Sunday, December 27, 2020

Menolak Lupa

Sejak 2017, Desember selalu terasa tidak mudah bagi saya. Desember 2017 menjadi bulan terakhir saya masih memiliki kedua orang tua. Januari 2018, Bapak berpulang. Sementara itu, Desember 2018 menjadi bulan terakhir saya memiliki Ibu. Di Januari 2019, 2 hari sebelum haul Bapak wafat, Ibu berpulang. Rasanya ingin mengajak otak untuk lupa. Tapi, otak rasanya sedang bekerja sama dengan hati untuk menolak lupa masa-masa itu.

Mungkin sekarang saya bisa bilang bahwa proses ‘melepas’ Bapak terasa lebih mudah—jika dibandingkan dengan saat terakhir Ibu, ya. Kalau tidak dibandingkan, ya…susah. Saya harus menata hati yang bolong selama setahun. Malah, belum tuntas tertutupnya, bolong itu meluas selepas Ibu pergi. Mungkin karena Bapak pergi dalam diam dan tak sadar. Kami hanya kesulitan melepas kepergiannya saat itu karena tidak ada komunikasi dua arah. Sementara dengan Ibu, kami menjadi saksi mata atas kesakitannya berbulan-bulan dan kepayahan beliau saat bertahan di waktu-waktu terakhir.

Saat terbangun di tengah malam semalam, saya membaca sebuah postingan dari IG seorang doula terkemuka di Jakarta. Saat hamil tuanya, Ayahnya berpulang. Ia menulis sebuah kalimat yang kemudian saya iyakan. Kalimat itu berbunyi: “seperti menjadi orang tua, kehilangan orang tua pun tak ada sekolahnya. How to handle with the feeling ketika melepaskan sekaligus berduka, gak ada satu pun yang pernah mempelajari itu sebelumnya”. Betul sekali. Saya kira, setelah kehilangan Bapak, saya lebih ‘jago’ menangani rasa itu. Ternyata, tidak. Kehilangan selalu terasa berat, told ya.

Desember tahun ini, masih di tengah pandemi. Saya merasa harus mendobrak kebiasaan mengingat-ingat memori dan rasa terakhir bersama Bapak dan Ibu dengan melakukan sesuatu. Akhirnya, kali ini saya sibuk dengan urusan Mas B pasca-sirkumsisi. Sempat ingat, sempat lupa. Setelah 5 hari terakhir sibuk, saya ingat lagi. Kembali jempol ini berselancar membuka arsip di IG tentang bulan Desember tahun 2018.

Saya masih ingat rasa memeluk dan melepas Ibu menjelang operasinya yang ternyata menjadi operasi yang terakhir. Saya memeluk dan berkata: “baik-baik, aku di luar, tunggu ibuk, oke?”. Seperti biasa, wanita terkuat saya itu tak menampilkan raut takut. Operasi berjalan selama 7 jam, terhitung sejak pukul 08.00. Selama itu, beberapa kali perawat keluar dari ruang op dan meminta salah satu dari keluarga untuk menebus darah. Rupanya, Ibu kehilangan darah sebanyak dua liter selama operasi berlangsung. Pukul 15.00, Ibu sudah dipindah ke ruang ICU. Karena hanya saya yang menunggui, saya dipersilakan untuk melihat ibu pasca-op, yang ternyata itu menjadi pemandangan paling menakutkan di seumur hidup saya. Berbagai selang dalam macam-macam ukuran menempel di tubuh ibu. Keluar dari ruang ICU, saya bertemu adik alm Bapak yang langsung memeluk saya. Saya sontak menangis. Menangisi ketakutan dan kekalutan di tengah kesepian.

Ibu menghabiskan sekitar 7 hari di ruang ICU. Saya masih merasakan betapa dinginnya ruang tunggu keluarga pasien, merasakan aura kehilangan dari tangisan keluarga pasien yang wafat, obrolan dengan sesama keluarga pasien ICU, dan rasa kehilangan saat satu per satu pasien membaik dan pindah ruangan. Saya masih terngiang suara bel panggilan dari suster jika ada kebutuhan pasien yang harus diambil sendiri oleh keluarga pasien. Saya masih merasakan itu semua saat mata saya terpejam.

Saya pun masih ingat hari pertama saat ibu tersadar dari biusnya. Ibu masih ingat segala hal, walau mostly isinya racauan karena di bawah pengaruh pain killer. Saya masih ingat kondisi ibu membaik dan pindah ruangan. Saya pun masih ingat momen “dokter mau bicara, bu”. Kenyataan pahit tentang hasil operasi Ibu, bagaimana sel kanker dalam beberapa bulan sudah menyebar dan memasuki stage terminal. Saya masih hapal nada suara dokter Ibu. Saya masih ingat juga betapa Ibu mengidolakan dokternya itu.

Saya masih ingat petuah dan obrolan kami berdua. Saya ingat betul Ibu tidak mau pergi karena sudah dapat panggilan untuk pergi haji di tahun 2019. Saya pun masih ingat tentang pertemuan terakhir saya dengan Ibu, sore itu di tanggal 2 Januari 2019 – sebelum pulang ke rumah. Dan malamnya, ketika saya datang lagi untuk menjemput jasad Ibu. Semua terekam. Semua terbayang. Semua terlintas begitu saja.

Seperti sebuah kalimat yang pernah saya tulis di IGS saya saat itu: “Ibuk, kami ada. Kami semua di sini. Kami menunggu”, saat ini pun saya masih menunggu. Menunggu suatu hari nanti bisa bertemu lagi. Bisa terlahir kembali menjadi anak dari Ibu dan Bapak. Dan berkumpul selamanya dengan mereka.