Monday, February 11, 2019

Unlimited Grieving

Betapa ya, Allah tuh Maha Segala-galanya.
Enggak, bukan memungkiri-Nya. Tapi, selalu meyakini dan menyadari-Nya setiap saat.

Betapa dulu suka marah, kalau Ibu suka ngomong: “piye nek mengko ibu mati? Punya anak dua kok brantem terus!” – setiap kali melihat saya dan adik saya berantem. Padahal, berantem antar adik kakak biasa, bukan? Kenapa harus bawa-bawa mati?

Betapa ya, dulu kesaaal banget, dikit-dikit mau pesen taksi online, saya yang dihubungi. Mau makan apa, sejauh saya lagi di mana, saya di-WA. Padahal, ibu tinggalnya sama adik. Sungkan, mungkin.

Betapa ya, dulu saya keganggu banget karena hampir setiap hari ibu ‘absen’ saya. Terlebih, setelah Bapak berpulang. Minimal setengah sampai satu jam nelepon saya kalau sedang di kantor. Saya sampai harus pakai earphone biar bisa sambil kerja dan gak ganggu sekitar. Padahal, yang dibicarain ya Cuma kegiatan sehari-hari dan rasa sakit yang ibu rasa.

Betapa rasa-rasa tidak mengenakkan itu sekarang diganti rasa rindu. Hebat banget sih si ibu, begini amat bikin anaknya kesepian? Rindu itu luas banget artinya, ternyata. Bisa sebegini menyakitkannya.
Kata beberapa orang: nikmati sakitnya, nikmati rindunya. Agak ekstrem, ya?

Mana ada sakit atau rindu yang nikmat? Tapi, kalau dipikir-pikir, kalau gak sakit, kita gak bisa menikmati hidup. Saat sehat, bisa aja kita takabur dan kufur nikmat. Kalau gak rindu, mana bisa kita mengartikan rasa senangnya saat bertemu—baik di dalam doa maupun di akhir masa, nanti.

Yang bisa dijabarkan, hanya sepiiiiii sekali.
Entah sampai kapan merasa kayak gini.


Al Fatihah.

Monday, February 4, 2019

Dalam Kenangan

This is my second post for today.
I want to remembering my mom in person.

Kalau dibilang apakah aku 'anak ibu'? Sebenarnya, aku lebih menyebut diriku anak Bapak. Selalu sedih setiap bapak berangkat ke kampus, dan selalu bahagia melihatnya pulang. Seharian bersama ibu di rumah terlalu membosankan. Di mataku, selama aku hidup bersama selama 24 tahun, ibu adalah sosok yang galak dan otoriter. Dia gak pernah menyayangiku seperti bapak yang mau-mau aja gitu aku peluk dan cium. Ke ibuku? Mana pernah aku begitu. 

Ibuku selalu mengancam membawa 2 pisau ketika melihat aku dan adikku bertengkar. 

"Ibu kasih pisau satu-satu, berantem di luar sana!"

Menurutku itu sangat tidak baik.

Terkadang, sebagai orang tua aku jarang melihat ibuku mengalah. Selalu kami yang mengalah. Contoh kecilnya, saat dia memasak sop, ia hanya akan makan bakso serta kentangnya saja. Sementara kami? Harus banyak-banyak makan wortel, biar matanya sehat. Sungguh curang. Tapi, kami mau saja.

Aku ingat sekali, betapa ibuku rugi menjadi manusia. Kenapa rugi? Soalnya di antara makanan yang enak, bisa dihitung pakai jari yang ibu doyan daripada yang enggak. Tahu taoge? Iya, kecambah yang itu. Mana coba ibu doyan. Gak sama sekali. Apa salah taoge coba?

Taoge tidak sendiri. Masih ada kol, wortel, buncis, bayam, labu siam, telur, susu, durian, buah naga, keju, santan, dkk yang juga ia tak doyan. Banyak, ya? Maka itu, kusebut ia rugi menjadi manusia. Sementara aku? Aku sangat menikmati lodeh dan sambal goreng kacang tolo buatan ibu yang saaaaangat digemari bapak. Makanya, dengan bangga aku menyebut diriku anak bapak.

Sementara aku anak bapakku, adikku adalah anak ibuku. Kami menghabiskan sebagian besar waktu kami untuk bertengkar. Ketika kami memasuki usia dewasa, intensitas bertengkar pun juga tidak berkurang. Malah, permasalahan lebih kompleks, seperti jatah siapa sekarang yang boleh membawa laptop ke kampus. Aku gak bisa memilih siapa keluarga terlebih orangtuaku dari awal. Walau menurutku, mempunyai 1 unit laptop bermerek terkenal merupakan suatu kemewahan bagi keluarga kami. 

Sedari kecil, aku selalu ingat setiap kami nakal, ibu selalu bermain tangan. Semakin aku besar, benda apapun yang di dekatnya pasti menjadi senjatanya. Aku ingat sekali ibu menusuk pensil di punggung tanganku karena aku tidak bisa mengerjakan soal matematika saat SD. Walau kutahu setelah itu dia menyesal dengan mengoleskan minyak tawon di lukaku, hatiku selalu sakit setiap kali mengingatnya. Bahkan, hingga kini. 

Aku seringkali dipukul, disabet pakai sapu lidi, dilempar pakai kursi plastik. Aku bahkan ingin mati saat usia SD, dan bertanya pada Allah setiap harinya: "kapan aku mati, sih? Aku gak tahan disakiti ibuku." 

Setelah menikah, aku sungguh senang bisa keluar dari rumah. Hidup bersama ibuku kusebut ujian. Aku bahkan sempat berpikiran tidak sudi memiliki anak perempuan. Itu semua karena hubunganku yang tidak baik dengan ibuku. Di suatu pertengkaran, aku bahkan pernah bersumpah akan menjauhkan anakku dengan ibuku--yang mana sekarang aku sesali. 

Walau sumpahku itu kusesali, aku sangat bersyukur, anakku disayang sekali oleh ibuku. Apa mungkin karena anakku laki-laki, seperti hal-nya adikku? Kalau anakku perempuan, apa mungkin lain ceritanya?

Di atas semua kekecewaan dan kebencianku pada ibu atas masa lalu, aku bersyukur sempat diberi waktu untuk mengurus ibuku. Ternyata, pertengkaran dan segala kejahatan yang ibuku lakukan, membuatku menjadi manusia yang tabah dan kuat. Aku menjadi lebih menghargai waktu bersama keluargaku, terutama ibuku. Aku dan suamiku suka berandai-andai, betapa Allah mendekatkan kami semua dengan cara bapak dan ibuku sangat bergantung pada kami. Suamiku hampir tidak pernah mengatakan "tidak" pada orang tuaku. Dan aku sangat bangga padanya.

Semakin dewasa, aku semakin menyadari. Walau susah mengakui ini, tapi aku percaya ibu menyayangiku dengan caranya--walau rada ekstrem memang ya! Begitupun aku, aku mencintai Birru dengan sepenuh hidupku dan dengan caraku. Aku ingin Birru tahu, kami orangtuanya ini adalah rumah baginya. Ketika ia sedih, tersesat, atau bahagia, kami ingin selalu menjadi 'rumah' untuknya.

Dari ibu, aku pun belajar ikhlas. Saat bapak menunjukkan tanda-tanda akan 'pergi', kami membicarakannya seolah sedang membahas tentang harga telur. Santai dan menerima kenyataan. Di mataku, ibu berubah drastis dari yang marah-marah karena kecapaian pasca-operasi dan harus mengurus bapak, tiba-tiba ikhlas dan sabar mengurus bapak. Saat aku tanya kenapa ibu begitu: "ibu kemarin berdoa minta diberikan kesabaran sama Allah, mungkin sudah dikabulkan". 

Begitupun denganku, di hari yang seharusnya aku masuk kantor untuk pertama kali setelah libur tahun baru untuk mengajukan pengunduran diri, hari itu ibu 'pergi' dan dimakamkan. Sebenarnya, rumus-Nya kalau dipikir dan dilihat dengan kasat mata, benar-benar tidak equivalent. Ketika kita ikhlas berkorban, kenapa diberi ujian? Itu kan pikirmu? Aku pun pernah berpikir seperti itu. Tapi aku saaaaangat percaya, Dia gak akan memberi ujian di luar kesanggupanku. Buktinya? Hari ini aku sanggup berangkat ke kantor, sanggup bangun pagi untuk masak--seperti rutinitasku biasa, sanggup marah-marah ketika Birru lama sekali mandi, sanggup untuk menahan sakit gigi geraham bungsu di bagian kiri atas. 

Sekuat-kuatnya manusia, pasti aku sering jatuh sedih. Ada jatuh cinta, ada juga dong jatuh sedih. Aku kerap sedih jika sesekali terbayang "wah aku yatim piatu nih, gak ada tempat untuk mengadu". Padahal, aku punya Allah, di mana satu-satunya tempat ku mengadu. Lalu, aku hanya sanggup mengirim Al Fatihah dan beberapa doa untuk kedua orang tuaku.

Terima Kasih bapak ibu. Satu tahun ini pelajaran yang saaaaaangat luar biasa. Aku gak bisa jadi aku yang seperti ini kalau nggak ada kalian. Nggak apa-apa dong ya kalau sesekali aku rindu dan menangis. Tokh manusiawi.

Hello, 2019.

It is hard to say that my new blog got crash.
Balik dulu deh di sini, ya? :)
Well, hi!
It's been a long long time since the last time I wrote the new post.
I thought, it was Surat untuk Bapak.
Well, kayaknya sekarang jadi Surat untuk Bapak dan Ibu, since my mom passed away on Jan 2nd 2019. That was a horrible time for us, because now we have no parents.
No limit of grieving menjadi rutinitas baru.
But, life must go on track, rite?

Bismillah for another journey.




Wednesday, January 4, 2017

Lapak Baru :)

Howdy?

*sapu-sapu debu di blog*

Udah lama bangeeet gak nulis-nulis lagi. Bahkan update di IG pun udah jarang. Dari cerita yang ini, masih sibuk sampe sekarang. 

Oh, ya! Selamat tahun baruuu :) Semoga tahun 2017 menjadi tahun yang membahagiakan buat kita semua ya :)

Mulai tahun ini, Pritasyalala pindah lapak ya :) Berhubung ada yang lg mau bantuin istrinya ngurus blog (baca: Jupo), jadi dimanfaatkan saja. Sekarang, kalau mau liat update-an cerita, jalan-jalan, atau apapun dari keluarga Dharmawan (kepedean banget sih lu prit), pindah ke pritasyalala.com yaa...

See you there! :*

Monday, October 3, 2016

life recently.

2 minggu ini saya sibuk banget. Weekend aja masih nguber2 deadline. Korbannya ga lain dan ga bukan quality time saya sama mas B. :(

Jadi kebetulan saya diminta bos buat membantu tim SD. Selama ini saya memang mengerjakan buku anak, khususnya buku TK. Kebetulan, target buku TK udah terpenuhi semuanya. Jadi status saya ‘nganggur’. Agak kaget ketika awal-awal disuruh ngerjain buku SD. Apalagi kurikulum SD sekarang masya Allah ya… Sebenenya, buku yang saya garap ini naskahnya udah siap cetak. Menjelang dilengserkan, menteri Anies sempat ‘merevisi’ Kurikulum 2013. Judulnya sih revisi, harusnya gak banyak ya. Ternyata, bikin speechless. Naskah yang siap cetak gagal terbit, otomatis bikin ulang lagi dengan kurikulum yang baru itu.

Editor lain di tim saya ini, mungkin terbiasa mengerjakan tugas mahabikinpuyeng ini. Tapi saya nggak terbiasa. Saya bener-bener otodidak dalam seminggu harus ngerti silabus, pemetaan, kurikulum, nggilani banget pokoknya. Saya bener-bener stress. Seminggu pertama saya pulang-pulang cuma minta ijin resign sama Jupo. Gak kuat. Mungkin karena gak terbiasa. Padahal, atasan saya sampe ngasih saya perpanjangan waktu satu minggu dari editor yang biasa. Ya tetep aja…

Sampe akhirnya saya harus nerima. Mau gak mau harus ngerjain, walau korbannya waktu sama anak. Mungkin krn kemarin2 saya galau kok nganggur, kok ga ada kerjaan, pokoknya datang ke kantor Cuma nunggu jam pulang doang. Eh dikasi Allah ‘hadiah’. Alhamdulillah masih dikasih kerjaa, dibayar pula…Alhamdulillah masih bisa bantuin suami cari rejeki :’)

Doakan saya supaya tetep kuat ya, kebetulan satu per satu orang kantor udah pada tumbang kena tipes. Badan dan semangat saya entah udah berapa kali goyah. Mudah-mudahan pekerjaannya bisa cepet selesai, amin amin amiiiin.

Sunday, September 18, 2016

Asyiknya Belanja Mainan di Dotstoyland.com

Awal Juli lalu, mas B genap berusia 3 tahun. Di usianya sekarang, kemampuan berbicaranya udah ga bisa di-rem. Kemampuan kognitif dan juga motoriknya Alhamdulillah sesuai target umurnya. Kebetulan, Jupo sangat membantu saya dalam urusan melatih pola berpikir mas B secara kreatif. Biasanya, Jupo mengandalkan Lego yang jenis bricks supaya mas B bisa melatih kemampuan berpikir dan juga imajinasinya. 

Karena ultahnya mas B kemarin hampir mendekati hari raya Lebaran, saya gak ada persiapan khusus untuk membeli kado. Padahal saya sempet kepikiran untuk membelikan mas B Lego jenis duplo yang memang dia belum punya. Alhasil, kado mas B kemarin sama deh kayak tahun lalu, yaitu sepeda. Kalo tahun lalu masih yang roda 3, tahun ini udah roda empat. Paling enggak ada bedanya lah ya hihi. 
homepage Dotstoyland.com

Kemarin-kemarin sempet kepikiran, mumpung udah ga musim sale, apa jadiin aja nih beli kado Lego Duplo buat mas B. Semacam semesta mendukung, saya dapet email dari Dotstoyland.com, yang merupakan online toy store yang menjual berbagai mainan branded. Inti dari isi email tersebut adalah: menawarkan pembelian dengan cicilan 0% menggunakan kartu kredit BCA, yang mulai di bulan September 2016 ini. Waaah, pucuk dicinta ulam pun tiba banget ga siiy? Sebagai penyandang gelar ibuk irit nasional dari tahun ke tahun, saya gak boleh melewatkan kesempatan ini. Dipikir-pikir, kalopun lagi gak ada sale, lumayan banget loh kita bisa membeli mainan dengan sistem cicilan ini.  Pas saya cek website-nya, ternyata banyak mainan, terutama Lego Duplo yang saya incer, dapet diskon juga! Aaaak, lucu-lucu banget dan banyak pilihannya. Langsung deh minta persetujuan Jupo dan langsung beli mainannya.
*drooling*
Enaknya browsing di Dotstoyland.com ini juga karena jenis mainannya udah dipisahin menurut gender. Tapii, gak menutup kemungkinan kalau buibu punya anak cowok terus pengen beliin kitchen set, ataupun buibu yang punya anak cewek pengen beliin mainan Thomas and Friends untuk anaknya. It’s all about fun, rite?
duplo pilihan saya buat mas B
Terus kenapa saya akhirnya menjatuhkan pilihan ke beli kado Lego buat mas B via toy online store? Pertama, karena saya gak musti keluar rumah atau bisa sembari kerja buat cari & beli mainan buat anak. Dengan jam kerja yang 8 to 5 gini pasti rasanya pengen langsung merebahkan diri di kasur sesampainya di rumah dong, apalagi di ‘negara’ Depok ini susah banget mau cari toko mainan yang terjangkau dan terpercaya. Harus banget bergerak ke arah Jakarta. Udah lah cari yang pasti-pasti aja. Kedua, menghindari antrian panjang pas bayar di kasir dan juga SPG yang susyaah banget dicari kalo lagi musim sale. Tau dong toko-toko mainan yang banyak ngejual mainan branded, SELALU pasti penuh kalo lagi musim sale. Apalagi kalo diskonnya udah di atas 50%, huu mending di rumah ngemil pisang goreng deh daripada manyun mainan yang anak mau keduluan dibeli sama orang. Ditambah kalo musti antri di kasir, bisa dipastiin pulang-pulang musti keluar dana tak terduga buat manggil tukang urut betis. Kalau via online store, kita tinggal ketik mainan apa yang kita mau beli, klak klik klak klik, langsung bayar deh. Mau pake sms banking kek, m-banking, via ATM, via Alfamart (noted!), atau bahkan pake cicilan 0% dengan kartu kredit BCA. Ketiga, kita jadi ga capek musti bawa belanjaan segambreng kalo belanja via online store. Pastinya kalo buibuk ke mall ga mungkin kalo gak pakai window shopping. Niatnya sih cari mainan buat kado, tau-tau pas pulang bawa tentengan banyak. Intinya, menghindari laper mata, shay! :D  
bisa bayar di ALFAMART! *penting*
Terus, kenapa harus Dotstoyland.com sih Prit? Soalnya kelebihannya Dotstoyland.com ini jadi prioritas saya sebagai ibuk-ibuk irit ramah ‘polusi’. Kenapa kok ramah polusi? Soalnya saya jadi bisa belanja kapan aja tanpa harus keluar rumah kena polusi lalu lintas (secara kita tetep harus wangi en caem di hadapan suami ya bu!). Dotstoyland.com juga hanya menjual authentic branded toys. Catet ya buibuk. Jadi nih kita ga perlu khawatir produknya KW ORI atau KW super. Pengiriman barang/ mainan yang kita beli pun dijamin cepat. Ga ada tuh kita galau-galau lagi nungguin abang JNE atau TIKI datang. Pengalaman saya kemarin, pas udah mesen dan bayar, barang gak sampe 24 jam udah terkirim manis sampe rumah. Mau mainan sampe lebih cepet? Bisa loh pake Go-Mart. Sst, bisa dapet tambahan diskon 10% untuk setiap item yang kita beli loh. Dan yang paling terpenting kenapa buibuk harus belanja di Dotstoyland.com adalah: banyak DISKON. Uhuy, ga kalah deh sama toko mainan terkemuka di seantero Jabodetabek yang suka ngasih-ngasih promo diskonan ituh.
that face! looove...
 
safely arrived!
Nah buat ibu-ibu yang tertarik banget mau beli mainan di Dotstoyland.com, jangan lupa sign up dulu di http://www.Dotstoyland.com.com/coupons/newsletter yaa. Selain bakalan dapet newsletter melalui email, setiap pembelian mainan buibuk berkesempatan dapetin kode unik sebagai potongan ongkir dan gak jarang malah free ongkir. Kyaaaa, makin cinta khan sama Dotstoyland.com? Makanya buruan belanja mainan di Dotstoyland.com. Make Dotstoyland.com as the happiest place to shop for toys!

Tuesday, August 30, 2016

17-an di Pop! Hotel Tebet

diambil dari sini






unique!

penampakan kamar mandi (dari sini)

selamat pagi, merdeka!


yumm :9




lampu bacanya lucu maksimal, pengen dibawa pulaang XD




lucu ya?

Gak tau kenapa, bulan Agustus ini saya agak impulsif menghadapi godaan bepergian. Padahal abis mudik juga. Yaah namanya hasrat pengen cari suasana tenang emang susah tertahankan hihi. Jadilah menjelang harpitnas 17-an kemarin saya tiba-tiba ngajak Jupo untuk staycation. Lagi-lagi, budget hotel jadi andalan kami (di tengah kecekakan dompet namun istrinya banyak maunya ini). Setelah menimbang lokasi dan budget, kita memilih Pop! Hotel di Tebet.

Kali ini saya mengandalkan Travelio lagi sebagai website travel pilihan saya. Ini kali kedua saya menggunakan Travelio setelah setahun lalu menggunakannya untuk mencari hotel di Bogor. Kesan saya cuma satu untuk Travelio: seru! Gimana enggak, kita bisa menawar harga hotel dari yang sudah dicantumkan di website dengan harga yang kita mau. Untuk menginap kemarin, saya ‘menang’ dengan menawar seharga Rp320.000,- plus sarapan untuk 2 orang. Yay!

First impression ketika menginjakkan kaki pertama kali di Pop! Hotel Tebet ini adalah: Indonesia Banget! Pas banget sama tema bermalam kami disini yaitu merayakan 17-an, hehe. Lift-nya pun unik karena pake nuansa batik. Frontliner stafnya ramah banget, sampe terharu (literally). Bahkan, stafnya sempat menawarkan pada saya mau jenis bed apa dan lantai berapa, yang jaraaaaang (atau mungkin gak pernah?) saya alami di hotel-hotel sebelumnya. Di lantai bawah ada butik Danar Hadi juga. Jadi cocok banget nih buat wisatawan asing atau wisatawan dari luar kota yang kebetulan juga nginep di hotel milik Tauzia Grup ini dan lupa beli oleh-oleh buat kerabat.

Kebetulan kami dapat kamar di lantai 7. View Jakarta di malam hari jadi keliatan banget indahnya. Dan kayaknya, si mas B ketularan ibunya yang suka anteng ngeliatin langit dan pemandangannya, hihi. Alasan lain kenapa juga kami memilih untuk staycation di Pop! Hotel adalah karena strategis dari pusat-pusat kuliner hehehe. Perut mulu yang dipikirin prit, hahaha iyalah. Selain cuma jalan kaki ga sampe 5 menit udah nyampe McD, sekitar 7-10 menit berkendara dengan mobil dari Pop! Hotel juga terdapat Pondok Makan Mirah 1 dan 2 yang terkenal dengan kelezatan seafoodnya. Yumm

Yang lucu lagi dari Pop! Hotel ini adalah kamar mandinya. Bentuknya kayak tabung lift, dan di dalamnya ada WC dan standing shower. Lucu dan unik banget deh idenya, apalagi buat yang lagi nyari konsep kamar mandi di dalam kamar mau kayak gimana. Kayaknya pernah liat juga deh di ACE atau Mitra 10 konsep kamar mandi macam begini. Hihi. Kamarnya sendiri standar budget hotel, tidak begitu luas namun fungsional. Sarapannya juga oke loh. Mungkin karena kemarin temanya hari kemerdekaan, menu yang disajikan selera Indonesia, yaitu nasi bakar, nasi uduk dan juga kolak biji salak. The taste was good, mas B seneng banget makan nasi bakarnya.

I recommend this hotel for leisure or business trip, karena strategis, banyak tempat kulinernya, dan unik. Thank you, Pop! Hotel :)