Thursday, December 22, 2011

reinkarnasi

Kemarin pas pulang kantor, saya dan pacar iseng-iseng ngobrolin hidup. Kehidupan lebih tepatnya. Saking kelewat iseng, pacar nanya sesuatu yang bikin saya mikir, gak lama sih mikirnya, tapi langsung yakin dengan jawaban yang saya kasih.

Pertanyaan dia: “kalau kamu dikasih kesempatan untuk milih mau jadi siapa, atau bahasa kerennya ada 'reinkarnasi', kamu mau jadi apa?”

Well, it was such a crazy question. Saya diam seketika buat mencerna pertanyaan yang singkat namun dalam itu. Sampai akhirnya, saya lantang menjawab:

Satu, aku mending milih akunya gak ada.

Dua, kalau memang ada, aku tetap mau jadi diriku sendiri, beserta kekurangan dan kelebihan yang ada.

Tiga, gak kebayang punya orangtua lain selain Bapak-Ibu di rumah. Semua orangtua itu hebat. Tapi buat aku, yang paling terhebat adalah mereka.

Tiga jawaban pasti yang saya kasih soal reinkarnasi. 

Kalau kalian, gimana? ;)

Monday, November 7, 2011

I Need You

By LeAnn Rimes

I don’t need a lot of things
I can get by with nothing
Of all the blessings life can bring
I’ve always needed something
But I’ve got all I want
When it comes to loving you
You’re my only reason
You’re my only truth

I need you like water
Like breath, like rain
I need you like mercy
From heaven’s gate
There’s a freedom in your arms
That carries me through
I need you

You’re the hope that moves me
To courage again
You’re the love that rescues me
When the cold winds, rage
And it’s so amazing
’cause that’s just how you are
And I can’t turn back now
’cause you’ve brought me too far

I need you like water
Like breath, like rain
I need you like mercy
From heaven’s gate
There’s a freedom in your arms
That carries me through
I need you
Oh yes I do

I need you like water
Like breath, like rain
I need you like mercy
From heaven’s gate
There’s a freedom in your arms
That carries me through
I need you
Oh yes I do
I need you
I need you


Friday, September 2, 2011

rindu Mbah Putri

Selamat Sore!
Sebelumnya, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin untuk segala kesalahan. Selamat Lebaran teman-teman...

Pas lagi baca tweet seorang kawan mengenai mudik, tiba-tiba saya teringat dengan mendiang Mbah Putri. Mungkin saya akan sedikit bercerita tentang beliau untuk sejenak mengobati kerinduan saya terhadap ia.

Mbah Putri saya terlahir dengan nama Walimah. Karena menikahh dengan Mbah Kung saya, yang bernama Atmosubagio, maka beliau lebih terkenal dengan sebutan Bu Bag (dari kata Bagio). Seperti mbah=mbah pada umumnya, beliau sangat mencintai cucu-cucunya. Terlebih karena saya adalah cucu pertama yang sudah ia nantikan selaa 7 tahun, dan perempuan satu-satunya diantara 3 cucu laki-laki lainnya. Ibu saya sendiri adalah anak tertua dari 3 bersaudara, yang kesemuanya adalah perempuan.

Menurut cerita ibu saya, Mbah Putri dulu berasal dari Kota Gede, Yogyakarta. Setelah dinikahi Mbah Kung, Mbah Putri menetap di Kauman, Solo sampai dengan akhir hayatnya. Beliau dulu adalah seorang pedagang batik yang cukup sukses. Dengan mempunyai pabrik sendiri di rumah, Mbah Kung dan Mbah Putri merupakan pedagang batik yang cukup terpandang. Setiap bulannya, Mbah Putri selalu mengantar batik dagangannya ke Yogyakarta. Bahkan sampai beliau mempunyai cucu, beberapa kali Mbah Putri masih kuat untuk mengirim dagangan ke Daerah Istimewa tersebut.

Dulu, saya sempat tidak suka dengan Mbah Putri. Hmm, maklumlah, pikiran anak kecil. Yang namanya mbah-mbah itu khan mempunyai aroma yang sudah khas, seperti hmm..ya pokoknya bau mbah-mbah gitu deh! Hehehe... Beliau sangat suka menciumi cucu-cucunya setiap pulang kampung. Dan kami, para keempat cucunya, paling jengah kalau dicium oleh beliau dulu. Lucu kalau diingat sekarang.

Saya sebenarnya suka dekat dengan beliau. Jikalau beliau ada waktu senggang, saya suka diajak tidur siang bersama dan didongengi. Dongengnya bukan legenda, atau cerita rakyat, tapi tentang kisah ibu atau tante-tante saya semasa mereka kecil. Selain itu, setiap kali beliau selesai mandi, saya ingat sekali detail apa yang beliau perbuat. Mbah Putri akan membuka cepolan rambutnya (rambutnya sampai akhir hayat beliau panjangnya sekita sepantat), menyisirnya dengan rapi, jika ada yang rontok beliau akan kumpulkan untuk dijadikan konde/ gelungan (ini serius, Mbah punya sekitar 10 buah konde dari rambutnya). Setelah selesai dengan rambut, beliau akan memakai body lotion Vaseline dengan aroma lidah buaya. Sampai searang pun, untuk mengenang beliay saya pun menggunakan body lotion yang sama.

Sebelum naik haji di tahun 1995, dalam kesehariannya Mbah Putri mengenakan kain jarik, kebaya brokat/ yang berbahan tembus pandang, dan stagen. Khusus stagen beliau hanya melepasnya saat mandi, dan sesaat sebelum tidur. Setelah naik haji, Mbah putri mulai belajar untuk mengenakan daster panjang.

Kebiasaan Mbah Putri yang lain adalah, tidak bisa mendengar atau tenang kalau ada salah seorang cucunya yang sakit. Suatu kali sat saya SMP, saya pernah dirawat untuk pertama kalinya di RS karena DBD dan tifus. Kedua penyakit itu sempat membawa saya ke demam berderajat lebih dari 40 derajat, dan tranfusi darah. Karena ibu saya sudah panik menemani saya, beliau sengaja tidak menelpon atau memberi kabar Mbah Putri tentang penyakit saya. Entah mendapat kabar dari siapa, beliau akhirnya mengetahui kalau saya sakit, dan langsung bergegas menuju Depok ditemani oleh pembantu kami disana untuk menemui saya. Saat beliau sampai Depok, kebetulan saya sudah pulang. Saat itu bekas suatu suntikan yang letaknya di pantat saya, tiba-tiba berubah menjadi berwarna biru, namun tidak sakit. Karena tidak enak dipandang, akhirnya Mbah Putri dengan telatennya memijat pantat saya itu sambil membisikkan banyak doa, sampai saya tertidur. Ketika bangun, ibu saya sempat guyon dengan berkata "wah idhu (ludah) Mbah sakti, bikin biru di pantatmu ilang loh!". Pas saya cek, memang benar warna biru di pantat saya sudah memudar. Agak kaget juga kalau memang benar itu pijitan tersebut menggunakan ludah. Tapi kalau disuruh memilih, saya rela dipijit dengan ludah saktinya asala beliau ada selalu disini setiap saya sakit.

22 April 2004
Saya sudah tidak mau sebenarnya untuk mengingat-ingat tanggal tersebut. Tanggal tersebut sudah merampas Mbah Putri dari hidup kami, dan memunculkan trauma di diri saya terhadap sirine mobil jenazah. Tepat sehari sebelum kepergiannya, pagi harinya Mbah Putri menelepon ibu. Tidak biasa-biasanya beliau menelepon, karena biasanya ibu saya yang menelepon beliau setiap minggu untuk menanyakan kabar. Beliau menanyakan kabar kami, saya dan adik, sekolah kami, dan kesehatan kami sekeluarga. Tidak ada firasat apa-apa kata ibu saya waktu itu, karena telepin tersebut memang murni karena Mbah Putri kangen dengan cucunya. Sorenya, saya mendapat telepn dari adik sepupu saya, Arsa. Arsa bercerita pada ibu kalau Mbah Putri baru saja menelepon. Beliau juga mengobrol dengan kedua adik sepupu saya, dan bercerita bahwa beliau tidak nafsu makan dan berniat untuk makan sup hangat saja malam itu. Tetap tidak ada firasat apa-apa.
Keeskan harinya, saat itu ibu baru membangunkan kami untuk bersiap ke sekolah. Biasanya saya (yang waktu itu kelas 2 SMA) yang terlebih dahulu dibangunkan, baru adik saya. Setelah membangunkan saya, ibu bergegas ke kamar adik saya. Saat itu telepin berbunyi, sekitar pukul 06.00 pagi. Ibu hanya berkata: "sopo kuwi (siapa itu ya)?". Setelah diangkat beliau langsung terlibat dengan percakapan bahasa Jawa dengan seorang saudara kami seperti ini kira-kira di dalam bahasa Indonesia:
Ibu: Oiyo lik, ono opo?
Saudara di Solo: Kus (panggilan ibu saya), Ibumu sakit. Cepat pulang. Dibangunin dari Subuh tadi gak bangun-bangun. Gimana ya?
Ibu: (sambil nangis)yaudah lik, dibawa ke rumah sakit sekarang, aku langsung cari tiket pulang ke Solo hari ini juga.

Kemudian telepon dimatikan. Dan ibu saya histeris. Saya yang sudah bangun cuma dibentak saat menanyakan kenapa dengan Mbah Putri. Ibu saya yang berniat baru akan ke Solo sorenya, disuruh bapak saya untuk naik kereta atau pesawat saja secepatnya. Untuk lebih meyakinkan lagi, ibu saya disuruh baak untuk memantau perkembangan Mbah Putri dengan menelepon orang yang menunggui Mbah Putri di rumah Solo. Percakapan yang saya dengar begitu cepat, dan saya hanya bisa ibu saya histeris dan berteriak "innalillahi". Innalillai wa innailaihi ro'jiun.. Allah membawa 'pulang' Mbah Putri kami ke haribaan-Nya dalam tidur beliau. Beberapa waktu sebelum beliau berpulang, Mbah Putri minta dibantu oleh salah seorang tetangga kami yang kurang mampu, untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Setelah pembantu rumah tangga di Solo meninggal, otomatis Mbah Putri hidup sendiri. Dan si Mbak ini yang membuat ibu histeris dengan mengabarkan Mbah Putri sudah tidak ada.
Ibu: Mbak, gimana Bu Bag? Jadi dibawa ke rumah sakit?
Mbak: nyuwun pangapunten, mohon maf Den Kus, Bu Bag sampun mboten enten (sudah tidak ada)
Ibu: astaghfirullah, Innalillahi...aku mulih yo Mbak...

Saat itu di pikiran saya terlintas pertemuan terakhir dengan Mbah Putri di bulan Januari 2004, dimana saya tidak pernah sekalipun melihat beliau melambaikan tangan ketika kami pulang ke jakarta, tapi saat itu beliau melambaikan tangannya, seolah memberi pesan "selamat tinggal".
Tidak ada lagi yang mengumpulkan koin seratus dan 500-an untuk dibagikan ke kaum papa saat lebaran.
Tidak ada lagi pemandangan ketika beliau menyisir rambutnya yang panjang.
Tidak ada lagi pemandangan beliau ketika mengusapkan lotion vaseline lidah buaya ke penjuru tubuhnya.
Tidak ada lagi orang yang biasa kami marahi kalau beiau mulai melakukan pekerjaan rumah tangga yang lumayan berat seperti mencuci.
Tidak ada lagi yang mengusap dan mendingengi saya sampai tertidur di kala sakit.
Tidak ada lagi yang memanggil nama saya dengan "pritiprit" atau adik saya dengan "njedidit" (nama adik saya Adiet).
Tidak ada lagi...

Saya dulu percaya dengan adanya pernyataan "tidak ada yang namanya suatu kebetulan". Namun saat mau berangkat ke Solo dengan menggunakan pesawat, di luar dugaan berbarengan dengan Kongres Golkar yang juga diadakan di Solo, dan dapat ditebak, tidak ada tiket pesawat apapun yang bisa langsung berangkat ke Solo. Ahasil kami harus menunggu selama 7 jam, dan sekitar jam 16.00 baru bisa berangkat. Wallahualam, mungkin memang Allah punya suatu rencana...

Setelah beberapa waktu menginjakkan kaki di tanah Solo, di sepanjang jalan rumah kami, berjejer rapi karangan dan rangkaian bunga tanda duka cita dari berbagai kerabat. saat itu waktu sudah menunjukkan selespas Maghrib, Rasa haru, kesal, sedih, lelah membaur jadi satu, dan kami hanya bisa tertegun bingung. Mungkin karena sudah lelah menangis seanjang perjalanan, kami memutuskan untuk mengajikan jenazah Mbah Putri dengan bacaan Yasin.

Subhanallah, beliau masih hangat. Walau saya tahu sudah sekitar 12 jam lebih meninggal, rupa Mbah Putri seperti halnya orang tertidur pulas, dan tidak mau diganggu. Entah kenapa, yang keluar dari mulut bukanlah kesedihan tapi saya tersenyum. Saya yakin beliau khusnul khotimah, dari wajahnya yang tenang. Insya Allah.

Keesokan harinya, kami emutuskan untuk menguburkan beliau. Ya, lebih dari 24 jam kami biarkan beliau dan kami berada dalam satu atap di rumah yang penuh kenangan. Saya mengikuti prosesi dari memandikan, mengkafani. Sayang sekali, saya tidak sempat menshalatkan Mbah, karena ada kendala. Yang paling menyedihkan adalah ketika saya, ibu dan tante-tante saya ditaruh di rombongan paling belakang menuju pemakaman. Menurut adat jawa, para permepuan lebih baik disusulkan saja, demi tercipanya ketenangan saat pemakaman. Yang saya rasa itu gundah, gundah sekali, Saya ingin melihat Mbah Putri dimakamkan, saya ingin sekali memastikan kalau Mbah Putri merasakan bahwa dia sudah tenang dalam rangkulan anak-cucunya. Mulai detik itu, saya mulai merasakan trauma menggila terhadap mobil ambulans, terlebih mobil jenazah. Setiap melihat ambulans, dan mendengar sirine-nya, saya selalu melihat di dalam itu Mbah Putri dan saya tidak mau melihat beliau ada di dalam sana dengan sirine yang bunyinya memekakkan. Saya tidak mau...




Buat Mbah Putri...
Prita kangen, Mbah.
Mohon doa restu, maaf lahir batin ya Mbah.
Disana ada lebaran gak sih mbah? Pasti kue kacang, aqua gelas dan teh kotak kecil melimpah ruah ya disana Mbah?
Sampai ketemu ya Mbah, nanti kalau ketemu Pita mau dipijit lagi dan didongengi...

"Jaga Mbah Putri aku ya, Ya Allah..."


Sunday, July 31, 2011

Nostalgia Tarawih

Beberapa tahun terakhir, saya sudah tidak menjalankan Tarawih di mesjid. Saya lebih suka Tarawih di rumah, karena bisa berbarengan dengan keluarga. Puasa 2 tahun terakhir ini, menurut saya paling berkesan di antara puasa tahun-tahun sebelumnya. Mengingat, di tahun 2009, 3 bulan sebelum puasa Bapak saya mengalami kecelakaan di rumah. Bapak terpeleset di depan kamar mandi, yang mengakibatkan beliau tidak bisa berdiri dan berjalan, karena mengalami ganguan di syaraf pinggang. Imbas dari itu semua, hingga Ramadhan tiba,Bapak saya masih harus berjalan dengan tongkat, mandi dengan posisi duduk, bahkan sholat pun dikerjakan dengan duduk. Kami yang selalu menunaikan Ttarawih berjamaah di rumah, sempat khawatir, apa bisa menjalankan sholat Tarawih bersama-sama, mengingat keadaan Bapak seperti itu. Dan, Bapak tidak habis ide dengan beliau tetap jadi imam walau harus duduk di bangku, dan dengan lantang memimpin sholat tarawih berjamaah selama 1 bulan penuh puasa. Alhamdulillah...

Tahun lalu, puasa tahun 2010, sambil duduk-duduk santai menunggu anggota keluarga ambil giliran wudhu untuk sholat Tarawih, tiba-tiba Bapak terkenang.

Bapak: Gak kerasa ya Mbak (Bapak memang selalu memanggil saya Mbak)
Saya: kerasa apa?
Bapak: Gak kerasa udah setahun puasa...
Saya: Lah emang, ada apa sih Pak?
Bapak: tahun lalu khan Bapak sholatnya sambil duduk tapi tetep jadi imam.
Saya: Oh..Bapak gitu, kereeeen.

Jujur, kala itu saya takut. Saya cuma bisa berdoa, tahun depan Bapak memimpin shlat Tarawih kami lagi.

Dan benar, hari ini malam pertama Tarawih. Saya rindu Bapak berbicara seperti Tarawih tahun lalu, dimana beliau terharu karena tidak terasa sudah melewati masa-masa sulit karena tidak bisa beraktivitas. Saya tidak mau mengingatkan, karena saya tahu itu adalah jatah Bapak untuk nostalgia dengan masa harunya.

Jika ditanya apa yang saya rindukan ketika Ramadhan, cuma satu: rindu mendengar lantunan suara bapak menjadi imam kala Tarawih.

Jika ditanya doa apa yang saya minta tiap Ramadhan, cuma satu: agar Allah selalu tetap memberikan nikmat sehat agar saya sekeluarga selalu bisa mendengar Bapak memimpin sholat Tarawih berjamaah di rumah.



Amin, Amin, Ya Robbal 'Alamiin.





Selamat Tarawih :)

Tuesday, July 5, 2011

Coba Katakan

yang kuinginkan
satu tujuan

sebuah kenyataan
bukan impian

bukan harapan
bukan alasan

satu kepastian
coba katakan...coba katakan...coba katakan



*Maliq n d'essentials

Wednesday, April 6, 2011

Ayam Beneran vs. Ayam Bohongan

Sore!
Baru nyadar tiap kali nge-blog pasti sore-sore gitu. Hihihi. Anyway, sambil nunggu Mister Gendut pulang kantor, jadi inget ada kejadian kocak yang pengen diceritain.

Jadi pas weekend beberapa minggu yang lalu, pagi-pagi Mas Pujo udah standby di rumah. Waktu itu kita mau ke Bogor. Sambil nungguin gw yang msih beberes alias dandan, dia baca koran. Namanya juga tinggal di komplek, tiap pagi ada aja orang yang jualan. mulai dari sarapan macem buryam, ketoprak, lonsay; ada juga masakan; dan 'ayam beneran'.

Pasti bingung?

jadi pas Mas Pujo nungguin gw, ada tukang jualan 'ayam beneran' lewat depan rumah. Setelah gw selesai beberes, dengan polos dia nanya gw.

Him: Apa sih itu ayam beneran? emang ada ayam boongan?
Dan gw spontan ketawa.

jadi itu ada awal ceritanya kenapa akhirnya si abang 'ayam beneran' ngomong begitu. Alkisah, nyokap gw tertarik buat beli ayam itu. Biasa...dikomporin sama tetangga. jadi nih tukang jualan ayam yang udah diungkep bumbu kuning, dan tinggal digoreng aja.

Pas nyokap gw beli, ngeliat ayamnya kebetulan pas kecil-kecil. Otomatis nyokap nanya:
"bang ini ayamnya beneran bukan sih? ayam apa burung? Burung kok dijual"

Spontan dong abangnya ngira nyokap guyon, apalagi mempermasalahin burung yang entah dianggap apa ya sama si abang. Semenjak itu tiap abang 'ayam beneran' lewat depan rumah gw (terutama), pasti dia tereak : "ayaaaaaam ,ayam beneran", plus pake logat jawa medok.

dan itu gw ceritain ke Mas Pujo, di depan nyokap gw yang juga ngakak, dan dia jadi males tiap kali si abang beneran eh si tukang 'ayam beneran' itu lewat depan rumah gw, sambil bilang: "ayam boongaaaaan".


Sekian :)

Tuesday, March 29, 2011

tumben-tumbenan

Tumben-tumbenan, Mas Pujo mau diajak chatting. Biasanya enggak sama sekali. dan setelah kita ngobrol ngalor ngidul, bercanda, minta tolong donlotin lagu, Mas pujo tiba-tiba nulis begini:

"Mas Iput (baca: panggilan dia di rumah) sayang banget sama kamu...kerasa nggak?"


Huwaaaaa....pengen senyum sampe kuping...pengen meleleh kayak eskrim.


Sekian.

Saturday, March 12, 2011

5 things I loved recently...

  1. Feast Vanilla
  2. Novel-novel Ika Natassa
  3. anything in Tosca
  4. Minyak Angin Safe Care
  5. having 3 and a half years up and down relationship with My Pujo.

Thursday, March 10, 2011

Kualitas Seorang Anak Tergantung dari Orangtuanya...

Sore!
Sedang asik otak-atik Facebook, saya mendapat sebuah notifikasi bahwa saya telah di-tagged pada sebuah notes salah seorang teman saya. Namanya Windy. Seorang wanita sepantaran saya, yang sedang mengandung 8 bulan. Sekedar membagi ilmu dan informasi , berikut kutipan notes dari Windy, yang membuat saya terperangah karenasaking bagusnya. Cekidot gaaan... :D

Banyak yang mengatakan, manusia berasal dari diri yang 1. Ada yang menafsirkan yang 1 itu adalah Adam AS, namun ada pula yang mengatakan bahwa yang 1 itu adalah sel sperma+sel telur yang melebur pada tahap pembuahan. Namun apapun penafsiran orang, ada satu hal penting yang kadang atau bahkan tidak pernah masuk ke dalam pemikiran kita selama ini, perjalanan panjang sang sel sehingga terbentuk menjadi manusia dan hidup sampai akhir hayat.

Perjalanan itu berawal dari sesuatu yang dianggap sepele atau konvensional, pemilihan pasangan, terutama untuk wanita. Kualitas seorang anak akan ditentukan oleh kualitas sperma sang ayah. Kualitas sperma ayah tergantung dari kebiasaannya (makanan yg dimakan, minuman yg diminum, kebiasaan merokok atau tidak, kebiasaan minumminuman keras atau tidak). Jika si calon ayah memiliki kebiasaan yang baik, kualitas spermanya insyaallah akan terjamin, dan sebaliknya, jika si calon ayah memiliki kebiasaan yang buruk, maka dapat dipastikan kualitas spermanya seperti apa.

Setelah memilih pasangan dengan kualitas yang baik, yang berarti kita juga harus baik, yang mempengaruhi perjalanan selanjutnya sebuah sel sehingga bisa menjadi anak yang unggul adalah kombinasi gen ayah dan ibu.

Rumusnya:
++ bertemu ++ = anak canggih
++ bertemu -- = anak beberapa masalah
-- bertemu -- = anak banyak masalah
+- bertemu +- = anak standar

Maksudnya:
  • Jika gen paling bagus dari ayah bertemu dengan gen paling bagus dari ibu maka akan menghasilkan anak canggih (cerdas dan sedikit sekali masalah dlm hidupnya)
  • Jika gen paling bagus dari ayah/ibu bertemu dengan gen paling jelek dari ibu/ayah maka akan menghasilkan anak dengan beberapa masalah
  • Jika gen paling jelek dari ibu bertemu dengan gen paling jelek dari ayah maka akan menghasilkan anak dengan banyak sekali masalah dan tidak cerdas
  • Jika gen standar dari ibu bertemu dengan gen standar dari ayah maka akan menghasilkan anak standar, tdk banyak masalah, tapi juga tidak cerdas
Kombinasi gen ini adalah hak penuh milik Allah, Allah yang menentukan akan diberi gen yang apa dan apa. Kita sebagai calon ibu dan calon ayah hanya bisa berdoa, terutama (maaf) sebelum melakukan hubungan pasutri.

Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah status gizi. Setelah yakin sang ayah memiliki kebiasaan yang baik, masih tetap perlu dipertahankan kebiasaan itu sampai setelah menikah. 72 jam (3 hari) sebelum kehamilan, apa yang calon ayah makan, minum, dan kebiasaan lainnya akan menentukan kualitas spermanya. Jika ia banyak makan junk food, minum minuman ringan berpengawet, merokok maka kualitas spermanya tidak bagus, semua bahan2 pengawet dan racun lainnya akan terbawa ke dalam sperma dan akan terbawa kepada bakal anak nanti.

Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah perlakuan dan gizi sang ibu selama hamil. Pada saat wanita tahu bahwa ia hamil, maka tak ada waktu untuk manja! Selama 9 bulan itu adalah perjuangan total untuk menghasilkan anak unggulan yang memiliki sel otak cerdas dan kepribadian yang bagus. Pada hari ke-16 sel otak sudah mulai dibentuk. Dari bulan pertama sampai bulan keempat adalah pembentukan otak anak, masa-masa inilah yang menentukan berapa sel otak anak yang akan dibawa ketika ia dilahirkan. Dan ini adalah modal utama dar perkembangan otak anak selanjutnya.

Namun memang ada sebagian orang yang merasakan mual bahkan sampai muntah pada bulan2 ini. Dan memang di situlah letak perjuangan seorang ibu. Jika memang ia saying pada anaknya, mual dan muntah itu tidak akan ia hiraukan. Terus makan makanan yang bergizi, walaupun dikeluarkan lagi, kita tetap usahakan makan makanan yg bergizi jika mau memiliki anak yang unggul. Karena setiap apa yang ibu makan pada masa ini akan menentukan kecerdasan anak, akan menentukan kualitas setiap sel otak. Jika sang ibu hanya mau makan mangga muda, ya mungkin kualitas sel otaknya hanya setingkat mangga muda.

Dan usahakan selama hamil, sang ibu tetap aktif dalam berkegiatan. Karena dengan aktif bergerak, otak ibu akan tetap bekerja, dengan demikian sang anak akan cerdas.

Selama kehamilan, selain makan makanan bergizi dan tetap aktif, ibu juga harus berbicara, berpikir, dan berkelakuan yang postif. Karena pada saat dalam kandunganpun, otak janin sudah bisa merekam apa yang ia dengar dari luar (orang berbicara) dan apa yang ibu katakan. Jika ia terbiasa mendengar lantunan Al-Qur’an, hal itu akan masuk ke dalam memori otaknya, dan ketika dia di dunia mendengar lantunan yg sama, otaknya akan langsung merespon. Jadi kalau misalnya ia biasa mendengar ibunya mengaji, maka ketika dia belajar mengaji dia akan lebih cepat belajar dibandingkan anak2 lain yang dulu di dalam kandungan tidak dibiasakan mendengarkan ayat Al-Qur’an. Dan demikian jika ia terbiasa mendengar hal negatif, makan ia akan lebih cepat merespon kepada hal negatif dan mudah condong ke arah yang negatif.

Dan dalam waktu 9 bulan selama masa kehamilan, seorang orang tua yang baik seharusnya sudah membuat lesson plan untuk anaknya. Jadi ketika sang anak terlahir ke dunia, ia telah siap untuk belajar apa saja sesuai dengan lesson plan ayah dan bundanya.
Jadi memang jika ingin memiliki seorang anak yang unggul, terlebih dahulu jadilah pribadi yang unggul dan orang tua yang unggul, dengan demikian hal itu akan terbawa secara alami ke dalam proses kehidupan sang anak hingga ia dewasa dan menutup hidupnya.

Ini adalah sedikit ilmu yang hari ini (7 Maret 2011) saya dapat dari sebuah program pelatihan di Sekolah Al Falah Kelapa 2 Wetan. Sebenarnya masih sangat banyak ilmu yang didapat pada hari ini, seperti bagaimana memperlakukan anak sepanjang hidupnya sehingga ia siap untuk menjalani hidup, tentang 11 sistem tubuh manusia, dan beberapa pengetahuan lainnya.
Insyaallah, jika diberi rezeki sehat, panjang umur, dan waktu, akan saya coba uraikan apa yang telah didapat dalam pelatihan tersebut.

Mohon maaf jika banyak salah kata dan mungkin banyak yang tidak mengerti. Kritik dan saran bisa langsung diberikan…
Semoga share kali ini bermanfaat.

Saturday, February 12, 2011

kangen SOLO...

kangen nonton Sekaten

kangen bangun pagi udah ditongkrongin gendhuk penjual Nasi Liwet atau Pecel atau Cabuk Rambak

kangen ngiras cendol di Pasar Gede

kangen ngiras cendol sego kuah sirup jeruk nipis (yang cuma ada satu-satunya di dunia mungkin, dan itu di Solo)

kangen mborong abon dan serundeng

kangen naik becak yang bahkan muat 3 orang dewasa satu becaknya

kangen liat suasana lesehan malem-malem

kangen naik kereta cuma untuk ke Jogja

kangen tabur bunga di makam Mbah Putri


kangen SOLO.

Sunday, February 6, 2011

OmPol

kalo ada perjaka ting-ting, mungkin status saya sekarang lebih disebut 'fresh graduate' ting-ting. Hehehe... Dimana-mana, pasti hadiah wisuda bunga, atau gak bingkisan, atau makan malam. Buat saya, makan malam, udah biasa. Karena kebiasaan yang saya pikir biasa itu (maksudnya apa ini ya? :p), hari ini saya mendapat hadiah yang luar biasa.

DITILANG.
Yak, ditilang! Siang bolong, di sekitar kawasan Kuningan, kami (saya dan Mas Pujo) ditilang saat berkendara motor. Gak kali ini sih ditilang, semumur-umur, yaa..udah sekitar 3 kali lah saat bersama Mas Pujo kami ditilang. Cuma hari ini, si Kanjeng Tuan Polisi yang SOK terhormat ini luar BINASA!

Peristiwa ini diawali pada saat saya ingin mencari Gedung Ariobimo Sentral. Sudah ketemu gedung ybs, entah kenapa mas Pujo berulang kali mengajak memutar jalan melalui Casablanca. Karena dekat kawasan Mega Kuningan, saya memilih untuk menolah keinginan Mas Pujo, mengingat di kawasan tersebut dekat dengan pusat perbelanjaan Mal Ambassador dan ITC Kuningan. Setelah kembali ke jalan utama, kami berusaha mencari putaran balik.

Setelah melihat ada putaran, sebelumnya kami yang memang sudah masuk di jalur cepat (mengikuti perintah yang ada di papan pinggir jalan, ya apalah itu ya namanya! :p), melihat ada sekawanan polisi yang ternyata sudah mendapat 'mangsa'. Mas Pujo seketika langsung berkata"shit!", yang entah kenapa saya berpikir bahwa kenapa sih hari ini kok Mas Pujo khawatir sekali dengan jalan pilihan saya.

Dan, jeng jeng jeng...kami diberhentikan! Otomatis dalam diam saya melirik keadaan saya dan Mas Pujo yang merasa sudah lengkap sekali atribut berkendara motor. Helm, oke. Jaket tebal, oke. Sarung tangan dan bahkan kacamata hitam pelindung sinar matahari pun kami pakai. Krik krik, apa karena kami salah menggunakan jalur? Trus apa gunanya papan perintah yang di pinggir jalan itu dong??!! Shit pangkat sejuta, saya pun sudah siap dengan seberondong penyangkalan jika Kanjeng Tuan Polisi yang SOK ingin dihormati ini banyak mulut.

Polisi: Selamat siang Pak, maaf kami mengganggu perjalanan Anda
(dalam hati gw, lo udah terlanjur rek ganggu perjalanan kita!)
Polisi: Maaf Pak, apa Anda sadar kesalahan Anda apa?
Mas Pujo: aduuh, kenapa sih Pak, saya aja berhenti karena Anda suruh, kenapa Bapak nanya balik?
Polisi: Maaf pak, kami hanya melasanakan perintah atasan kami saja (dalam hati gw, atasan? Tuhan? Situ aja gak manusiawi ngadepin manusia!)
Mas Pujo: iya kenapa Pak? To the point deh
Polisi: Sesuai peraturan berkendara di jalan raya, Anda seharusnya menyalakan lampu Pak.
Mas Pujo: Buset Pak, lampu doang.

Saya berpikir, mungkin kami juga salah karena mengabaikan peraturan yang ada. Saat itu juga, saya pun melihat sekitar. Tak jarang, bahkan banyak sekali mobil dan motor bahkan yang lewat begitu saja tanpa menyalakan lampu. Bahkan, karena si Kanjeng Polisi SIALAN lagi 'asyik masyuk' ngurusin mangsanya, banyak yang lewatin jalan puteran itu TANPA LAMPU sodara-sodara.

Setelah ngomong basa-basi, dan mungkin puluhan kali ngomong"maaf saya hanya menjalankan tugas dari atasan" (WTF!), dia ngeluarin entah surat apa yang berisi harga-harga pelanggaran, dan harga untuk pelanggaran tidak menyalakan lampu adalah 100.000!!! Spontan Mas Pujo dan saya langsung gak terima, sambil menunjuk-nunjuk motor dan mobil yang bebas dari intaian polisi-polisi. Daaan, dia gak bergeming sama sekali, malah sibuk mau menyiapkan segala keperluan sidang dan bla bla bla...

Karena kami sama-sama diam, akhirnya mungkin karena si polisi bang*at itu takut kehilangan rejeki super HARAM-nya itu, dia langsung menemui kami kembali, sambil berkata :"yaudah Pak, gimana kalo setengah harga Pak?"

Buseeet, lo kira kain di Tanah Abang bisa setengah harga!!?? Mending beli tanah ukuran 2 X 1 meter aja sekalian buat lo Pak!

Alhasil, daripada kebanyakan ngoceh, dan udah terlanjur liat Mbak-Mbak yang kayaknya bener-bener gak punya duit dan SIM plus STNK ditahan, dengan SAMA SEKALI GAK IKHLAS kami berikan 50ribu ke Kanjeng Polisi yang 'baaiiiiiiiiik' sudah memberhentikan kami. Dan kami langsung melanjutkan perjalanan pulang ke Depok.

Bukan besarnya uang 50ribu yang kami tidak ikhlaskan, tapi saya menyayangkan loyalitas POLISI yang seharusnya melindungi rakyat malah sekarang 'mengiris nadi' kehidupan rakyat dengan kebejatannya.

Persetan sama harga-harga pelanggaran, persetan karena hanya menjalankan tugas, dan mungkin juga persetan dengan adanya POLISI-POLISI bejat di Indonesia.

Wednesday, January 26, 2011

cita-cita

Cita-cita.
Yang ada di benak saya waktu kecil kalo ditanya tentang cita-cita, saya selalu jawab "gak tau".
Jadi dokter, udah kebanyakan yang ngomong. Jadi astronot, wong saya aja takut naik pesawat waktu kecil dulu, apalagi disuruh ke luar angkasa. Jadi polisi? Sempat sih dulu mikir apa jadi polisi aja ya, soalnya gak pernah liat ada polisi cewek. Eh taunya udah banyak :p

Ngomong-ngomong soal cita-cita, akhirnya berlanjut tuh ke jaman SD. Jaman yang anak cewek lagi gemar-gemarnya nulis diary, sama minta temen-temennya ngisi diary mereka. Saya pun begitu. Dan lagi-lagi, ketika di kolom cita-cita, saya selalu menjawab dengan kata-kata "bingung" atau "apa aja".

Pengen ketawa rasanya kalo inget jaman SD. Terus, berlanjut ke SMP. Entah kenapa, jadi seorang yang pemalu dan gak PD-an. Kalo gak ada temen, gak mau sekolah. Aneh banget. Punya sahabat waktu kelas 1, pas kelas 2 beda kelas, terus langsung males nyari temen baru...bahkan buat temenan. Autis sendirian. Sampe ada temen yang datengin, intinya ngajak temenan, ngobrol, trus dia curhat. Mulai dari situ, entah kenapa saya punya hobi lagi, curhat dan dicurhatin. Dan akhirnya, saya pun punya cita-cita, berpikir untuk jadi psikolog, gara-gara hobi saya itu.

Pas SMA, berubah total. Karena ternyata temen-temen jaman SD dan beberapa di SMA masuk di sekolah yang sama, akhirnya saya jadi pribadi yang gampang bergaul, banyak ngomong, dan good-boy seeker. Hehehe. Walaupun akhirnya mantan-mantan saya di SMA malah kebanyakan brengseknya, tapi kebawelan saya malah makin meningkat. At last, waktu duduk di kelas 3, saya tertarik untuk menjadi penyiar radio atau news anchor.

Pada kenyataannya, saya mengambil jurusan sastra Inggris untuk jenjang D3 saya. Tidak habis akal, agar cita-cita saya  cukup terlaksana, saya mengambil magang di TRANS TV. Lagi, setelah lulus, Tuhan berbaik hati memberi saya jalan untuk berkuliah di jurusan Komunikasi Massa, yang alhamdulillah sudah saya selesaikan per Desember 2010.

Hari ini, tiba-tiba saya teringat dengan perjalanan cita-cita saya. Mungkin hanya segelintir orang, yang saya kenal, berhasil mempertahankan cita-cita kecilnya. Saya? Dengan umur 23, saya berpikir kalau cita-cita mungkin sekedar angan-angan. Tidak dipungkiri, sampai sekarang saya masih berharap untuk bekerja di bidang media. Saya pun sangat mencintai pekerjaan saya saat ini, walaupun tidak berhubungan dengan media.

Kalau orang lain menganggap cita-cita sebagai sebuah profesi tertentu, mungkin dulu saya akan memilih bercita-cita "pengen punya kerja bagus, punya uang banyak, trus bisa beli rumah" kali ya...

Hahaha, soalnya sekarang saya melihat banyak orang yang lupa dengan cita-citanya, angan-angannya dan bahkan keinginannya, untuk sekarang mencari sebuah pekerjaan tetap dengan gaji lumayan. Hmm, tapi mungkin itu juga kelebihan dulu punya cerita tentang sebuah cita-cita...mungkin bekal untuk cerita ke anak kita nanti, atu kebanggan tersendiri bagi orang-orang yang merealisasikan cita-citanya.



Sekedar untuk melanglang buana akan cita-cita kita dulu, saya sajikan video klip jaman saya dulu. Selamat menikmati, dan selamat merealisasikan cita-cita kalian (apapun itu)......... :)

Tuesday, January 25, 2011

B I S A

Hai!
It's been a long time sejak terakhir saya aktif di blog.
Mungkin itu jaman abis selesai D3 kali ya, sambil nunggu wisuda.

Pertama-tama, thanks to Mas Ardi yang selalu 'bawel' dengan pertanyaan :"lo bisa apa sih? atau "apa sih keahlian lo?"

Kedua, tentunya, thanks to Mas Pujo yang sudah cukup merealisasikan mimpi saya untuk mulai aktif menulis lagi.

Hmm, intinya sih, blog ini bukan ngelanjutin aktivitas nge-blog saya lagi..tapi lebih ke nunjukkin ke orang-orang terdekat, khususnya si mas Ardi, kalo "nih gw bisa sesuatu kok! Gw bisa nulis!"
Hehehe... :p
Dan juga, mungkin biar lebih semangat, saya bakal nampilin posting-posting sebelumnya yang sudah ada di Facebook.

Bismillah...

Sekian, dan lagi-lagi...terima kasih Pujo Arthomo Dharmawan.