Friday, December 21, 2012

'deramah'

Suatu hari di sebuah kantor penerbitan...

Latar tempat: ruang kantor yang dibatasi kubikel

Alur cerita:
Ada seorang karyawati kantor menghampiri 2 rekan sekantornya yang sedang mengobrol bersama. Bermaksud menyapa dan diajak untuk bergabung, malah tetiba 2 orang ini mendadak diam dan menjauh, seolah tidak ada percakapan apa-apa yang terjadi.


Sekian dan terima kerjaan baru tanpa ada orang yang nuduh kepo.

Friday, December 14, 2012

Anak Krakatau Trip

Lelah dengan urusan kantor yang berkelit-kelit dan situasi kantor yang juga sedang memanas, 19-21 Oktober lalu saya, suami dan dua teman saya (Egi dan Pichan) pergi berlibur ke Anak Krakatau. Dengan menebeng sebuah tur 'tak bernama' yang dipandu oleh Mas Malik dan Mas Andie, kami berempat pun berangkat menuju Anak Krakatau.

Grup Krakatau 'angkatan' saya :D


Yiihaa! Ini pertama kalinya saya mengunjungi pulau Sumatera, dan berwisata ke tempat paling fenomenal di Lampung. As we know, sejarah Krakatau sudah mendunia sekali, terlebih secara internasional. Bagaimana tidak, hampir separuh dari permukaan bumi, terkena imbas dari letusan yang terjadi di era tahun 1800-an itu. Dan saya akan kesana, WOW! Excited sekali.

Sebelumnya, sedari jauh-jauh hari, bahkan sewaktu libur lebaran kemarin, saya sudah memantapkan hati akan pergi berlibur lagi. Di libur lebaran kemarin, saya dan keluarga menyempatkan untuk berwisata ke Semarang, Jogja, dan tentunya Solo. Berhubung keadaan kantor juga sedang panas-panasnya, saya ingin pergi berlibur lagi. Saya mencari trip-trip murah dan tentu menyenangkan sembari bekerja di kantor. Awalnya, saya ingin pergi ke Dieng. Tapi kok agak setengah hati dan entah gimana, sampai akhirnya saya tahu kalau tur yang akan saya ikuti akan menggunakan bis Sinar Jaya. Oh tidak, tidak..! Sinar Jaya memiliki bad record yang cukup bikin perut mual. Saya batalkan perjalann itu, dan mulai mencari trip lagi. Pilihannya saat itu adalah Green Canyon atau Krakatau. Kalau Green Canyon, otomatis hanya main-main air saja dan sebelumnya akan melewati perjalanan yang jauuuh sekali. Tanya sana-sini, dan selalu dapat jawaban “capek di jalan” atau “badan sakit-sakit”. Waduh! Akhirnya saya memilih Anak Krakatau untuk perjalanan kali ini. Bisa trekking sekaligus main air. Pikiran saya sudah melayang jauh ingin bermain pasir di pulau Umang-umang yang terkenal putih bersih seperti salju. Widiiih, gak sabar!

Setelah bolak-balik memberi info ke Tim Hore yang biasanya ikut atau minta dikasih info kalau saya jalan-jalan lagi, akhirnya ikutlah Tim Centil, Egi dan Pichan. Saya yang sudah mengambil cuti dari Jumat hingga Senin, lumayan santai menyiapkan segala tetek bengek yang akan dibawa kesana. Sebelumnya sudah nanya-nanya juga dengan si biangnya jalan-jalan Nisa dan Yudi, yang beberapa waktu lalu mengunjungi Anak Krakatau juga. Yudi bahkan mengunjungi Krakatau saat sedang aktif-aktifnya. Katanya, waktu trekking, dataran yang dipijak berbunyi “bum bum bum”, sambil sekali bergetar.

Dari rumah, saya dan suami berangkat jam 7 malam. Dengan diantar supir keluarga, kami menuju Terminal Kp. Rambutan, tempat janjian dengan Mas Andie. Sebelumnya saya menjemput Pichan dan Egi dulu di sekitar UI. Petualangan dimulai dari sini. Entah kenapa, perjalanan kali ini penuh dengan kejutan. Banyak hal-hal yang kami dan saya baru alami, baru tahu, dan baru-baru lainnya. Sepanjang jalan raya Bogor menuju Kp. Rambutan, keadaan gelap gulita. Kabarnya,ada gardu listrik yang tertimpa pohon waktu hujan tadi sorenya. Alhasil semua listrik mati hingga Pasar Rebo. Sesampainya di Kp. Rambutan, kami sudah ditunggu oleh Mas Andie, dan beberapa kawan baru yang sudah menunggu dari jam 7 (maaf kawan!). Ada Ardi, Putri, dan Nene. Kami berdelapan pun akhirnya naik ke bis menuju Merak. Bis mulai berjalan. Agak heran, sudah malam begini (sekitar pukul jam setengah sembilan malam) kok masih saja tersendat-sendat jalannya di mulut terminal. Ternyata oh ternyata, sepanjang jalan baru hingga pasar Rebo itu macet cet cet cet! As I said before, mati listrik berimbas ke matinya lampu lalin, dan membuat macet ruarr binasa. Satu jam pertama kami lewati untuk ‘menikmati’ macet. Setelah berjibaku selama satu jam, lalin mulai lancar, dan kami melanjutkan perjalanan dengan tidur.

Bis yang kami naiki untuk menuju Merak adalah Bis Arimbi. Supirnya gak begajulan, kondekturnya pun baik. Kejutan kedua ternyata menghampiri kami kembali sesampaianya di persimpangan di sekitar Mal Taman Anggrek. Ada 2 orang pengamen wanita, yang mungkin umurnya menjelang 20 tahun, dan yang satu lagi menggendong bayi yang tidur pulas di dalam kain gendongan. Saya agak trenyuh, malam-malam begini bukannya istirahat di rumah malah masih harus cari makan. Saya sebenarnya suka dengan keahlian salah satu dari mereka yang emmainkan ukulele. Namun, saya agak terganggu dengan si-pengamen-penggendong bayi yang suaranya amit-amit ganggu banget! Sebelum memulai ngamen, saya sudah pura-pura merem, jadi hanya suami saya yang diedari amplop. Putri yang duduk di deretan sebelah kursi saya, dalam keadaan setengah tertidur mungkin kaget disodori amplop, hingga kesannya ‘menangkis’ amplop yang diberi penggendong bayi. Suaranya lebay dan melengking, khas penyanyi jalanan. Too bad, pas mengambil amplop dari Putri, si penggendong bayi melabrak Putri karena tersinggung. Well, harusnya tau waktu dan situasi juga mbak kalo ngamen... 

Akhirnyaaa, setelah pantat tepos, kami sampai juga di Merak. Waktu sudah menunjukkan waktu sekitar jam setengah satu malam. Di Merak, kami sudah ditunggu oleh kawan-kawan dari Bandung, yang juga rombongan dari trip ini. Total orang yang ikut trip ini adalah sekitar 35 orang. Ada dari Jakarta, Bandung, dan juga Palembang. Rombongan Bandung paling banyak. Nah, disini kami ‘dicoba’ lagi. Ada satu rombongan’gengges’ yang terdiri dari beberapa cewek-cewek yang baru lulus kuliah, yang membawa kawan-kawan mereka (student exchange) dari Jepang, yang terdiri dari empat orang cowok. Rombongan gengges ini berisiiiiiiiiik pangkat sejuta dari mulai diabsen hingga masuk kapal. Awalnya, saya kira si orang-orang Jepang ini baru kenal mereka on the spot, jadi ceceweks gengges ini merasa “ini milik kami”. Ternyata, bukan. Mereka satu angkatan S2 (anak baru) di ITB. Agak terganggu juga sih melihat tingkah yang katanya anak ITB tapi kok ajaib ini. Masalahnya di kantor dan dunia pertemanan saya juga punya teman anak ITB. Bos saya pun lulusan ITB, tapi gak begini amat. Noraks to the max pokoknya!



Norak. Hal pertama pas naik kapal gede (lagi) norak. Terakhir naik kapal ferry sekitar tahun 1995 pas ke Bali lewat jalur darat. Itupun gak begitu terasa, karena kita hanya muter-muter di sekitar parkir mobil dan di ruangan dalem itu aja. Sekarang, bener-bener ngeliat kapalnya dari awal, masuk sambil “wah waaah” dalam hati, terus rebutan bantal pas tahu kelas eksekutifnya berupa karpet-karpet yang digelar luas. Yeay! Loading penumpang dan mobil saat itu lumayan lama, sekitar satu jam-an. Pas berangkat gak begitu kerasa sih ombaknya. Kami berangkat sekitar jam 2 malam waktu Jakarta, lalu tidur pulas! Bangun-bangun jam 4, karena ada pemberitahuan sebentar lagi kapal akan berlabuh di Bakauheni. Wow, Lampung! Saya sampai Lampung dan akan menginjakkan kaki di Pulau Sumatra untuk pertama kalinya. Sebelum turun, saya sempat mencoba fasilitas toiletnya yang ternyata lumayan bersih, dan penumpang lainnya tahu bagaimana menggunakan toilet (yang walaupun berupa ember, gayung, dan WC jongkok) dengan apik dan bersih. Terus dapet cerita dari temen seperombongan, ternyata si ceceweks gengges dan geng jepang sempat ditegor ABK dan penumpang lain karena keberisikan dengan ulah mereka. Sukurin, emang mereka harus digituin *dendam kesumat*




Turun dari kapal, agak sedih, karena berarti harus ninggalin si karpet dan bantal yang udah kayak soulmate. Masih subuh banget waktu itu, tapi udah banyak orang di pelabuhan. Kita nunggu sampai rombongan lengkap, untuk selanjutnya carter angkot buat ke pelabuhan Canti. Saya mengajak suami dan dua teman saya untuk mencari angkot tanpa si geng berisik. Jadilah saya satu angkot bersama Mas Andie, Ardi, Putri, Nene, Sinta, Zicco, suami, Egi, Pichan. Surprisingly, mereka juga terganggu sama geng berisik! Horeee…

Mas Andie bilang, kalau perjalanan Bakauheni – Canti akan sebentar. Ternyata sodara-sodara, lama! Sejam setengah ada kali ya. Dan baru kali ini ngerasain lalu lintas Sumatra, yang sudah terkenal dengan asoy begajulannya. Rasanya pengen noyor supir angkot karena berulang kali nyalip truk gede terus papasan sama truk gede lainnya di lawan arahnya. Macam naik kora-kora campur halilintar yang lintasannya gak abis-abis. Saking capek, ngantuk campur berisik (have I told you si supir angkot nyetel lagi Nike Ardila sampe goblok keras-keras di angkotnya?), akhirnya saya tidur. Berasa baru tidur 5 menit, suami sudah memberi tahu saya kalau sudah sampai di pelabuhan Canti. Mm, mendung. Saya sudah khawatir dengan trip ini, kenapa jadi mendung gini suasananya. Kekhawatiran saya terobati dengan toilet yang disediakan disana. Walau bayar, toilet yang tersedia bersiiiiiihhhh sekali (sayang tidak difoto  ), sampai rasanya gak mau nyebrang dengan kapal, maunya mandi dan bersih-bersih disana terus. Airnya pun melimpah, dan herannya, gak asin atau payau! Padahal biasanya di pesisir pantai air yang digunakan untuk mandi atau bersih-bersih berasa agak payau. Saya sempatkan untuk ganti baju, sholat subuh, dan bersih-bersih disana. Saya pun gambling, mau makan atau gak. Pertama karena masih harus naik kapal kau cepat untuk menuju ke Sebesi Island, tapi sarapan juga belum. Akhirnya saya memilih untuk makan. Lumayan enak, saya mengambil lauk tempe goreng dan telur dadar. Untuk lauk tersebut dengan nasi, mereka menghargainya dengan 10ribu rupiah. Cukup mahal sih, karena saya pernah makan dengan lauk telur balado (telurnya bulat utuh ya!), sayur dan es teh manis di sekitar Malang (waktu mau ke Bromo) hanya seharga 5ribu saja! Tapi gak apalah, yang penting enak, dan perut terisi.



Di pelabuhan Canti sebelum ke pemberhentian berikutnya ;)


Sok-sokan saya tidak menenggak antimo dulu. Dan agak deg-deg seer pas kapal mulai melaju. Maklum, sudah sekitar 2 tahun saya tidak melakukan perjalanan laut seperti ini. Terakhir tahun 2010 lalu sewaktu saya pergi ke Tidung. Benar adanya, saya merasa mual setelah mendekati spot snorkeling pertama. Huaaah, mengesalkan! Untung saya mempunyai teman si pengantin baru 3 minggu, Meiying, yang ternyata sedang menstruasi sesampainya di terminal Leuwi Panjang kemarinnya. Padahal, ia dan suami sudah membeli kaki katak dan kacamata renang. Yaaa, gagal deh. Tapi seneng juga sih, karena berbekal kemampuan dan profesinya sebagai fotografer, saya bisa mengikuti dia untuk mencari spot-spot terbaik untuk motret.

Baru berangkat dari Pelabuhan Canti :)


Setelah selesai snorkeling, kami belum langsung menuju ke penginapan. Kami berkunjung dulu ke Sebuku Island. Aroma pantai. Bunyi angin, dan warna indah yang terpancar, langsung menghilangkan rasa mual saya. saya langsung loncat dan tak sabar bermain di pantai pasir putih itu. PANTAI! Life is a beach, baby! Saya tak henti-hentinya mengagumi keindahan pantai disana. Sambil sesekali bermain pasir dan mengumpukan kulit kerang. Panggilan Mas Malik dan Mas Andie untuk menyudahi waktu bermain kami pun, kami hiraukan. Kami terlalu tenggelam untuk bermain air dan pasir. Setelah lelah dan merasa lapar, barulah kami beranjak untuk menuju pulau dimana tempat kami menginap.

Life is a BEACH!

Akhirnya kita menuju tempat peristirahatan, yaitu du Pulau Sebesi. Sesampainya disana, kami disambut wewangian gorengan pisang, bakwan dan tahu yang benar-benar menggugah selera. Pantas saja, waktu sudah menunjukkan hampir jam makan siang. Saya langsung mengambil alih kamar mandi untuk bersih-bersih diri. Hmm, sayang… Kamar mandinya hampir tidak layak. Keramik di lantai dan di WC sudah retak-retak. Sehingga jika tidak berhati-hati dan tidak menggunakan sandal, bisa saja kaki kalian tertusuk atau tergores pecahan keramik. Walau tak payau dan asin, air disana tidak laik untuk digunakan untuk berkumur. Yaah, namanya jauh dari rumah. Pasti rasa membanding-bandingkan akan ada jika tak sesuai dengan hati.

Waktunya makan siang! Awalnya saya membayangkan paling makanannya tidak jauh dari ikan bakar, lalap dan sambal. Apalagi di pinggri laut, apa sih yang kita harapkan? Ternyata perkiraan saya salah! Makanannya lumayan enak. Ada teri kacang (favorit sepanjang masa), sayur asem, tahu-tempe goreng, dan beberapa lauk lainnya. Benar-benar makanan rumahan, seperti di rumah sendiri. Teman-teman lain pun makan dengan lahapnya, terlebih si geng Jepang ada juga yang sampai nambah! Setelah makan siang, kita diberi waktu sampai jam tiga sore untuk beristirahat dan menghilangkan kapal lag (khusus untuk naik kapal). Saya benar-benar tidur siang enak saat itu. Lumayan lah sampai ketika bangun badan terasa oleng karena saking nyenyaknya.

Setelah cuci muka, kami bersiap untuk snorkeling lagi dan explore Umang-umang Island. Kali ini, saya menenggak antimo untuk mengantisipasi mabuk laut. Wuidih, perjalanan yang singkat hingga ke spot snorkeling menghilangkan sejenak pikiran saya dari rutinitas kantor. Sayang, sewaktu saya bersiap nyebur, ada yang teriak kalau banyak ubur-ubur kecil disana. Wew, gak beraniii! Egi pun langsung mengurungkan niatnya…tapi buat apa jauh-jauh kalau berdiam diri saja di kapal? Saya pun memberanikan diri untuk nyebur, dan wuih…SEGER! Kalau dibandingkan, arus laut di pulau ini dan Tidung agak berbeda. Disini arusnya lebih kuat. Mungkin karena masih berhubungan dengan selat Sunda. Saya agak kerepotan berenang walaupun sudah menggunakan life vest. Gaya apapun dicoba tetap tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya hanya memegang life vest suami, dan mengikutinya kemana pun. Sayang, terumbu karang disini agak kurang bagus. Hampir sama sekali tidak berwarna. Laut disini hanya menang warnanya. Warnanya masih biru kehijauan. Indah sekali.

Selesai snorkeling, kami dibawa kapal menuju tempat berikutnya. What a surprise, kami dibawa ke surga! Umang-umang Island indah sekali…. Pasirnya putih bersih, hampir menyerupai salju. Sesampainya disini, kami harus trekking sedikit, hingga mencapai pantai pasir putih yang super-duper indahnya. Beberapa biota laut seperti terumbu karang, bintang laut dan timun laut (teripang), tampak di pantai berair bening ini. Karena mungkin kadar garam di pantai ini lebih tinggi (ini mungkin loh ya!), kami hampir bisa mengambang tanpa harus panik. Apalagi buat saya yang memang tidak bisa berenang, apalagi mengambang. Hihihi…



Pasir putiiih...

Kami menghabiskan waktu di pantai ini hingga menjelang sunset. Sayang, kami tidak bisa melihat sunset yang bulat utuh, seperti hal-nya jika saya tenggo pulang dari kantor di wilayah Ciracas (zzz!). tapi, keindahan pantai dan laut yang cantik, cukup mengobati kekecewaan saya. Sudah pukul 18.30 ketika kami sampai di Sebesi Island. Wewangian gorengan pisang menyambut kami lagi. Kali ini, saya tidak kuasa untuk membeli 5 buah gorengan sekaligus karena kelaparan yang sudah cukup mendera. Setelah bersih-bersih dan mandi, kami berkumpul kembali untuk makan malam. Tidak jauh berbeda dengan menu tadi siang, kami tetap menikmati makan malam dengan nikmat. Awalnya, saya mengira jika makan malam akan dibarengi dengan BBQ, ternyata, ada perubahan jadwal, dimana BBQ akan dimulai setelah makan malam. Whew! Udah kenyang cyint… terlebih melihat ikan yang akan dibakar berupa ikan tongkol panjang dengan bobot sekitar 5 kilo. Widiiihhh, mentahnya saja sudah amis! Saya dan teman lainnya memutuskan untuk tidur. Sepertinya suami, yang memang berbeda kamar tidur dengan saya, memilih untuk berkumpul sebentar dengan rombongan BBQ. Saya? molor dengan sakses.

Terbangun sekitar jam dua, saya seperti mendengar beberapa orang berkumpul di beranda ‘rumah cewek’. Ternyata, beberapa orang dari kami memilih terjaga, untuk menjaga rumah huni ceceweks. Oh iya, rombongan Jepang dan cewek gengges sedari menginjak Sebesi Island untuk pertama kalinya, sudah memilih untuk berpisah kamar inap. Mereka rela membayar lebih demi dapat berkumpul bersama. Romantis walau cenderung najis. Saya pun tertidur lagi sebentar, dan bangun kembali karena ingin poop dan melihat, ternyata waktu sudah hampir jam 3 pagi. Hampir mendekati waktu kami menuju Krakatau. Yippie yay! Hmm, disini saya mulai sadar. Jadi sewaktu belum berangkat, saya nanya ke penggila hajat, Nisa, untuk bawa jaket atau tidak. Dia bilang, gausah, mending bawa kain atau pasmina. Saya memang sudah bawa keduanya, untuk menutupi seprai dan bantal. Takut-takut, dari waktu ke waktu penginapan ini tidak pernah mengganti sarung, seprai, dan bantal gulingnya. Hiiiy… Ternyata sodara-sodara, Nisa bohong. Berangkat melaut di jam 3 pagi itu sungguh aduhai duingiiinnya. Suami yang terlalu pintar meninggalkan jerseynya di rumah, dan memilih memakai kaus oblong kala itu, super kedinginan. Padahal, saya hanya membawa pasmina, untuk sekedar menutupi badan saya. alhasil, kami pun berbagi pasmina. *getok suami*

Ternyata perjalanan dari Sebesi Island menuju Gunung Anak Krakatau jauhnya minta ampun. Walaupun kurang dari 3 jam, saya memastikan ini sejauh Jakarta-Bandung. Alhamdulillah, saya dan suami tidak masuk angin, tapi malah lapar. Eits, belum boleh makan. Berbekal air minum di tas kamera, dengan kamera mengalah dengan cara digantungkan di leher, kami memulai perjalanan mendaki Anak Krakatau. Namun, ada kejadian mengagetkan sebelum memulai pendakian. Salah satu geng Jepang, Daiki kalau tidak salah namanya, mendadak terjatuh dengan posisi kepala menghantam tanah bagian belakang. Awalnya saya, dan kawan-kawan Daiki dari jepang mengira daiki bercanda. Karena kalupun kenapa-kenapa, dia paling tidak menggeram, atau mata mendelik ke atas. Tapi ini dia melek tapi diam saja. Mulailah dia menggeram. Di pikiran saya saat itu hanya ada stau hal, SENDOK! Saya yakin dia semacam epilepso. Kalau tidak diganjel sendok diantara kedua giginya, kemungkinan dia bisa mengigit lidah. Tim cewek gengges yang sedari hari pertama sedikit-sedikit berteriak Obana, Obana! Daiki, Shun.. atau siapalah, diam pucat pasi. Saya langsung teriak: “katanya temennya, kok gak tau temnnya sakit. Bego!” Gila betulan mereka. Tidak ada 5 menit, Daiki bangun. Ketika ditanya Mas Malik mengenai keadaannya, ternyata Daiki memang mempunyai riwayat epilepsi.

Though it was a hard time when we climb the mountain, mulai dari pasir, bebatuan dan lain-lain, we had a super-quality time, and get closer each other. Si suami agak payah, karena phobia ketinggian dengan kemiringannya. Saya juga kesusahan dengan napas berat saya. benar kata Nisa, kalau diibaratkan kita melangkah 2 langkah, turun selangkah, saking licin dan terjalnya. Pasirnya pun masih anget-anget panas, karena sebulan lalunya baru saja meletus. Tapi semua itu tidak apa-apanya ketika kami sampai di puncak Anak Krakatau. Subhanallah, akhirnya merasakan menjadi makhluk yang tidak lebih besar dari butiran pasir karena melihat keindahan gunung dengan laut lepas di sekitarnya. Menyentuh banget pokoknya. Kami puaskan berfoto-foto disana, istirahat, dan memandangi kemegahan luar biasa yang ada. Si Miss Heboh, Egiyong, juga gak kalah exited-nya karena ini pertama kali di ahiking dan berhasil. Malah, dia berhasil mendahului saya loh! Salut! Bagian terseru dari mendaki si gunung pasir ini adalah ketika kami menuruninya. WOW, seru! Walau pasir masuk-masuk di sela-sela jari kaki, serunya menuruni si anak gunung ini melebihi gegap gempita langit malam lebaran.


Trekking!!

Setelah selesai ber-hiking ria, kita sarapan dulu. Menunya standar tapi lumayan lah buat isi perut: ada nasi lemak dengan lauk tahu pedas dan telur balado. Karena banyak sekali nasinya, saya dan suami sharing berdua. Setelah sarapan, kami sempatkan untuk berfoto keluarga kembali di dekat palang tulisan “Taman Nasional Anak Gunung Krakatau”. Seru. Saat itu, kayaknya kita dan geng Jepang berisik udah mulai berbaur.

Gak lama setelah foto-foto, kami kembali ke kapal. Rencananya, kita akan ke Lagoon Cabe, yang katanya asri sekali pemandangan lautnya. Taunya sodara-sodaraaaa, setelah kita sampai di Lagoon Cabe (jadi titik buat snorkeling gitu), itu banyak sekali ubur-uburnya! Saya, yang sudah berniat snorkeling mulai ragu. Apalagi, suami tiba-tiba naik ke permukaan, dan bilang jari kakinya kayak ada yang nyetrum, Wadoh! Si Egiyong yang udah ready dengan swimsuit dengan rok manisnya, udah geleng-geleng kepala gak mau turun nyebur. DAN, tiba-tiba si Phican kembali ke perahu, dan saya melihat 3 bercak merah di pergelangan tangan dan juga lengannya. Benar, si ubur-ubur mulai membabi buta. Sebenernya uibur-uburnya kecil sih, yang kalo lagi mekar, paling selebar koin seratusan. Cuma yang namanya parno, dan kebayang film Seven Pounds, jadi banyak temen-temen yang juga naik ke perahu. Entah siapa yang berteriak dig eng berisik, saya mendengar kalau salah satu geng jepang ada juga yang disengat ubur-ubur di bagian mulut! Lucu, jadi jontor gitu... Saya nanaya lah ke Mas Malik, ini kira-kira turun ke satu spot lagi gak? Ternyata enggak  Yaaah, mau gak mau, biar saha, saya menceburkan diri untuk sekedar “gak rugi” jauh-juah kesini. Lumayan lah, walau (have I told you) tetep aja spot yang dipilih gak tepat karena kurang bagus pemandangan bawah lautnya. Kami pun akhirnya selesai mengarungi laut Lagoon Cabe,d an kemabli pulang ke Pulau Sebesi untuk bersiap pulang ke Jakarta. Kembali kami melakukan perjalanan yang cukup jauh, kurang lebih 2 jam. Saya sempat berfoto sedikit di dek kapal. Kesampaian! Walau ada punggungnya si Ardi yang nongol di belakang saya.

Selesai berkemas, kami pun melakukan makan siang terakhir di Pulau Sebesi. Rasanya makanannya agak hambar, karena mungkin saya akan meninggalkan liburan dan kembali ke kantor. Walau besok Senin saya masih cuti, tetap saja, rasanya agak gimana gitu ke kantor. Kami pun meninggalkan kenangan di Pulau Sebesi sekitar jam setengah 2 siang. Beraaaaat rasanya, agak dadah-dahah terharu sambil ngeliat ke arah pulau Sebesi.


Pelabuhan Canti sudah terlihat di belakang. Hiks!


Sesampainya di pelabuhan Canti, kami sudah ditunggu oleh beberapa mobil angkot yang akan membawa kami kembali ke Pelabuhan Bakauheuni. This is it, kalau kata Farah Quinn. Saya memilih seangkot bersama rombongan awal waktu pertama kali menjejakkan kaki di Bakauheni. Sambil cerita-cerita dan ketawa-ketawa, dan juga menikmati jalanan lintas Sumatera yang membahana, kami menikmati waktu-waktu terakhir di lampung dengan penuh sukacita. Sesampainya di Bakauheuni, kami masih menunggu agak lama. Karena kebetulan, rombongan di mobil angkot lainnya sempat turun untuk membeli oleh-oleh. Yasudahlah, gak bisa protes juga karena mau cepet sampai di Bakauheuni atau nggak, kita juga masih harus tetap menunggu kapal yang belum tiba.

Kapal kami pun tiba! Agak ‘dekil’ dibanding dengan kapal yang membawa kami ke Lampung kemarin sebelumnya. Ditambah, kekecewaan anak-anak setelah tahu kelas eksekutifnya ternyata duduk, bukan gelaran karpet seperti kapal sebelumnya. Hihihi… mau gimana lagi coba? Ya masa nunggu kapal berikutnya, khan? Ternyata perjalanan juga nggak lama-lama amat. Saya banyak bercerita ngalor-ngidul dengan si Egia. Tentang kisah percintaan dia, tentang kehidupan saya di kantor, tentang bos-bos saya yang ajaib, banyak sekali. Hal ini mungkin yang bikin persahabatan saya dan Egia gak pernah pudar karena kami sering saling tukar pikiran dan cerita.

Well, say hello to goodbye. Sesampainya di Merak, kami mulai berdikari untuk perjalanan selanjutnya ke rumah masing-masing. Rombongan Bandung memilih untuk makan terlebih dahulu, sedangkan rombongan Jakarta langsung buru-buru mencari tumpangan kea rah Kampung Rambutan dan sekitarnya. Di titik ini saya baru merasa sedih sekali. Yah, bakal kangen liburan lagi nih. Dan pikiran saya saat itu, kayaknya bakal lama lagi deh ngelakuin liburan yang asyik kayak begini. Hmm…

Lagi-lagi, kayaknya perjalanan seru dan banyak kejadian ‘unik’ gak afdhol kalo gak ditutup dengan kejadian yang ‘luar biasa’ juga. Setelah naik bis dari Merak yang supirnya ugal-ugalan setengah idup itu, kami (saya, suami, Egia, dan Ohican) turun di depan TMII. Pas turun, kami sudah disambut oleh Taksi Express yang kami sudah rencanakan akan mengantar ke 3 tempat. Pertama, kami akan mengantar Phican, karena lokasinya paling dekat dari TMII. Setelah mengantar Phican, kami menuju rumah Egia. Disini, sang supir yang sejak awal kami masuk taksi sudah berusaha ‘sksd’ mulai meluncurkan aksi sok dekatnya lagi. Berikut percakapan ia dengan suami saya:
PS (Pak Supir): mas tinggal dimana?
SS (suami saya): oh di beji pak (setengah ngantuk)
PS: oh beji, deket mananya?
SS: belakang UI pal (berusaha meminimalisasi interaksi)
PS: oh yang dulu ada poling ya? (pas ngomong ini saya dan egi langsung liat-liatan)
SS: poling? Apaan tuh pak?
PS: itu tuh pocong keliling. (mendadak egi memegang tangan saya. saya melihat kea rah kaki supir untuk memeriksa bahwa dia bukan jurig or even …amit-amit apapun itu)
SS: oh yang pocong tapi maling itu ya? Bukan hantu beneran khan?
PS: oh bukan mas, ini hantu beneran. Jadi istrinya tukang ketoprak yang mati, terus pas dikubur tikernya gak dilepas. (si egi makin mencengkeram tangan saya. saya makin melihat ke arah wajah PS untuk memastikan dia punya muka)
SS: hmm, bapak mangkalnya dimana? Tinggalnya jauh?

HUAAHH! Ada aja, omongan si PS smape terngiang-ngiang ketika saya sudah di rumah. Beruntung saya dan suami sampai rumah dengan selamat.
Dan jujur, trip kali ini selain melepas penat juga melepas emosi. Tapi enggak papa lah, yang penting gak ngurangin rasa bahagia dan lepasnya saya menikmati cuti yang sangat menyenangkan! 

Thanks, Mas Malik dan Mas Andi!


Sunday, December 9, 2012

KEPO dan MOVE ON

Mungkin mbak-mbak yang kemarin-kemarin ini ngacakkin 'tempat sampah' saya seneng kalau sekarang saya menulis tentang mereka. Berasa arteis, mungkin katanya. Eh tapi gak cuma mbak-mbak sih, ada juga bapak-bapak lapak sebelah yang... *gak jadi deh ntar dikepoin*

Well, sebuah pelajaran kembali menghampiri saya. Sebenernya gak pelajaran sih, hanya hasil pemikiran 'sampah' saya yang dibawa ke ranah publik. Dan kabarnya juga, sudah dibahas dengan Cyber Law dan diduga pencemaran nama baik. Wew!

Ini semua tentang Twitter, yang kalau telat, saya kembali perkenalkan dengan 'tempat sampah' cyber saya. Kebanyakan orang yang punya Twitter selalu menganggap Twitter sebagai buangan pikirannya atau juga tempat untuk share something. Terserahlah ya... Mereka mau buat marah-marah, 'berdoa', apalagi KEPO...bodo amat. Pendek kata, orang bisa berbuat apa saja di Twitter. Dan itu yang sedang dipermasalahkan orang kantor saya, yang lebaynya 'tersinggung' dengan buangan saya di Twitter.

Demi Tukang Gerobak Sampah yang harus berkutat dengan sampah setiap harinya, itu Twitter gw! Heran juga sampe sebegitunya mereka mempermasalahkan ini. Bukannya kalau malah merasa, berarti selama ini yang diasumsikan benar ya? Apapun itu, saya benci orang KEPO. Mungkin juga seperti apa yang dibicarakan oleh salah satu dari mereka yang benci dengan orang kepo (tapi malah kepo), saya berhak dong benci mereka. ;)

Yah, kalau boleh jujur, ini adalah puncak dari segala tuduhan miring yang sering kami rasakan. Kami? Yes, saya dan teman-teman satu divisi saya. Ketika masalah ini menyeruak, bos saya memperingatkan untuk tidak balik menghina orang walaupun dia menghina kita. Well, manusiawi emang gampang sih ngomong begitu. Nah kalau lo yang digituin? Apa gak langsung ngiris bawang?

Mbak Bos saya yang baik ini juga mengingatkan saya dengan kondisi kehamilan saya sekarang ini. "Please, be nice" katanya. Sedangkan.... yah sudahlah.

Lelah.

Orang kepo memang bikin lelah. Terlebih, seolah tidak ada pekerjaan dan urusan yang lebih penting dari kepo-in tempat sampah orang. Di saat bersamaan, suami saya ternyata sering menolak halus permintaan dinas luar dari kantornya. Ini mulai ia lakukan sejak saya diketahui hamil. Too bad, saya baru mengetahuinya berapa hari lalu. Itupun ketika ia mau nggak mau harus berangkat perjalanan dinas ke Lombok besok, dan dia tidak tahu lagi harus memberi alasan apa lagi untuk menolak. Satu sisi, saya berat. Karena kehamilan ini benar-benar menguras tenaga. Di sisi lainnya, saya bangga karena suami saya mulai dipercaya oleh kantornya untuk perjalanan dinas. Memangnya kantor saya yang hobinya objektif itu. Cih!

Rumah tangga jadi tidak sehat. Itu hal yang langsung ada di pikiran saya. Pasti kalau saya di rumah, suami saya tidak akan sekhawatir ini. Di luar kenyataan bahwa suami saya sangat tahu bahwa saya orang yang tidak bisa diam saja. Ada lagi yang menjadi prioritas saya. Ketika masalah orang kepo ini ada, kandungan saya sedikit bermasalah dengan timbulnya flek ketika saya BAK dan BAB. It's time for me to re-think about my family. Pekerjaan bisa dicari. Tapi nikmat Allah yang sudah 9 minggu di rahim saya ini? Susah dicarinya. Gak bisa hanya dengan nulis CV, kirim lewat pos, tinggal nunggu dipanggil. Teguran Allah pada saya, saya sadari sudah berulang kali. Mulai dari kantor, rumah tangga saya, dan berakhir pada kandungan saya.

Sudah waktunya untuk MOVE ON. Terlebih, dari kantor yang sudah tidak dapat saya perjuangkan lagi.

It's not a goodbye. It's a hello for my life. Hidup saya yang Insya Allah masih panjang. Pipie, Mbak Novi atau mungkin Toto dan Poet bisa kok, masa saya enggak?


Doakan saya ya! Doakan Ndatie, adek bayyi :*
Mudah-mudahan rejeki saya, suami dan adek bayyi gak kemana-mana ya, Ya Allah :')


Thursday, December 6, 2012

#1 random things

  • pengen makan stoop macaroni bikinan nyokap panas-panas, dicemplungin garlic bread renyah versi nyokap mertua.
  • tetep pengen resign atau dipecat sekalipun dr kantor saya sekarang ini. Se-ri-yus-li!
  • walaupun blangsak, cm pengen situasi di kantor aman terkendali. Walau gak sama, kayak jamannya masih ada Toto atau Poet dulu.
  • Pengen ngejambak muka mbak-mbak lapak sebelah.
  • Pengen dekbay ngerasa nyaman dan tentram di perut Ndatie-nya, walau Ndatie sering di-dzalimin orang.
  • Pengen terus ngerasain punya temen-temen yang sayang dan peduli, kayak sekarang ini. Long last, ya gurls!
  • Pengen banget renov kamar, ngecat ulang, dan buang-buangin barang gak penting di kamar.
  • Berharap ada secercah harapan (secercah aja kok) untuk besok, dan hari-hari selanjutnya.
  • Berharap dekbay kuat, dan baik-baik saja selama ibunya masih berkantor di kantor yang karyawannya hobi kepo ini.

Stay healthy, baby........ :*


Monday, November 12, 2012

GOD's gift

hey YOU,

Welcome to this wonderful world, since i know YOU this morning.
you're really surprised me and your dad, dear...

I know you're there, honey... I know you're there...

be good, kiddo... I'll be patiently waiting for you ...

I love YOU.



*alhamdulillahirrabbil 'alamiin*


Friday, September 21, 2012

day 58

di hari ke-58 Allah telah menunujukkan kebesaran-Nya.

di hari ke-58 pula saya dipastikan belum (lagi) dipercaya diberi momongan

di hari ke-58 sudah tidak ada air mata setiap kali melihat satu garis di testpack

di hari ke-58 tiba-tiba saya diberi kelegaan luar biasa karena diberi kesempatan untuk 'subur' kembali.

di hari ke-58 saya diberi janji oleh Allah melalui mens dan nyerinya yang mudah-mudahan insya Allah dapat menjadi penebus dosa di alam kubur nanti (amin Ya Rabb)

di hari ke-58 pula Allah memberi kesempatan kembali kepada saya untuk terus berdoa dan berikhtiar untuk mendapatkan momongan

di hari ke-58, saya merasakan kebahagiaan luar biasa karena support suami yang tak kunjung habis. Alhamdulillah...

di hari ke-58 saya percaya bahwa Allah selalu menyisakan kekuatan dan tangannya untuk membantu hamba-hambaNya.

Puji syukur alhamdulillah atas nikmat-Mu, Tuhan... :')

We'll waiting for you, baby ...

Wednesday, September 5, 2012

some random things

Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Well, akhirnya bercengkrama lagi disini. Setelah sekian lama bergalau di dunia nyata.
Semacam pengingat keadaan, tetiba saya kepikiran beberapa hal yang ngagetin atau nyenengin:

1. Memutuskan untuk tidak mengikuti kesempatan besar untuk menjadi salah satu media pendukung acara Java Soulnation (hiks). Jadi oh jadi, gak tau pasti apa alaesan dibalik ini semua. Cuma kok ya saya malah pengen cari tanggal cuti yang pas untuk plesir (kembali) bersama suami tertjintah. Yasudahlah, yukdadahbabay buat Java Soulnation. See you at the very-right time. :’)

2. Hari ini tepat hari ke-44 belum mens. Haduh, yg namanya GR, deg-degan, sensi, ngidam, boyok pegel, udah jadi santapan sehari-hari. Deg-degan karena sindrom “mau kasih anak makan apa” pun juga menghias suasana, yang sebenernya gak gitu amat siiih. Yang jelas, gak sabar nunggu tanggal 12, buat konsul ke dokter lagi, dan mudah-mudahn ada kabar baik. Apapun bentuknya itu. 

3. Agak bete sih sama keegoisan bubos untuk mengikuti kemauannya yang extremely …argh, impossible banget ituh! Terlebih, temen saya malah mendukung dan membantu jalannya acara. Jadi pengen berdoa, semoga semua ketelatan ini membuahkan hasil POSITIF. Supaya emang ada alasan pasti untuk nggak ikut itu trip. *ini ngomongin apa sih sebenernya?*

4. Masih. Males. Pulang. Ke. Rumah. Kenapa? Nyari surga itu ternyata susyah :”(

5. Suaminyaaaw mau dinas ke Lombok dong dong dong… ini honeymoon aja belom kita kangmas, masa mau ditinggal ke destinasi orang-orang mau hanimun sih!? *nangis alay*

6. Pengeeen banget punya kompor yang ada ovennya, peralatan bikin kue, dapur sendiri, sendok takar semacam ikea tea, ingin ini dan itu pokonya mah.

7. THR udah dodol duwel, alias habis. Padahal masih pengen ini dan itu. Jadi, kira-kira kapan lagi nih THR-annya lagi?

8. Pengeeeeen banget pergi ke suatu tempat yang bisa relaksasi dan jauh dari sinyal apapun itu. Miangas? Palembang? Semarang (ngidam lumpia beserta batang daun bawang rek!), Malang, Bali atau Lombok sekalian??

9. Pengen bikin paspor, tapi entah kapan pergi ke luarnya. *ngok

10. Pengen keluar dari negara Erlangga ini. Se-ri-yus-li.

Saturday, August 11, 2012

love letter to hubby #5

dear suami...
Kalau nanti suatu saat kamu baca suratku yang kelima ini, aku cuma pengen kamu tau, kalau sampai hari ini aku sayaang banget sama kamu. Aku masih terus pengen bahagiain kamu, pengen kamu terus ada buat ngebimbing aku tentang agama, pengen banget terus masakin kamu dan anak-anak kita kelak (amin), dan selalu pengen cari tahu gimana jadi istri yang baik buat kamu.

Hari ini hari kesembilan belas aku telat haid. Udah gak ada air mata kalo ngeliat testpacknya bergaris satu. Aku tau, aku egois kalau aku mikir aku yang salah karena gagal lagi ngebahagiain kamu. Aku sadar, kalau ada tangan besar yang selalu memberikan yang terbaik untuk aku, untuk kita semua. DIA yang tahu, kapan waktu yang tepat bagi kita untuk menimang anak. Walau gak dapat dipungkiri kalau aku ingin (nyerempet iri) dengan kehamilan si anu-ini-unu. Dan kamu? Kamu dengan kepolosan dan kesantaian kamu itu selalu membuat aku tenang. Kamu yang tahu sekali caranya ngelesin pikiran aku biar gak sedih, yang selalu manja-manja gak jelas biar akunya lupa. Ya ampun, ntar kalau udah ada anak kita rebutan deh sama kamu yang.

Aku masih inget kok, betapa kamu juga ingin sekali dipanggil Panda, walaupun kita berdebat lagi pasti akan ada banyak pandangan miring soal panggilan itu. Tapi ya-udah-lah, kalau kamu nyaman dengan panggilan itu, aku pun seneng.

Hari ini hari kesembilan belas. Sabar ya sayang. Insya Allah aku bakal ngasih kamu "yang lucu-lucu" sesuai doa kamu waktu ultah aku kemarin.

I love you to the moon and back, my man...




yours,

-wifey-

Thursday, August 9, 2012

waktu

Setelah…sekian…lama…
I’m back.

Baru nemu kata-kata bagus (lagi).

Yes, indeed.
Sepertinya baru kemarin saya kenal dengan suami saya (yang ternyata it was 5 years ago). Rasa-rasanya baru kemarinnya lagi kami berbicara banyak dan mengobrol tentang masa depan. Rasanya juga baru sebentar saja kami melakukan lamaran di hadapan keluarga besar kami berdua. Dan rasanya baru tadi pagi kami saling mengucap ikrar sehidup semati di depan penghulu.

Hari ini, tepat 4 bulan lewat sehari kami melewati hari pernikahan kami. Suka, duka, amarah hampir saja menjadi krayon kehidupan kami sehari-hari. Tapi saya bahagia. Bahagia karena setidaknya telah mewujudkan salah satu mimpi saya untuk menikah muda.


Terima kasih waktu. Sampai bertemu di kesempatan lain yang tepat.


Monday, June 25, 2012

25

Officially in 'silver'. Alhamdulillah, saya akhirnya menginjak usia 25 tahun, alias seperempat abad. Rasanya, saya semakin semangat untuk menapak kehidupan ke depannya. Terlebih, 2 bulan terakhir saya sudah menyandang status sebagai istri. Bahagia...

Di ultah pertama semenjak jadi istri ini saya memang merencanakannya untuk pergi berlibur. Bandung menjadi pilihan (yang mungkin) tepat, karena tidak menghabiskan waktu lama untuk menuju kesana. Suami saya pun kebetulan sudah pulang dari perantauan pra jabatannya, jadi rasanya pas menjalani hari ultah bersama suami yang sedang bosan dengan rutinitas pekerjaannya.

Sayangnya, walau sudah jauh dari rumah, saya tetep saja sakit. Pas banget menjelang ultah saya haid. Agak sedih sih, merasa gagal lagi memberi suami saya kesempatan utk menjadi ayah. Untungnya, saya punya suami seperti Mas Pujo ini. Dia mengucapkan ultah, mengecup dahi saya, lalu mengelus perut saya (dimana malamnya gegulingan karena nyeri haid), sambil bilang "semoga dikasih yang lucu ya sayang". Ah, bahagianyaaa... Gak ada yang dimaui lagi selain dia selalu ada di samping saya. Thanks Allah, thanks Ibu dan Bapak, thanks suami... :')




Friday, June 22, 2012

Kue Lapis

hello yelloo...
Hari ini termasuk dalam kategori hari yang bahagia (terhitung sejak subuh tadi pagi, sampai sekarang jam 12.55). Abis subuh tadi, biasalaah..suaminya lagi bodong udelnya jadi saya-nya disayang-sayang secara udh ditinggal 17 hari gituu (uhuy!). Kedua, tadi pas sampai di kantor sempet ngerasa kok gak adil banget sih udah kawin masih aja disemena-menain aja sama orang, but at least sadar kalo paling gak saya ada punya suami yang sekira-kiranya dibutuhin insya Allah selalu ada. Ketiga, soal makanan! Hihihi... Antara seneng sama iri sih punya konsultan senior di kantor yang asyik diajak ngobrol, dan pinteeeeer banget masak dan ENAK. Masak dan makan itu temenan. Masak aja udah pake cinta (khusus untuk si konsultan senior di kantor saya ini aja sampai harus bolos kantor cm utk masak dan ngurus rumah),Eh pas dicobain masakannya, sumpah bikin bahagia! Buat perasaan, sm perut sih, hehehe!




Again, emang ya, hidup itu kayak kue lapis di atas piring. Kenapa kue lapis? Disitu saya anggep seperti lapisan peristiwa tertentu apa aja yang pernah mampir di hidup saya. Piring itu dunia, wadah dimana kita gak cuma numpang hidup aja tapi harus menciptakan kebahagiaaan (paling tidak buat diri sendiri). Kalau gak ati-ati naruh piring, pecah khan? Nah, sama aja kayak hidup kalau gak bisa bikin bahagia, gak bahagia, atau gak nyari bahagia, pasti cuma gitu-gitu aja (amit-amit, ketiban sial). Kayak si konsultan senior ini, dia seneng banget bikin temen-temen di kantor dan saya juga bahagia dengan makanan yang dia bawa. Pengen sekali seperti dia suatu hari nanti. Membuat suami, orangtua, dan anak saya kelak bahagia dengan pelayanan yang saya berikan. Amin Ya Rabb :)

Thursday, June 21, 2012

merdu untukmu


Hola!
Sudah lamaaaa banget setelah postingan terakhir. Banyak kejadian yang bikin gak mood nulis juga sih, kayak kemarin sempet ditinggal 17 hari sama suami untuk jalanin pra jabatan PNS dia. Tapi, dia udah pulang! Jadi saya balik lagi mood nulisnya.

Akhir-akhir ini, yah tepatnya sebelum kami menikah, kami sedang suka-sukanya mendengar lagu dari penyanyi yang satu ini. Tulus. Setulus ia membawakan lagu-lagunya. Awalnya, kami mendengar lagu "Sewindu", yang bercerita tentang kasih tak berbalas dari seorang pria terhadap wanita yang sudah menunggu selama sewindu. Liriknya yang unik, dan agak nyelekit (bagi yang pernah ngalamin), sumpah bikin penasaran siapa sih yang nyanyi ini. Sontak, saya langsung mencari tahu siapa penyanyinya berbekal sepenggal lirik yang terngiang-ngiang, yaitu "tak akan lagi, ku menunggumu di depan pintu...". Dan ternyata, si cowok berjambul ikal inilah yang nyanyi.

Karena suami mempunyai waktu lebih dan leluasa mendownload musik dan apapun di kantornya (terima kasih kepada kantor saya yang sengaja mem-banned seluruh link download), saya dibekali lagu-lagu di seluruh albumnya. Howalaah, gak cuma sewindu yang enak didenger, ternyata ada Jatuh Cinta, Kisah Sebentar (yang bakal megap-megap kalo di-cover ulang), Teman Hidup, Teman Pesta, dan Merdu Untukmu. Beberapa yang saya sebutkan tadi adalah lagu favorit saya. Yang judul terakhir, itu sumpah, manis dan cantik sekali liriknya. Ya ampun, saya sampai mikir, itu si Tulus makan apa ya sampai pandai sekali membuat lirik secantik itu. Penasaran? Saya coba tuliskan liriknya disini.

Ku ingin bernyanyi melekat di telingamu
Bingkai seisi semesta, semua yang bisa bercerita
Ku ingin bernyanyi, melekat di dalam hatimu
Bingkai beragam nada, agar semua merdu untukmu...



Indah, bukan? :)

Monday, May 21, 2012

hobi baru

Hola!
Semenjak jadi istri dan (tetep) cuma punya satu hari libur di hari Minggu aja, saya punya hobi baru yang harus bisa dilakukan. Masak. Yup, masak! Agak sedih karena cuma punya satu hari libur sebenernya, cuma saya bertekad, di satu hari itu saya harus bisa menyenangkan suami dengan makanan-makanan yang saya buat.

Jadilah saya kemaren iseng buat 3 resep (sebenenrnya sih 4, tapi gak masuk itungan :p), yaitu:
- bola-bola ayam krispi dengan saus telur
- omelet keju
- puding coklat leci (yang ini semua orang pasti bisa)


Sebenernya, minggu lalu udah bikin fetucini masak ala chinese dan omelet fetucini (pokoknya serba fetucini). Tapi saya penasaran, bisa gak sih seorang saya yang gak hobi mau amis dikit bisa masak lauk yang harus pakai daging-dagingan atau seafood misalnya. Kebayangnya sih emang udah eww banget, ternyata enggak kawan!

Untuk resep Bola-bola Ayam saus Telur cekidot ya:

Adonan bola ayam:
- 250 gr ayam cincang (kalo males cincang beli aja di supermarket :p)
- setengah bungkus tofu/ tahu telur, haluskan
- bawang putih, cincang kasar
- satu batang bawang daun, iris tipis
- 3 sendok makan tepung terigu
- 250 gr keju parut
- 1 butir telur
- garam secukupnya
- lada hitam secukupnya
- jika suka, bisa ditambahkan kaldu bubuk
- tepung roti

Saus telur:
- saus tomat botolan
- saus cabe botolan
- mentega 2 sendok makan
- bawang putih cincang kasar
- setengah batang wortel, iris bentuk korek api
- 1 cabe merah keriting, iris miring
- 1 butir telur
- air secukupnya
- oregano secukupnya
- lada hitam secukupnya
- garam secukupnya

Cara membuat:
- uleni ayam cincang, daun bawang, tofu yang sudah dihaluskan, bawang putih, garam, lada, kaldu bubuk, tepung terigu, dan keju parut. Aduk rata.
- Jika sudah tercampur, kocok lepas telur. Ambil satu sendok makan kocokan telur, masukkan ke dalan adonan ayam.
- Gunakan plastik atau sarung tangan plastik untuk membuat bola-bola dari adonan ayam. Setelah berbentuk bola, gelindingkan ke dalam piring berisi tepung roti.
- Panaskan minyak hingga memenuhi setengah penggorengan. masukkan satub per satu bola-bola ayam yang sudah dilumuri tepung roti.
- Goreng hingga kecoklatan. Angkat dan tiriskan.
- Untuk saus, cairkan mentega dan masukkan cincangan bawang putih.
- Setelah bawang putih berwarna kecoklatan,masukkan saus tomat, saus sambal. Aduk sampai mendidih.
- Masukkan air secukupnya, hingga saus jika diaduk terasa encer, lalu masukkan potongan wortel dan cabe.
- diamkan hingga mendidih, dan wortel agak melunak.
- Masukkan sisa kocokan telur ke dalam saus, aduk hingga mengental. Tunggu sampai mendidih.
- Angkat dan sia[p dihidangkan.

Ini hasilnya. Mohon dimaafkan foto agak buram, soalnya kamera lagi lowbatt, jadi pakai BB deh :p



Tuesday, May 15, 2012

disana-sini positif

Just sent a message to my hubby:
"Pipie gak masuk hr ini. Dr kemaren mual-mual. Kayaknya Pipie hamil. Antara seneng banget sama sedih. :("


You know, what my hubby said?
"Ndatie sayang, aku juga mau ya. Gak ragu lagi akunya. Mudah-mudahan dikasih di saat yang tepat ya sayang... :)"



I LOVE YOU, HUBBY...


Saturday, May 12, 2012

love letter to hubby #4

Sayang,

Lagi, semalam kamu ngebahas soal "jodoh ada expirednya". Secara gak langsung, aku mau nyalahin Anang-Ashanty ah! Gara-gara mereka mau nikah, dan infotainment lebay banget ngebahas mereka berdua terus.

Yang, aku gak bego untuk mencerna perkataan kamu itu. Tapi sebenernya, aku bertanya-tanya kenapa kamu sudah dua kali berbicara tentang itu. Aku tau yang, aku tau takdir, rejeki, jodoh, mau, dan apapun itu Allah yang ngatur. Kamu pun jadi orang yang paling ngerti, saat semalam aku bilang ke kamu "I saw many cutey babies today" kamu benar dengan bersikap tersenyum ke aku. Saat aku lihat betapa bahagianya tampang ibu-ibu yang sedang hamil dan mendorong kereta bayi, kamu cuma bilang: "nanti kita punya kok, sayang."

Aku suka dengan cara-cara kamu itu. Aku suka nunggu, kapan lagi sih kamu akan ceplas-ceplos sesuatu yang bisa bikin bahagia aku. Sesimpel itu kamu bisa bikin aku tenang dan bahagia yang...

So, please stop said about "jodoh ada expirednya". Aku masih pengen punya anak sama kamu. Aku masih pengen dipeluk-peluk waktu tidur. Aku masih pengen ngayal-ngayal tinggi tentang nama bayi kita nanti, mau berapa anak, dan segala macemnya. Aku masih pengen kamu peluk aku waktu aku suka banget liat anak kecil lucu, bayi lucu, atau ibu-ibu hamil yang sedang jalan. Aku masih pengen, kita bisa sama-sama ngebesarin anak bareng dan nikahin anak kita. Aku masih pengen ngurusin segala tetek bengek tentang pernikahan, untuk anak kita nanti. Aku pengen banget, yang...


Don't you know how much I love you?

Please stay, dear sumamiw... :)

Sunday, April 29, 2012

love letter to hubby #3

dear sumamiw,

can't thank you enough for you've been done recently...

pengen kasih kejutan buat kamu, let say, tiket nonton Laruku (yang juga mimpi kamu dari jaman D3 itu). Tapi kamu pernah bilang kalau itu gak penting-penting banget. Jadi, aku cuma mau bilang:
terima kasih udah bantuin aku cuci piring tadi sore,
terima kasih untuk jadi bahuku paling kuat pas aku gak bisa sama sekali nahan emosiku,
terima kasih udah jadi orang paling pertama yang ngerasa aku udah di-gak-adilin sama sahabatku orang dan kamu langsung ngebela aku,
terima kasih untuk jadi orang paling rapi bahkan untuk urusan ngerapiin tempat tidur sekalipun,
terima kasih udah nerima aku--orang yang cuma punya khayalan kalau bisa masakkin kamu tapi belum juga praktek,
terima kasih udah selalu peluk aku dari belakang kalau setiap tidur,
terima kasih selalu jadi orang yang ngalah dan gak tahan kalau lagi berantem setelah kita nikah...
terima kasih, sumamiw...

sayang, inget gak tadi sore pas jalan pulang kita ngebahas tentang jodoh?

Aku tanya sama kamu, "walaupun kita tahu jodoh, takdir, umur di tangan Allah, sebenernya apa bisa dibilang sih seseorang yang kita nikahi itu jodoh kita?"

Jujur, aku nyesel nanya. Sekarang aku malah sedih. Aku tau, kamu pasti akan jawab dengan teori ala kamu, yang bahkan bisa bikin aku kuliah S2 dulu baru ngerti. Kamu jawab: " Inti dari jodoh itu lebih ke takarannya, berapa lama sih kita mampu bertahan. Di luar kuasa Allah ya? Banyak khan orang yang pisah karena cerai, atau meninggal..."


Enggak.
Aku gak mau, yang.

Aku selau berdoa dan berharap kita akan langgeng terus, bareng-bareng terus, bahagia bareng, pokoknya bareng terus...
Aku jadi mikir, ini berkebalikan dengan suatu kali sesudah kita nikah kamu bilang: "kita nikmatin aja ya. kita nikmatin acara pindah-pindah ke rumahku atau rumahmu. asal aku sama kamu terus ya, ada kamu terus."

Aku janji gak nanya-nanya tentang "jodoh" lagi...Aku anggep kamu takdir aku. Takdir yang mudah-mudahan selalu ada buat aku. Bantu aku ya sumamiw, bantu aku untuk selalu jadi pendamping kamu sampai tua nanti...




Thursday, April 26, 2012

dear Bapak...

Bapak,
Jangan sakit.
Nanti Prita pulang ya, Prita tidur di rumah.
Prita ada.
Buat Bapak aja, gak buat siapa-siapa...

Wednesday, April 25, 2012

selamat tinggal, jangan kembali

mulai menghapus KAMU...

love letter to hubby #2

2 hari yang lalu saat mampir ke rumahku buat ambil baju, kamu cerita. Bapak minta kamu untuk nginep di rumahku besok karena adikku dinas ke Palembang.

Kamu tau gak sayang, dulu waktu aku kecil, tiap Bapak dinas ke luar negeri ataupun luar kota, bapak pasti bawa satu potong baju kesayanganku. Untuk obat kangen, katanya. Aku beda lagi. Setiap Bapak dinas, aku harus ditelepon minimal 5 kali dalam sehari. Kenapa? Aku selalu sakit tiap Bapak pergi. Ya panas, ya pilek, ya batuk, pokoknya sakit. Sakit kangen, kata Ibu. Aku emang anaknya Bapak. Bapak pergi dikit, sakit. Asal diabsen, itu lumayan menetralisir kangen aku daripada berujung sakit.



Pas tahu kamu diminta Bapak untuk nginep di rumah setalah hampir seminggu kita gak tinggal disana, aku merasa sekarang kebalikannya. Bapak masih khawatirin aku, dan belum biasa gak ada aku yang sekarang sudah ada kamu. Aku pikir dengan seringnya aku gak di rumah, aku akan terbiasa mandiri dan lepas dari pengaruh ibu. Tapi ternyata aku lupain sesuatu seseorang. Aku lupa Bapak. Bapak sekarang sakit karena gak ada aku. Bapak sepi karena gak ada aku. Karena dari dulu bapak memang gak bisa ngambil hati adik. Cuma hati aku yang bisa Bapak ambil.

Dear sumamiw,
Jagain anaknya Bapak Mertua kamu terus ya...Bapak udah percaya banget sama kamu. Jangan bikin Bapak kecewa ya sumamiw...

Terima kasih udah bikin orangtua aku cinta banget sama menantunya :)

Tuesday, April 24, 2012

love letter to hubby #1

sumamiw...

disayang ya istrinya...

ditemenin terus ya istrinya...

jangan pernah pergi ya...

sama kalau istrinya kalap makan sama marah-marah, disabarin terus ya... *ups

So do I, honey...so do I...

Love you with all my heart, dear sumamiw....






Tuesday, April 10, 2012

Mrs. Pujo Arthomo Dharmawan

Hola!
2 hari ini saya positif menyandang status menjadi istri orang. Aneh, seneng, belom biasa udah pasti bakal jd makanan sehari-hari. Terima kasih atas ucapan dan doanya yaa...mau lanjut bobo lagi, hehe.


9 April 2012, Hotel Ibis, Solo.

Monday, March 26, 2012

minus 2 minggu

Hola!
Kemarin tepat minus 2 minggu. Makin deg-degan? Enggak juga sih. Dari minus beberapa bulan terakhir bawaannya pengen cepat kelar urusannya. Nikah tuh rempong! Urusannya gak selesai-selesai. Heran sama artis atau orang-orang yang bolak balik nikah, gak repot apa?

Anyway, temen saya si Pipie baru saja dilamar Sabtu lalu. Awalnya dulu, Pipie pernah bilang kalau mungkin tidak akan ada lamaran. Ternyata karena Ayahnya datang ke Indonesia lebih cepat, beliau mengharapkan adanya lamaran dengan keluarga inti saja. Akhirnya, jadi deh si Pipie Dermawati (bukan nama sebenenrnya :p) dilamar oleh Pendekar Lubang Buaya, alias Didik Pramuji. Dan pake cincin gitu hari ini, ciyeee...

Pas hari dimana Pipie dilamar, saya cerita ke Mas Pujo. Lamaran PIpie ini unik. Karena Ayah Pipie memang dinas di luar negeri, jadi jarang sekali ketemu dengan Didik. Beliau menitip pesan pada Pipie kalau pas lamaran nantai Didik harus meminta sendiri ekpada beliau. Pas saya cerita itu, Mas Pujo tiba-tiba berkata: "aku juga dulu minta duluan sebelum lamaran." Hah? Saya agak tidak percaya sih, masa sih si pendekar sipit satu ini berani ngomong langsung. Ternyata eh ternyata, cekidot deh perbincangan di bawah ini:

Saya: ah masa?? aku kok gak tau
Mas Pujo: yaelah, iya. aku minta dulu sama bapak, sayang.
Saya: kapaaan?
Mas Pujo: pokoknya setelah bapak ibu aku dateng mau ngomongin acara lamaran, aku ngomong sendiri sama bapak, kalo mau ngelanjutin hubungan sama kamu.
Saya: *mulai tersipu* ah serius?? giman gimana ceritanya??
Mas Pujo: duuh! Pokoknya aku bilang "Pak ujo minta ijin mau ngelanjutin hubungan sama Prita ke jenjang lebih". Gitu deh.
Saya: Trus Bapak ngomong apa?
Mas Pujo: Bapak malah ngomong "oh gitu" doang trus langsung ngambil kalender sambil bilang "jadi gini ya jo, bla bla bla...". lah aku gak ditanggepin... -___-
Saya: Hahahahahahaha... *peluk*

Kocak emang deh si Bapak. Jadi dulu pernah waktu awal-awal pacaran kita berdua mau ke daerah manggarai gitu. Si pacar emang gak tau jalan, akhirnya dibikinin denah dong sama si Bapak. Kerajinan deh. terus pas Ujo dateng si Bapak manggil dia "jadi gini, Anda lewat sini, lalu msuk ke jalan bla bla bla". Dipanggil Anda dong ah, sontak dong jadi bulan-bulanan saya, dan sempat dia dipanggil Mas Anda. Hihihi...

Tuesday, March 20, 2012

Tentang Mantan

Halo!
Beberapa waktu belakangan, Dave hendrik, salah satu presenter terkenal, sedang berbagi mengenai hari pernikahan. Hari ini temanya adalah: “Akankah calon pengantin wanita mengundang mantan di hari pernikahan?” Well, saya punya banyak jawaban mengenai hal itu.

Rata-rata, banyak follower yang menjawab “pasti mengundang”, “iya dong”, atau “harus mengundang” dengan berbagai maksud. Versi saya untuk jawaban pertanyaan tersebut adalah:

Saya tidak mengundang mantan-mantan (ehem banyak ya? :p) saya.

Alasan pertama, saya tidak rela berbagi kebahagiaan di hari istimewa saya dengan seseorang yang pernah tidak membahagiakan saya. Saya sengaja tidak memakai kalimat “merusak kebahagiaan”, karena menurut saya itu terlalu ‘halus’.

Alasan kedua, I used to be happy with ‘em. Saya sengaja menghindari tatapan mantan-mantan saya, yang mungkin akan senyum palsu atau berkata yang tidak-tidak. Ya, saya setidaknya pernah sangat mengenal dan tahu sifat mereka.

Alasan ketiga, mengundang mantan bukan sebuah pembuktian kalau kita sudah move on kok. Move on atau enggaknya seseorang setelah memutuskan jalinan hubungan dekat, itu tergantung pribadi masing-masing. Karena menurut saya, ngapain juga pamer “hei gw udah move on” ke mantan dengan mengundang ke pernikahan. Itu sama aja masih ngarep dia cemburu, you know ;). Menikah menurut saya itu takdir, putusan Allah. Kalau dari awal niat mengundang untuk hal yang kurang baik, amit-amit banget kalau balesannya nanti malah hubungan suami-istri jadi berantakan. *jangan sampe*

Alasan keempat, menjaga silaturahmi dengan mantan memang baik, terlebih mengenal baik keluarganya juga. Saya mengenal baik keluarga mantan. Saya pun masih berhubungan baik dengan mantan-mantan. Ucapan selamat dan doa saya rasa bisa disampaikan melalui sms, telepon atau bbm. Tokh teknologi sudah semakin canggih.

Alasan kelima, ada seorang mantan yang (maaf) sangat brengsek. Dia memutuskan saya karena saya menolak ia mencampuri kehidupan saya dengan keluarga dan masa depan saya. Wong jadi suami aja belum, sok ngatur-ngatur khan? Dia marah, dan mulai menhitung-hitung apa yang sudah ia berikan/ belikan/ lakukan pada saya. Saya mulai benci dia sejak saat itu hingga sekarang, walaupun hubungan kami sekarang sudah baik (beberapa kali bbm-an). Saya tidak ingin ia datang di pernikahan saya, dan memberikan entah angpaw atau bingkisan. Nanti malah diitung-itung lagi ;)

Sementara itu sih yang saya inget kenapa saya tidak ingin mengundang mantan di hari pernikahan saya. Maaf kalau Anda mantan saya dan membaca tulisan ini. Oh ya, kalau ada yang tidak setuju dengan tulisan ini, mohon dimaafkan. :)

Monday, March 19, 2012

minus 3 minggu

Hello!
Minus 3 minggu, hari Minggu kemarin.
Dalam waktu 3 minggu ke depan, saya akan menikah dan memulai kehidupan baru. Banyak warna-warni yang saya rasakan menghadapi tanggal tersebut. Mulai dari suka, duka, sedih, marah. Yang terakhir sih, lagi sering nangis. Gak tau kenapa, kalau liat foto, tayangan, apa ngebayangin akad nikah langsung nangis. Gak siap jadi istri orang, wajar. Cuma lebih ke "ya ampun, gw udah gede. Masih mau dimanaja bapak sama ibu". Inget banget, kalau Bapak dulu dinas ke luar negeri atau luar kota, pasti gak betah lama-lama. Soalnya anaknya yang mbarep ini pasti sakit kalau ditinggal lama-lama. Lah ini, calon mertua udah wanti-wanti harus tinggal di rumahnya juga. Bahkan diiming-imingin bakal dibikinin dapur di kamar atas. Walah!

Jujur, saya lebih memilih untuk tinggal di rumah sendiri. Belum siap untuk tinggal di rumah baru (belum ada sih rumah barunya). Saya masih mau bercengkrama dengan bapak, ibu, dan takut kangen berantem atau ketawa bareng mereka. Bapak - Ibu saya pun sudah sepuh. Mengingat adik saya juga sering dinas ke luar kota, rasanya mungkin bagi saya untu tetap tinggal di rumah. Ah sedih! :(

Mmm, sebagai penyembuh sedih biasanya saya melihat-lihat lagi koleksi foto prewed saya yang fotografernya si Ridho Sanusi. Ada beberapa yang sudah diedit, cekidot!






Doakan kami ya!

Thursday, February 16, 2012

malu-malu(in)

Halo!
Tumben-tumbennya kemarin pas adzan Maghrib, saya sudah sampai rumah. Itu semua berkat tenggo, yang bener-bener ngaruh. Sesampainya di rumah, ibu saya tiba-tiba nyeletuk: “Eh Indonesian Idol udah mulai lagi!”. Acara yang dulu selalu saya tunggu-tunggu di setiap musimnya. jadi inget sesuatu...

Jadi ceritanya gini, dulu saya pernah memimpikan ingin menjadi seorang penyanyi. Kalau gak salah, jaman-jamannya saya bingung mau jadi apa pas udah lulus kuliah nanti. Waktu SD, saya ingat kalau saya pernah mengikuti sebuah perlombaan menyanyi. Bukan mengikuti sih, tapi lebih ke ‘disuruh’ sama guru, karena kebetulan suara saya lantang. Jadilah dulu saya membawa tim paduan suara menang menjuarai lomba menyanyi antar SD, dan akhirnya membawa saya dikirim ke tingkat kabupaten. Too bad, saya kalah. Klise, demam panggung. I mean, panggung yang di tingkat kabupaten lebih gede rupanya. Hehehe…

Anyway, setelah itu saya tidak pernah mengasah bakat menyanyi saya lagi. Saya cuma tahu, kalau saya tidak buta nada dan mengenal lagu-lagu lama yang sering dinyanyikan ibu dan bapak. Sekitar SMA mungkin, lagi musim-musimnya “pulang sekolah yuk kita nge-band”. Jujur, saya iri sama yang bisa bermain alat musik. Mereka punya alasan untuk datang ke studio musik. Beda dengan saya, sudah tidak bisa main musik, malu pula untuk bilang saya bisa nyanyi. Hingga suatu hari saya diajak salah satu teman paskibra saya untuk mengunjungi sebuah studio musik yang letaknya tidak jauh dari rumah saya. Dekat sekali. Disitu saya mulai mengenal dunia musik, walau cuma selintas dengan alasan “diajak sama temen”. Sampai saya akhirnya dekat dengan salah satu operator studio tersebut, dan sempat berpacaran. Karena putus, saya sempat tidak mengunjungi lagi studio tersebut. Jujur, jiper juga ketemu mantan yang udah dapet gandengan baru.

Sampai akhirnya saya diajak teman saya untuk mengisi vokal di band-nya. Iseng awalnya, karena saya memang sudah lama tidak bernyanyi lagi. Paling banter kamar mandi, dengan saksi bisu gayung, sabun dan sampo. What a surprise, teman saya suka dengan kualitas suara saya dan diajak lagi untuk berlatih intens…yak di studio tempat mantan saya bekerja itu. What a lucky me, orang-orang di studio lebih bersahabat dengan saya karena memang saya gampang bergaul dan mudah dekat dengan siapa saja. Menariknya, saya sudah tidak canggung ke studio dan mulai berlatih intens disana. Pensi, lomba band antar kelas sampai perpisahan SMA saya selalu dipercaya untuk menyanyi. Alhamdulillah, selain dikenal dengan “oh si Prita yang anak Paskibra itu”, guru-guru juga mengenal saya dengan sebutan “oh si prita yang anak paskibra dan yang suka nyanyi itu ya”. Lumayan lah ada tambahannya :p

Setelah kuliah, kegiatan pasti makin bertambah. Sibuk? Pasti. Tapi saya tetap aja tuh bandel ke studio. Bandel dalam hal ini adalah pulang kuliah bukannya pulang malah main ke studio. Saya ngobrol dengan banyak orang yang saya kenal, dan sering ditutup dengan nyanyi bersama-sama. Sekitar 2006, ketika saya dekat dengan mantan kesekian saya (mantan terbaik, tersabar, dan masih baik sampai sekarang), saya diminta untuk manggung. Setelah hampir setahun saya vakum tidak manggung, ini kali pertama saya diajak untuk nyanyi lagi. Gak jauh-jauh sih, di acara tujuh belasan di RT tetangga. Karena memakai peralatan dari studio, kami sekalian diminta untuk manggung. Lumayan, untuk penampilan pertama saya di jenjang kuliah saya menyanyikan 5 lagu, bersama grup band top 40 saya. Band Top 40 itu band yang suka bawain lagu-lagu ter-IN saat itu.salah satu personelnya, adalah si mantan saya yang juga operator studio itu. Tapi seneng, waktu manggung pacar saya yang dulu mantan duduk di depan panggung, tepat melihat saya. Hihihi *malu*

Penawaran nyanyi mulai berdatangan. Yang paling gila, setelah itu saya didaulat untuk nyanyi di Ciledug dan sorenya di Mall Depok. Waktu itu, saya diminta untuk menggantikan salah seorang personel sebuah band top 40 yang sedang sakit. Lumayan nambah pengalaman lah waktu itu, dan capek juga ngerasain jadi penyanyi yang super sibuk seharian nyanyi terus. Kalau yang di Ciledug itu acara pensi, dan yang di Mall Depok kalau tidak salah acara launching Ayodya Pala, salah satu sanggar tari ternama di Depok. Jam terbang saya mulai tinggi, baik mengganti personel yang tidak hadir atau solo. Sayangnya, saya harus berhenti karena kewajiban saya sebagai mahasiswa agak tersendat, walaupun tidak menurunkan indeks prestasi di kampus.




Awal 2007, saya mencoba peruntungan untuk audisi Indonesian Idol. Disuruh Ibu sih, daripada maen di studio gak jelas, katanya. Saya ingat sekali harus bangun jam 4 pagi untuk berangkat ke Balai Kartini setelah solat Subuh. Sampai Balai Kartini sekitar jam 6 pagi, dan antrian sudah menyemut hingga keluar gerbang balai kartini. Believe it or not, saya bahkan belum tahu lagu apa yang akan saya nyanyikan saat itu, entah terlalu excited atau grogi. Sampai terlintas ingi menyanyikan lagu “surat cintaku”-nya Vina Panduwinata, yang suka dinyanyiin sama Ibu kalau konser di kamar mandi. Eeeh, panitia suara seorang panitia membahana: “bagi peserta audisi Indonesian Idol diminta dengan sangat untuk tidak menyanyikan lagu Ratu (saat itu vokalisnya Mulan) ataupun Vina Panduwinata, karena sudah terlalu banyak yang menyanyikan dengan berbagai nada.” Walaaah, bubar ide saya! Bingung bingung bingung, karena kanan kiri saya suaranya oke banget semua! Tidak ambil pusing saya langsung teringat ingin menyanyikan lagu Prahara Cinta – Shelomita. Apa lagu Dia – Reza ya? Ah yasudahlah, mudah-mudahan nanti kalau sudah dipanggil gak grogi.

Tiba giliran saya, saya sumpah tambah grogi. Dingin, nervous, pengen poop, semua jadi satu. Pas ditanya mau nyanyi apa, dengan mantap saya bilang:”Prahara Cinta, Shelomita”. Dan tahu apa yang terjadi saudara-saudara setelah panitia menyilahkan saya untuk bernyanyi, mulut saya malah menyanyikan refrain lagu Dia – Reza yang berbunyi: “oh malunya hati ini bila kuingat saat itu, bla bla bla”. Yeah, lo emang malu-maluin Prita! Mentang-mentang reffrain Dia dan Prahara Cinta ada unsur malu-malunya, yang saya lakukan justru malu-maluin. Saya sadar setengah mati, dan mungkin panitia juga kaget kenapa yang keluar di mulut saya justru lagu lain, saya langsung keluar dan mengambil bingkisan sponsor dan ingin pulang saat itu juga. Sebagai tambahan, saya antri dari jam 6 pagi, baru mendapat giliran ‘memalukan’ itu sekitar pas adzan Dzuhur.

Untungnya saya tidak meneruskan karie menyanyi saya itu ya, hihi..malah terdampar jadi editor. Yaaah, menyanyi bagi saya cukup jadi hobi aja deh akhirnya :D

Monday, February 6, 2012

LELAYU

Halo!




It’s dark outside. Dan saya memilih untuk berhenti mengedit naskah karena tiba-tiba teringat sesuatu.

Innalillahi wa innailaihi roji’un.

Minggu lalu sepertinya Tuhan memilih untuk memanggil hamba-hamba terbaik-Nya. Tuhan rindu pada mereka. Selain Indonesia kehilangan dua public figure ternama, Ade Namnung dan Him Damsyik, keluarga besar Kirnopanuksmo (keluarga Ayah saya) kehilangan dua orang anggotanya. Kehilangan pertama adalah suami dari sepupu tercinta saya, Mbak Tia, meninggal dunia Jumat lalu. Mas Agus, suami Mbak Tia yang saya kenal sekitar 9 tahun yang lalu, berpulang dalam damai meninggalkan istri tercintanya dan satu keponakan saya, Ilham, yang masih duduk di kelas 1 SD. Miris. Terlebih sedari lahir anak ini seperti tidak mempunyai figure bapak karena penyakit yang diderita Mas Agus. Satu hal yang saya ingat, sepulangnya dari kantor saya diceritakan oleh Bapak mengenai proses pemakaman Mas Agus. Ilham, yng memang terkenal hiperaktif, cenderung diam dan mengerti sekali keadaan saat itu. Bahkan, demi ‘menghindari’ sang ibu yang terlalu berduka, Ilham rela dititipkan di rumah tante saya, untuk bermain bersama keponakan saya yang lain. Bapak pun sempat berkata: ”Kasian, masih kecil udah jadi anak yatim.” Astaghfirulloh, runtuh rasanya hati saya saat itu. Membayangkan bagaimana kehidupan Ilham nantinya. Membayangkan bagaimana reaksi dari teman-teman di sekolahnya. Ya Allah… Syukur, Allah sempat memberi titipan pada keluarga kecil mereka yang sampai sekarang terus mengilhami kehidupan Mbak Tia. Saya berharap, semoga dibalik kehilangan kehilangan ini terdapat hikamh yang luar biasa dahsyatnya. Amin

Kehilangan kedua, dari keluarga Bandung. Keluarga adik bapak. Abah Amir, mertua laki-laki dari adik bapak, meninggal dunia hari sabtu malam. Di usianya yang 90 tahun, Abah mungkin wafat karena usia tua. Walau begitu, Abah tampak bahagia, mengingat ia sempat melihat keseluruh anaknya menikah, cucunya menikah, hingga mempunya cicit-cicit yang lucu. Sesaat setelah disholatkan, saya tertegun. Saya membayangkan betapa hal-hal terbaik npernah saya dan keluarga lewati selama mengenal Abah. Bahkan saat istrinya meninggal 12 tahun yang lalu, Abah adalah orang yang sangat kuat dan terus berkelakar demi mengatasi rasa dukanya. Mas Agus, Abah, may you rest in peace, dan damai di surga Allah.

Amin Ya Robbal ‘Alamiin.

Wednesday, February 1, 2012

cobaan X cobaan = cobaan kuadrat

Halo!
Hati saya mungkin agak sedikit sendu karena (lagi-lagi) tentang wedding stuff. Setelah seorang sahabat di kantor melangsungkan pernikahan-dengan-persiapan-22 hari-nya, sekarang tinggal Pipi dan saya yang masih harus menelan pahit-getir-senang-susah menyiapkan pernikahan yang tinggal hitungan minggu. Kemarin saya mendapat kabar dari seorang sahabat , yang pacarnya mantannya adalah sahabat Mas Pujo. Kemarin, setelah sekian lama, kami akhirnya bertukar pin BB dan berkomunikasi layaknya orang yang sudah tidak pernah bertemu tahunan dan membicarakan tentang pernikahan saya. Sebagai sahabat, saya merasa tidak enak karena dia selalu menanyakan apa saja yang sudah saya persiapkan, dan saya menjelaskan dengan riang. Saya juga bertanya kapan ia menyusul, namun tidak dijawab. Bahkan, terlihat sekali ia menampik dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan untuk saya.

Sempat saya menitip pesan, “tolong bilangin abang kalau aku nikah nanti dia pulang ya jeng?”. Kami memang seperti itu, selalu janjian jika ada yang menikah. Sampai pada akhirnya ia tidak membalas BBM saya, dan ia mengirim pesan yang membuat saya cukup bergidik serta menumbuhkan nafsu ingin menghajar sahabat Mas Pujo itu.

Isi pesannya adalah: “Sepertinya aku tidak menyampaikan pesan kamu untuk menyuruh abang pulang, prit. Abang sudah memilih wanita lain yang menurutnya lebih cocok untuk dia. Gagal sudah rencana menyebarkan undangan untuk bulan Juni.

Astaghfirullah ‘al adziimm…

Cobaan apa lagi yang menimpa persiapan pernikahan saya? Di kala saya mencak-mencak menghadapi banyak kepala yang mengatur rencana pernikahan ini, saya malah dihadiahi berita kejutan yang tidak mengenakkan. Yang saya bisa lakukan hanya memberikan BB saya ke Mas Pujo sambil berkata: “temen kamu nih! Dididik macam apa sih sampe bisa nyakitin perempuan sabar macem sahabatku?”. Sebagai tambahan, sambil menahan tangis.

Sampai hari ini (sekarang), saya masih bertukar pesan BBM, dan belum menyangka kalau hal ini terjadi. Yang patut mengagumkan dari sahabat saya ini adalah, dia mengkhawatirkan saya takutnya akan berubah pikiran mengingat sudah H-2 bulan pernikahan. Dia gak mau saya seperti itu. Insya Allah, saya tidak mau dan akan selalu berbakti kepada Mas Pujo menjelang dan setelah menikah nanti. Amin Ya Rabb…

Itu baru hal pertama. Hal kedua saya rasakan, paling tidak, dua hari terakhir ini. Kawan-kawan di kantor merencanakan pergi ke Jawa Timur sedapatnya cuti tahunan kami yang jatuh kira-kira di bulan Juli 2012. Dari awal saya memang hobi traveling, dan sudah punya pikiran liar akan kemana saja setelah saya sudah menikah dengan Mas Pujo. Maksudnya, sebelum menikah kami khan masih di bawah pengawasan kedua orangtua kami, jadi kalau sudah menikah sudah sah, begitu lho!

Anyway, saya juga mengimpi-impikan bepergian dengan teman sekantor, seperti yang pernah terlaksana di bulan Oktober lalu (Cirebon Trip). Nah hari pernikahan saya mulai dekat, saya pun makin intens ngobrol soal wedding stuff di meja bundar (meja di kubikel berbentuk bundar, yang tidak jarang kami pakai untuk makan siang). Semenjak itu pula, ketika saya mulai bawa bekal diet untuk makan siang, saya sudah jarang berkumpul dengan tim hura-hura. Di saat itu pula, saya merasa sudah jauh dan banyak obrolan yang saya lewatkan. Mengingat juga banyak kicauan, dan saya tidak termasuk di dalamnya. My bad, gampang sensi. Tapi pernah suatu kali saya meminta dikasih tahu dan ngobrol, mereka malah berkata (mungkin bercanda): ”ah lo khan udah ada yang biayain, tau jadi aja deh. Hahaha!”

Astaga, sebegitukahnya saya? Sebegitukahnya saya terlalu mengumbar wedding stuff? Sebegitukahnya saya sampai tidak mau berkumpul dengan yang lain? Kenyataannya, saya ,alah merindukan masa-masa itu. Saya ingin sekali diajak, mengobrol seru, atau apa saja asal bersama-sama. Kalau hal itu bisa dilakukan, kenapa ke saya tidak?

Sebegitukahnya lembaga pernikahan akan membeda-bedakan situasi akrab di kantor? Kenyataannya, Mas Pujo begitu tegas berkata pada saya kalau “kamu mau pergi pas kita udah nanti, boleh kok. Mau kemana? Medan? Jawa Timur? Gapapa, aku ngijinin, asal ada anak-anak.”

Overall, mungkin saya hanya bisa menyimpukan: “saya tidak ingin dibeda-bedakan dalam hal keuangan setelah saya nikah nantinya, keberadaan dan posisi saya, atau apapun itu. Kedudukan saya di kantor insya Allah masih tetap sama, KECUALI saya langsung mengandung setelah saya nikah, dimana itu memang tidak memungkinkan untuk pergi”.

Sekian.