung untuk makan karena lauknya tidak cocok. Ketika ditanya suami mau makan apa, saya selalu menggeleng. Ya kelakuan ibu hamil cenderung absurd sih. Ditanya mau makan apa, saya menggeleng atau bilang "kamu sebutin jajanan apa aja deh yang enak". Udah disebutin macem-macem, lagi-lagi saya menggeleng. Lebih enak menenggelamkan muka ke dalam bantal dan langsung tidur saja. Si suamiw siaga makin bingung jadinya. Karena dia lebih khawatir sama jabang bayi yang di dalem, dan juga saya yang gamau makan. 

Hal ini semakin menjadi waktu saya baru resign dari kantor lama. Saya menghabiskan waktu m\ngendon dalam kamar selama 2 minggu. karena rasa malaaass yang teramat setelah hamil, untuk mengambil makan di bawah saja saya bahkan harus menelepon suami di kantor. Untuuung kantornya deket, kalo jauh? -___________- Gak jarang saya makan siang setelah dia pulang kantor jam 4-nya. Pasti, si suamiw membawa buah tangan, berupa makanan penambah selera. Ternyata saya tetap juga tidak mau makan. Gak tau darimana datangnya si ide, si suami alhasil memakan makanan buat saya (waktu itu ayam bakar Ortega yang terkenal enak itu looh...) dengan tangan telanjang. Ketika melihat dia makan, kok rasanya enaaak banget. Dia menawarkan untuk menyuapi saya dengan sendok, tapi saya gak mau. Saya mau dengan tangan telanjangnya dia. Daaan...berhasil! Sekali suap, saya masih mencerna rasa ayam bakar itu. Suapan kedua saya mulai tertarik dengan rasanya, dan kemudian ingin merasakan suapan-suapan berikutnya. Tangan suaminyaaaw ternyata kuncinya.



Hal gak cocok mamam ini sudah sering berlangsung, sampai beberapa hari lalu. Kata suamiw, di rumah ada sate ayam. Saya membayangkan bau sate baru matang yang dimakan dengan nasi panas. Hmm, pasti enak. Ternyata, sate ayamnya adalah lauk dari kotak nasi pengajian majelis taklim ibu mertua. Jeng jeeeeng... Udah anyep bin agak kecyuut bumbunya +___+ Langsung mual, dan 'ngambek' gamau makan. Mau dibeliin sate fresh pun udah gak minat. Akhirnya suamiw siaga bilang, ada tempe penyet. yaah, daripada gak makan. Akhirnya nasi plus tempe penyet plus tangan telanjang suami berhasil mengembalikan mood makan saya. Horeee...

How can I live without 'em, ya? ;)



Anda sedang membaca artikel tentang tangan suami dan anda bisa menemukan artikel tangan suami ini dengan url https://pritasyalala.blogspot.com/2013/04/tangan-suami.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel tangan suami ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link tangan suami sumbernya.

No comments:

Post a Comment