Sunday, January 22, 2012

Harmonika

Ya! I met him again. Saya bertemu dengan bapak tua, si pengamen harmonika lagi. Pertama kali bertemu dengan dia, sekitar tahun 2009. Waktu itu saya dan pacar masih mempunyai waktu untuk sekedar berolahraga bersama. Saya bertemu dengan si Aki-begitu beliau menyebutnya juga-di Mesjid Nurussalam, yg terletak sekitar 200 meter dari rumah. Beliau membawa tas kecil, memakai kemeja dan celana lusuh, topi bundar, dan sepatu kets. Ia memainkan harmonika, kalau tidak salah memainkan lagu Ibu Kita Kartini. Dalam keadaan bokek berat, saya samar-samar teringat hanya memberikan nasi bungkus (dari rumah) dan uang sebesar 3ribu atau 5rb. Kebetulan hanya itu yang tersisa di dompet saya :'(. Dulu saya mengira bapak memiliki gangguan penglihatan, karena jalan pakai tongkat, seolah tongkat itu hanya pijakan yang dia punya untuk melihat. Beliau sampai memegang tangan saya dan Mas Pujo untuk memastikan siapa yang peduli dengan dia. Kami berdua sampai menitikkan air mata, karena trenyuh mendengar dia berdoa panjang sekali untuk kehidupan kami. Merasa belum cukup, saya bergegas kembali ke rumah untuk meminjam uang ibu saya. Saya ingin memberinya lebih. Namun sayang, pas kami mencari beliau, beliau sudah tidak terlihat. Sungguh mengutuk dompet saya kala itu, karena bisa menghasilkan uang yang tak seberapa.






17 Agustus 2011
Di tanggal ini kebetulan hari libur. Saat sedang leyeh-leyeh di depan TV menunggu pengibaran bendera dari Istana, saya sayup-sayup mendengar suara harmonika memainkan reffrain lagu Hari Merdeka. Saya langsung terlonjak, dan mengambil dompet. Alhamdulillaaaah, gak hina-hina banget isi dompet saya. Saya berhasil membayar kekecewaan saya, dan benar-tidak salah lagi suara harmonika itu berasal dari tiupan lembut si Aki. Aki sudah tidak memakai tongkat, tapi beliau memakai kacamata. Pandangannya masih sedikit kabur, jadi memang dia melihat dengan telinga. Saat saya menyelipkan 'hak' beliau di tangannya, Aki langsung memegang tangan sambil berucap "sepertinya Aki gak asing dengan suara Neng. Kita pernah ketemu ya?". Subhanallah, beliau masih mengingat peristiwa 2 tahun lalu. Ya Allah, Maha Besar bisa menemukan kami kembali. Kembali, Aki mendoakan saya panjang lebar, dan saya hanya bisa menangis tersedu sedan dibuatnya. Tidak pernah saya mendengar orang yang begitu mendoakan saya dengan tulus langsung di depan mata. Saya langsung mengirim sms ke Mas Pujo. Dia senang sekaligus sedih karena kangen bertemu dengan Aki. Begitulah kami, sama-sama takut darah dan gak tega ngeliat orang-orang tua yang masih harus bekerja :')

22 Januari 2012
Lagi-lagi saya sedang bersantai di rumah. Sayup-sayup sekali, seperti ada yang memanggil saya, saya mendengar lantunan harmonika yang membawakan lagu "Layang-Layang". Sebelumnya, Bapak saya yang hobi sekali membaca buku di teras tiba-tiba masuk dan ingin menutup pintu ruang tamu. "Ada pengamen," katanya. Pas terdengar suara harmonika, serta merta saya langsung berteriak: "aku mau ngasih pengamennya!".
Rindu memuncak dan lega seketika bercampur ketika saya melihat Aki tampak sehat. Masih setia dengan pakaiannya: kemeja putih lusuh yang dimasukkan ke dalam celana panjang, topi bundar, kacamata, tas kecil, dan sepatu kets. Subhanallah, masih tercantel di pikiran saya. Saya langsung menghampiri dia. Karena dia bukan pengamen model mengunjungi rumah satu-satu. Dia hanya berjalan pelan, sambil memainkan harmonikanya dengan merdu. Sungguh, saya merindukan alunan harmonikanya dan Aki sekaligus. Kali ini saya langsung menghampiri, dan berjabatan tangan dengannya. Tapi sepertinya dia sudah lupa dengan suara saya. Tak apalah, saya yang sangat merindukan dia juga. Sembari menyelipkan 'hak' beliau, saya bertanya "Bapak sehat? Bapak tinggal dimana?". Dia menjawab: "aki tinggal di Cimanggis, sama teman-teman ngontrak. Makasih ya neng, neng kuliah apa sudah berumah tangga?". Sontak saya ingin tertawa, mungkin muka saya masih pantas seperti anak kuliah sekaligus ibu rumah tangga. Saya hanya bilang: "kerja, aki."

Aki lantas berdoa. Seperti biasa, panjang dan tulus. "Semoga kerjanya lancar, sehat, sukses terus ya Neng". Beliau berkata itu sambil mengelus bahu saya. Ya Allah, perih rasanya hati saya... Karena tiba-tiba terlintas kondisi Mbah Kung Mas Pujo yang lagi sakit parah. Asmanya sudah tidak bisa ditolerir lagi sehingga harus dibawa ke RS. Sambil bolak-balik berbaring dan duduk, beliau sempat ngomong: "Astaghfirulloh, Allahuakbar...jangan pada buang-buang waktu ya. Dzikir, inget sama Allah".

Astaghfirulloh, saya, Mas Pujo, dan Aji-sepupu Mas Pujo seperti ditampar untuk lebih mengingat sang Maha Kuasa. Kami tidak mau melihat Mbah Kung semenderita alm. Mbah Putri yang begitu tersiksa selama 3 hari sebelum beliau meninggal. Kami hanya berharap yang terbaik untuk Mbah Kung agar pulih seperti sedia kala.

Ya Allah, lindungi Aki, Mbah Kung, dan kedua orangtua kami ya.... Sehatkanlah mereka, Amin.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Friday, January 20, 2012

nikah dan resign

halo!
Saya baru saja tiba di kantor setelah kurang lebih 3 jam menembus jahanamnya panas kota Bekasi. Saya diantar oleh seorang rekan kantor lelaki bernama Mas EW (kok agak aneh ya?)

Ah-nyway, dia orang yang lempeng dan suka cerita. Macem-macem ceritanya. tentang pernikahannya, karena saya sedang menyiapkan pernikahan; tentang keluarga; dan tentang pekerjaan. Nah yang terakhir ini memang agak sensi permasalahannya.



Baru-baru ini seorang sahabat baik saya di kantor memutuskan untuk mengundurkan diri. Dia sedang dihadapi dengan kenyataan harus menikah mendadak, dan mengikuti jejak sang suami untuk tinggal di Bandung. Rencananya yang super mendadak ini memang cukup mengejutkan kami, dan juga sang bubos. Masalahnya, beliau sedang sering tidak di kantor dan sekalinya ke kantor udah ada kabar begitu aja.

Sebenernya gosip dan isu setelah nikah langsung resign ini gak juga baru seumur jagung lamanya. Contohnya,saat saya bercerita ke sang mbabos kalau mau ada rencana nikah, dia langsung histeris “terus lo resign?”. Saya, yang notabene masih muda bergairah dan penuh semangat ini (sorry narsis) gak serta merta juga sih jadi ibu rumah tangga yang setiap minggu minta jatah sama suami buat shopping. Nah, I don’t wanna like that. Bukan tidak menghormati profesi ibu saya yang murni menjadi rumah tangga, justru saya dinasehati orang tua untuk turut bekerja memenuhi nafkah membantu suami. Dan PAS, saya karyawan swasta dan calon suami PNS. Alhamdulillah…

Intinya, saya gak akan segitu (sorry) begonya untuk melepas pekerjaan, seperti anggapan orang di kantor. Saya butuh juga pemasukan untuk pribadi (at least membantu suami untuk tidak ‘jajan’ menggunakan uang rumah tangga). Dan saya masih bersyukur, walaupun sewalaupun-walaupunnya kantor saya ini err..emm brengsek kebijakannya, lokasinya masih cukup strategis dengan tempat tinggal saya.

Kembali ke topik, si Mas EW. Doi tadi cerita ke saya kalau dia sudah tidak kuat lagi bekerja di kantor kami tercinta ini. Dia merasa bidangnya bukan disitu lah, gak kuat lah, udah gak oke suasananya lah, begitu lah intinya. Sebagai orang yang lebih muda dan minim pengalaman, saya memang tidak berhak menasehati. Dan menurut saya, permasalahan dia jauh lebih kompleks, mengingat istrinya tidak bekerja dan anaknya sudah 2 (makjang!). Sepanjang 3 jam perjalanan kami pulang pergi tadi, dia terus menerus mengeluh. Dalam hati saya, jujur saya salut sekaligus iba dengan mas EW. Tapi saya bersyukur, Alhamdulillah tidak ada masalah selama 9 bulan bergabung di kantor ini, dan belum ada terlintas untuk resign dalam waktu dekat.

Dengan ini, saya nyatakan, bahwa saya tidak akan resign ya mbabos-bubos setelah nikah…:)

Sekian.

Thursday, January 19, 2012

que sera sera

Je mag zijn wie je bent en zoals je bent
met je fouten en gebreken
om te kunnen worden,
die je in aanleg bent
maar zoals je je nog niet kunt vertonen
en je mag het worden op jouw wijze
en in jouw uur!


you can be who you are and as you are
with mistakes and flaws
in order to become
the person that you are meant to be
but since you cannot present yourself just yet
you may become (that person) in your own way and in your own time


dari sini

Saturday, January 14, 2012

n.b.t.s.a

I thought that we would just be friends

Things will never be the same again

It's just the beginning it's not the end

Things will never be the same again

It's not a secret anymore

Now we've opened up the door

Starting tonight and from now on

We'll never, never be the same again

Never be the same again.




Melanie C - Never be the Same Again

Tuesday, January 10, 2012

die(t)

3 bulan lagi 3 bulan lagi 3 bulan lagi.

Dan ibu saya setiap hari cuma satu hal yang diomongin, yaitu DIET.
Wakwaw!

Setelah pernah naik 10 kg karena pengaruh obat hormon jaman awal kuliah dulu (damn you shit med!), memang sekarang rada susah buat nurunin berat badan. Terlebiiih udah mau nikah. Dulu pernah makan kentang buat ganti nasi, cuma bertahan 3 hari. Dan pas nemu nasi, surga banget.(baca: nambah 3 kali)

Nah pas udah mau mendekati hari H gini, berbagai usul soal ngurusin berat badan mulai membahana. Saya udah sebel aja, urusan nikah diurusin banyak kepala,masa sampe urusan badan, banyak kepala juga yang ngurusin. Pas saya bilang "macem badan ibu sama tante-tante gak gede aja". Dan cuma dijawab: "ya kita khan pada ibu-ibu". TERUS? *curang

Ibu saya tetap menyalahkan pola makan saya yang hobi makan McD, AW, KFC, atau apapun. Sekalinya makan pizza dituduhnya "makan pizza melulu!". Howalaaah, dua kali dalam setahun juga belum mesti kok buuuw.. -__-

Kalau ibu saya ngotot nyuruh saya untuk fitnes. Pernah tuh tertarik buat fitnes di kampus, eh malah mas-mas instruktur lebih 'naksir' Mas Pujo. Walaaah...

Beberapa hari yang lalu, kepikiran untuk mending akupuntur aja. Salahnya, pake bilang ke Ibu.Ibu langsung ngerongrong lah tiap hari kapan mau mulai, dimana, berapa harganya. Setelah konsul sama temen yang 'pernah' kurus akibat akupuntur, dia sarankan mending jangan. Kenapa oh kenapa ya mau kurus aja kok repot. Ternyata, konon kalau udah merasa kurus dan kita mau nikmatin makanan surga (baca: junk food), berat badan kita malah bakalan lebih cepat naik--bahkan melebihi berat badan awalnya yang gendut pertama. Whew, langsung black list dari metode pelangsingan tubuh.

Sebenernya sih badan saya gak gendut-gendut amat. Cuma kebetulan, lengan saya turunan dari Ibu. Jadi tangan saya agak abnormal, karena bagian lengan agak besar, namun dari siku ke bawah itu kecil dan langsing. Nah jadi kadar saya mulai gendut bukan terlihat dari perut melainkan dari tangan, yang bentuknya agak seperti singkong baru panen.

Sabtu kemarin sempat ada juga temen yang nawarin acai berry dalam bentuk soft kapsul gitu. Cuma si pacar bilang jangan, sampai akhirnya dia bilang acai berry positif berbahaya. Dia sempat googling, dan menemukan sebuah blog yang menyebutkan untuk tidak mengkonsumsi acai berry. Baiklaaah... *ngelus dada

Akhirnyaaa, setelah berkutat dengan segala hal berbentuk kimia aupun tidak untuk melangsingkan tubuh, akhirnya saya memilih jalan sendiri untuk mengganti makan siang yang biasa berupa nasi menjadi rebusan wortel, buncis, dan kentang. Untuk rasa, saya memilih mencocol dengan sambel botolan. Untuk malam, saya baru mengkonsumsi nasi. Mungkin waktu yang akan diganti-ganti, kapan akan makan nasi, bisa pas siang atau malam. Asal sehari sekali makan nasi, dengan jumlah porsi yang dikurangi. Mengingat saya juga punya maag kronis, yang sebenernya bikin serba salah. Walau begitu, mudah-mudahan niat dan jalan saya untuk melangsingkan tangan dan sedikit di perut lancar dan setidaknya mengurangi lingkar keduanya. Amiiin...:)


wish YOU were here

I always be here waiting for you to coming back home

I keep our flowers grow, since we planted the seed many years ago



And I stare at the moon and hope we’ll meet there, hope we’ll meet there

‘cause I miss you
I wish you were here



I know it’s hard for you to stay and so I let you go

But you promised me to never let me down and said that you love me so



And I stare at the moon and hope we’ll meet there, hope we’ll meet there

‘cause I miss you
I wish you were here



Make your dreams fulfilled, and don’t forget to take me with you someday



~endah N rhesa~





kangen KAMU...

terima kasih 2011

Halo!
Walau tahun baru udah lewat, dan orang-orang masih sibuk dengan khayalan resolusi 2012-nya masing-masing, saya mau mengucapkan 2011 untuk:
- meloloskan dan meluluskan saya dari kejamnya skripsi
- menghadiri wisuda S1 lengkap bersama keluarga dan pacar calon suami
- menyaksikan pernikahan salah satu teman baik di D3-S1
- 9 April yang menyenangkan ketika saya dilamar oleh Mas Pujo beserta keluarga
- membantu kelancaran skripsi 3 sahabat saya: Nerissa Febrina, Nysa Hapsari dan Amalia Setiamihardja
- 9 Mei yang mengejutkan karena diterima di Erlangga untuk menjadi seorang Editor
- Ulang Tahun ke-24 yang membahagiakan bersama orang-orang kantor lama atas ide dari Mas Pujo :*
- Juni yang mengesankan karena pernah mengenal Samsonite Boy
- mulai dipercaya menjadi MC di sejumlah acara (I love this part!)
- lebaran yang menggembirakan karena masih diberi kesempatan berkumpul dengan orang-orang terkasih :')
- awal Oktober yang mendebarkan karena tiba-tiba tanggal pernikahan sudah ditetapkan
- 15 Oktober yang penuh kejutan, karena sebelum berwisata ke Cirebon saya dan Nisa mendapat kabar kalau kami menjadi pegawai tetap
- November dan Desember yang dipenuhi dengan kegilaan pekerjaan kantor dicampur euforia menyiapkan pernikahan di bulan April 2012.
- dan dipenuhi berkah di awal tahun berkat warna-warni 2011, berupa kabar dari seorang teman kantor yang akan melangsungkan pernikahan kurang dari 2 minggu ke depan (wow!)




Oh 2011, you're such a great year. Thanks sooo much!

Saturday, January 7, 2012

dismenor, dismenore, dysmenorrhea

Berhubung lagi hari pertama haid, dan langganan kebagian jatah nyerinya atau dismenor, saya mau membagi sedikit ilmu tentang dismenor.
Cekidot!





Dismenore primer sering terjadi, kemungkinan lebih dari 50% wanita mengalaminya dan 15% diantaranya mengalami nyeri yang hebat. Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama.

Nyeri pada dismenore primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin. Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim), terutama jika saluran serviksnya sempit.

Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah:
- rahim yang menghadap ke belakang (retroversi)
- kurang berolah raga
- stres psikis atau stres sosial.

Penyebab dismenore bermacam-macam, bisa karena penyakit (radang panggul), endometriosis, tumor atau kelainan uterus, selaput dara atau vagina tidak berlubang, stres atau cemas yang berlebihan. Penyebab lain dari dismenore diduga terjadinya ketidakseimbangan hormonal dan tidak ada hubungan dengan organ reproduksi.

Perbedaan beratnya nyeri tergantung kepada kadar prostaglandin. Wanita yang mengalami dismenore memiliki kadar prostaglandin yang 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami dismenore.
Dismenore sangat mirip dengan nyeri yang dirasakan oleh wanita hamil yang mendapatkan suntikan prostaglandin untuk merangsang persalinan.

GEJALA
Dismenore menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai.
Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.

Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang.
Dismenore juga sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

PENGOBATAN
Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen, naproxen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.
Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan:
- istirahat yang cukup
- olah raga yang teratur (terutama berjalan)
- pemijatan
- yoga
- orgasme pada aktivitas seksual
- kompres hangat di daerah perut.

Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi.
Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur.

Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan medroxiprogesteron.
Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya dismenore.



*dikutip dari sini dan sini

Friday, January 6, 2012

bad mood

semoga disabarkan

semoga disabarkan

semoga disabarkaaaaaaaaan...



(baca: doa 'jongos' ketika mbabos lagi bad mood)

Thursday, January 5, 2012

salah siapa

Beberapa waktu terakhir, saya sebal dengan beberapa kelakuan orang. Mereka (secara tidak langsung) memandang remeh profesi PNS. Ini sama sekali bukan karena pacar saya PNS, dan membela habis-habisan. Bapak dan Adik saya yang terlebih dahulu menjadi PNS pun tidak bikin saya merasa seperti ini. Ada dua orang kenalan saya yang sudah lama mempunyai anak. Mungkin anak mereka sudah berumur 1,5 – 2 tahun. Menurut saya, setelah menjadi pernikahan, manusia akan masuk ke dalam suatu fase yang baru. Begitu juga saat memutuskan untuk mempunyai anak. Bebrbagai tanggung jawab dan kewajiban mau gak mau harus siap diterima. Nah, sebagai orangtua yang bertanggung jawab, seharusnya (ini menurut saya loh ya) hak anak sudah terpenuhi dari sejak mereka dalam kandungan. Apalagi ketika sudah dilahirkan. Hak utama anak saat dilahirkan adalah memiliki akte.

Saat saya kecil hingga remaja, saya hanya menganggap akte hanyalah selembar kertas yang dipakai ketika kita mau mendaftar sekolah. Itu saja. Namun setelah saya mempunyai KTP, pikiran saya mulai terbuka. Bikin KTP harus pakai akte, kalo ada ‘tukang sensus’ yang ditunjukkin pasti akte, dan untuk keperluan keluarga penting sebagainya. Nah, biasanya setelah melahirkan, memang ada rumah sakit yang menyediakan jasa pemabuatan akte, namun ada juga yang tidak. Mungkin bagi yang diurus oleh rumah sakit, bisa lenggang kangkung saja setelah pulih setelah melahirkan. Beda halnya dengan yang tidak diurus oleh rumah sakit. Contohnya, saya dan adik saya. Kami dilahirkan di rumah sakit YPK, Menteng, dimana dulu pihak RS tidak menawarkan pembuatan akte. Sebagai warga negara yang baik, saya beruntung punya orangtua yang sangat bertanggung jawab. Sesampainya di rumah, setelah ibu saya pulih, baik akte saya dann adik langsung diurus. Walau saya lahir di Jakarta, namun di akte saya tercantum lahir di Depok. Kalau kata ibu saya dulu, dulu agak sulit jika membuat akte di Jakarta karena tidak punya kenalan di sekitar rumah sakit tempat ibu saya melahirkan. Dan ada rumor (dulu) kalau domisili di Depok, berarti aktenya harus tercantum lahir di Depok. Saya sih gak masalah, yang penting saya diakui negara karena mempunyai akte bahkan sebelum berusia sebulan.

Belum lama ini Bapak saya juga harus mengurus surat yang mebutuhkan akte kelahiran beliau. Nah, secara bapak saya sudah tua dan lama bermukim di Depok, pasti bingung lah dimana aktenya. Akhirnya, setelah bolak-balik ke kelurahan dan kecamatn, beliau bisa mebuat akte lahir DI DEPOK, walau dulu beliau lahir di Solo. Thanks God, udah gak ada rumor kalau harus bikin di Solo—sesuai tempat lahir.

Nah, kembali ke topik, ada beberapa orang yang sampai anaknya berusia hampir 2 tahun belum sama sekali mempunyai akte untuk anaknya. Astaghfirulloh. Memang ada satu orang teman saya, yang akhirnya (dengan terpaksa) membawa anaknya ke Kantor Walikota untuk mengurus akte. Dia mengaku salah, walaupun awalanya sempat menyalahkan kinerja bapak-bapak di kelurahan dan kecamatan dan prosedur yang ada. Lah kalau mau direntet sih, salah dia yang gak ngurus hak anaknya dengan benar.

Yang paling mangkel adalah satu orang teman saya lainnya yang bahkan bikin status di FB dengan emosi, untuk complain ke Bapak Walikota Depok. Jadi ceritanya dia belum bikin akte untuk anaknya yang umur hampir 2 tahun, lalu ia marah dengan prosedur bertele-tele untuk membuat akte. Kebetulan saya dapat info dari pacar, memang di penghujung 2011 kemarin ada pemutihan kalau sampai gak bikin akte lahir di awal 2012. Bahkan dia sampai meng-upload situasi orang-orang yang mengantri pembuatan akte di kantor walikota. Dan lucunya, dia malah ketawa-ketawa mengomentari statusnya dan menyebutkan "ya maklumlah warga kurang teladan nih, hehehe". Terus ngapain tadi nyalahin orang lain?

Suka gak ngerti, sebenarnya memang dia yang kelewat (maaf) lambat untuk tidak memperjuangkan hak anaknya sedari lahir, apa memang saya yang bodoh karena hanya mengamati saja? Kalau dia memang akal, kenapa tidak dari sebelum menjelang pemutihan saja mengurus aktenya? Jadi salah siapa, udah ada wadah yang mempermudah membuat akte (seperti kelurahan dan kecamatan) malah disia-siakan “ntar aje ntar aje”? Terus nanti (amit-amit) ngomel-ngomel ke tetangga kalau harus bayar ‘sogokan’ biar cepet jadi. Nah, jadi salah siapa? Sogokan pun gak ada, tapi diada-adain.

Dibalik itu semua, penuh rasa syukur saya panjatkan, Mas Pujo tidak tergabung dalam divisi/ bagian yang mengurus segala tetek bengek akte/ ktp/ surat kuning atau apapun itulah.

Kita aja yang dulu baru menginjak 17 tahun (bahkan belom) udah gak sabar kepingin punya KTP, buat bikin SIM C lah atau SIM A. Masa sekarang pas punya anak gak mau sih usahain yang terbaik buat mereka. :)






Ps: dengan tidak mengurangis rasa hormat, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika ada yang tersinggung atau tidak suka dengan tulisan ini. Kritik dan saran dibuka seluas-luasnya.

Tuesday, January 3, 2012

minus 3 bulan

Hamil?
Bukan.
Ini bukan tentang judul lagu dangdut yang kampungan namun ngetop itu kok. 3 bulan. Yak, 3 bulan lagi saya akan melangsungkan pernikahan.

Sungguh deh, buat kalian yang baru jadian anget-angetnya dan ngerasa dunia milik berdua sampai kiamat, yang namanya siapin pernikahan itu sama sekali gak enak. Kalau di pikiran kalian cuma pesta, pesta, dan pesta, itupun gak semudah itu. Lah, kok ini jadi emosi ya? Hehehe, stres nih sodara-sodara.

So far, untuk pernikahan ini saya bisa bilang sudah 70% prosesnya. Yang sekarang lagi diurus adalah surat nikah, yang kayaknya saya perlu bantuan dari sini .. thanks pal! Terus belom bikin baju buat midodareni deng! Hehehe. Yang udah direncanain sih mau beli bahan seragam buat temen-temen terdekat. Eh iya, sama akhir bulan ini mau bikin undangan. Ternyata 30% sisanya yang belom siap itu banyak.

Anyway, sungguh deh. Stres banget ngurusin pernik-pernik menuju nikah itu. Secara ya Jawa totok banget, dan harus siap bernangis-nangis ria, karena bakal bolak-balik sungkeman. Saya aja yang biasanya ditinggal ibu ke Solo sehari atau 2 hari suka mellow, nangis sendiri. Ahh, gak siap! Bayar nangisnya boleh dari hari ini aja gak??

Bingung dengan banyak kepala yang mengurus pernikahan saya nanti, jujur hampir membuat saya ingin memilih meraut otak biar runcing. Bukan terasah. Benar-benar menguras emosi. Mengingat juga usia kedua orangtua saya yang sudah senja, membuat saya tidak ingin merepotkan mereka. H-3 hari pernikahan saya pun saya akan masih bekerja. Rasanya ingin menikah di KUA saja, dengan mengenakan baju muslim dan baju koko, lalu makan-makan di D'Cost bareng keluarga. Argh, kesal saya!

Lucunya, ada beberapa teman saya yang akan menikah di dekat tanggal saya. Ada 2 orang sahabat TK saya, dan teman sekantor (yang kebetulan tanggal saya menikah nanti adalah hari ultahnya). It's gonna be fun!

Well, Selamat Tahun Baru buat semuanya! Kalo dari sebelum tahun baru, teman-teman saya di FB atau twitter sibuk memposting resolusi atau kegalauan mereka, kalau saya mungkin hanya bisa meminta doa.

Mungkin sama seperti saat lebaran, doa saya gak muluk-muluk, hanya dua poin.
Pertama, semoga Bapak, Ibu, Saya, Adik, dan semua orang yang saya cintai selalu diberi kesehatan, panjang umur, dan kelancaran rejeki.

Kedua, semoga saya bisa dipertemukan kembali dengan orang-orang yang saya cintai di tahun-tahun berikutnya. Amin... Amin... Amin.