Friday, December 21, 2012

'deramah'

Suatu hari di sebuah kantor penerbitan...

Latar tempat: ruang kantor yang dibatasi kubikel

Alur cerita:
Ada seorang karyawati kantor menghampiri 2 rekan sekantornya yang sedang mengobrol bersama. Bermaksud menyapa dan diajak untuk bergabung, malah tetiba 2 orang ini mendadak diam dan menjauh, seolah tidak ada percakapan apa-apa yang terjadi.


Sekian dan terima kerjaan baru tanpa ada orang yang nuduh kepo.

Friday, December 14, 2012

Anak Krakatau Trip

Lelah dengan urusan kantor yang berkelit-kelit dan situasi kantor yang juga sedang memanas, 19-21 Oktober lalu saya, suami dan dua teman saya (Egi dan Pichan) pergi berlibur ke Anak Krakatau. Dengan menebeng sebuah tur 'tak bernama' yang dipandu oleh Mas Malik dan Mas Andie, kami berempat pun berangkat menuju Anak Krakatau.

Grup Krakatau 'angkatan' saya :D


Yiihaa! Ini pertama kalinya saya mengunjungi pulau Sumatera, dan berwisata ke tempat paling fenomenal di Lampung. As we know, sejarah Krakatau sudah mendunia sekali, terlebih secara internasional. Bagaimana tidak, hampir separuh dari permukaan bumi, terkena imbas dari letusan yang terjadi di era tahun 1800-an itu. Dan saya akan kesana, WOW! Excited sekali.

Sebelumnya, sedari jauh-jauh hari, bahkan sewaktu libur lebaran kemarin, saya sudah memantapkan hati akan pergi berlibur lagi. Di libur lebaran kemarin, saya dan keluarga menyempatkan untuk berwisata ke Semarang, Jogja, dan tentunya Solo. Berhubung keadaan kantor juga sedang panas-panasnya, saya ingin pergi berlibur lagi. Saya mencari trip-trip murah dan tentu menyenangkan sembari bekerja di kantor. Awalnya, saya ingin pergi ke Dieng. Tapi kok agak setengah hati dan entah gimana, sampai akhirnya saya tahu kalau tur yang akan saya ikuti akan menggunakan bis Sinar Jaya. Oh tidak, tidak..! Sinar Jaya memiliki bad record yang cukup bikin perut mual. Saya batalkan perjalann itu, dan mulai mencari trip lagi. Pilihannya saat itu adalah Green Canyon atau Krakatau. Kalau Green Canyon, otomatis hanya main-main air saja dan sebelumnya akan melewati perjalanan yang jauuuh sekali. Tanya sana-sini, dan selalu dapat jawaban “capek di jalan” atau “badan sakit-sakit”. Waduh! Akhirnya saya memilih Anak Krakatau untuk perjalanan kali ini. Bisa trekking sekaligus main air. Pikiran saya sudah melayang jauh ingin bermain pasir di pulau Umang-umang yang terkenal putih bersih seperti salju. Widiiih, gak sabar!

Setelah bolak-balik memberi info ke Tim Hore yang biasanya ikut atau minta dikasih info kalau saya jalan-jalan lagi, akhirnya ikutlah Tim Centil, Egi dan Pichan. Saya yang sudah mengambil cuti dari Jumat hingga Senin, lumayan santai menyiapkan segala tetek bengek yang akan dibawa kesana. Sebelumnya sudah nanya-nanya juga dengan si biangnya jalan-jalan Nisa dan Yudi, yang beberapa waktu lalu mengunjungi Anak Krakatau juga. Yudi bahkan mengunjungi Krakatau saat sedang aktif-aktifnya. Katanya, waktu trekking, dataran yang dipijak berbunyi “bum bum bum”, sambil sekali bergetar.

Dari rumah, saya dan suami berangkat jam 7 malam. Dengan diantar supir keluarga, kami menuju Terminal Kp. Rambutan, tempat janjian dengan Mas Andie. Sebelumnya saya menjemput Pichan dan Egi dulu di sekitar UI. Petualangan dimulai dari sini. Entah kenapa, perjalanan kali ini penuh dengan kejutan. Banyak hal-hal yang kami dan saya baru alami, baru tahu, dan baru-baru lainnya. Sepanjang jalan raya Bogor menuju Kp. Rambutan, keadaan gelap gulita. Kabarnya,ada gardu listrik yang tertimpa pohon waktu hujan tadi sorenya. Alhasil semua listrik mati hingga Pasar Rebo. Sesampainya di Kp. Rambutan, kami sudah ditunggu oleh Mas Andie, dan beberapa kawan baru yang sudah menunggu dari jam 7 (maaf kawan!). Ada Ardi, Putri, dan Nene. Kami berdelapan pun akhirnya naik ke bis menuju Merak. Bis mulai berjalan. Agak heran, sudah malam begini (sekitar pukul jam setengah sembilan malam) kok masih saja tersendat-sendat jalannya di mulut terminal. Ternyata oh ternyata, sepanjang jalan baru hingga pasar Rebo itu macet cet cet cet! As I said before, mati listrik berimbas ke matinya lampu lalin, dan membuat macet ruarr binasa. Satu jam pertama kami lewati untuk ‘menikmati’ macet. Setelah berjibaku selama satu jam, lalin mulai lancar, dan kami melanjutkan perjalanan dengan tidur.

Bis yang kami naiki untuk menuju Merak adalah Bis Arimbi. Supirnya gak begajulan, kondekturnya pun baik. Kejutan kedua ternyata menghampiri kami kembali sesampaianya di persimpangan di sekitar Mal Taman Anggrek. Ada 2 orang pengamen wanita, yang mungkin umurnya menjelang 20 tahun, dan yang satu lagi menggendong bayi yang tidur pulas di dalam kain gendongan. Saya agak trenyuh, malam-malam begini bukannya istirahat di rumah malah masih harus cari makan. Saya sebenarnya suka dengan keahlian salah satu dari mereka yang emmainkan ukulele. Namun, saya agak terganggu dengan si-pengamen-penggendong bayi yang suaranya amit-amit ganggu banget! Sebelum memulai ngamen, saya sudah pura-pura merem, jadi hanya suami saya yang diedari amplop. Putri yang duduk di deretan sebelah kursi saya, dalam keadaan setengah tertidur mungkin kaget disodori amplop, hingga kesannya ‘menangkis’ amplop yang diberi penggendong bayi. Suaranya lebay dan melengking, khas penyanyi jalanan. Too bad, pas mengambil amplop dari Putri, si penggendong bayi melabrak Putri karena tersinggung. Well, harusnya tau waktu dan situasi juga mbak kalo ngamen... 

Akhirnyaaa, setelah pantat tepos, kami sampai juga di Merak. Waktu sudah menunjukkan waktu sekitar jam setengah satu malam. Di Merak, kami sudah ditunggu oleh kawan-kawan dari Bandung, yang juga rombongan dari trip ini. Total orang yang ikut trip ini adalah sekitar 35 orang. Ada dari Jakarta, Bandung, dan juga Palembang. Rombongan Bandung paling banyak. Nah, disini kami ‘dicoba’ lagi. Ada satu rombongan’gengges’ yang terdiri dari beberapa cewek-cewek yang baru lulus kuliah, yang membawa kawan-kawan mereka (student exchange) dari Jepang, yang terdiri dari empat orang cowok. Rombongan gengges ini berisiiiiiiiiik pangkat sejuta dari mulai diabsen hingga masuk kapal. Awalnya, saya kira si orang-orang Jepang ini baru kenal mereka on the spot, jadi ceceweks gengges ini merasa “ini milik kami”. Ternyata, bukan. Mereka satu angkatan S2 (anak baru) di ITB. Agak terganggu juga sih melihat tingkah yang katanya anak ITB tapi kok ajaib ini. Masalahnya di kantor dan dunia pertemanan saya juga punya teman anak ITB. Bos saya pun lulusan ITB, tapi gak begini amat. Noraks to the max pokoknya!



Norak. Hal pertama pas naik kapal gede (lagi) norak. Terakhir naik kapal ferry sekitar tahun 1995 pas ke Bali lewat jalur darat. Itupun gak begitu terasa, karena kita hanya muter-muter di sekitar parkir mobil dan di ruangan dalem itu aja. Sekarang, bener-bener ngeliat kapalnya dari awal, masuk sambil “wah waaah” dalam hati, terus rebutan bantal pas tahu kelas eksekutifnya berupa karpet-karpet yang digelar luas. Yeay! Loading penumpang dan mobil saat itu lumayan lama, sekitar satu jam-an. Pas berangkat gak begitu kerasa sih ombaknya. Kami berangkat sekitar jam 2 malam waktu Jakarta, lalu tidur pulas! Bangun-bangun jam 4, karena ada pemberitahuan sebentar lagi kapal akan berlabuh di Bakauheni. Wow, Lampung! Saya sampai Lampung dan akan menginjakkan kaki di Pulau Sumatra untuk pertama kalinya. Sebelum turun, saya sempat mencoba fasilitas toiletnya yang ternyata lumayan bersih, dan penumpang lainnya tahu bagaimana menggunakan toilet (yang walaupun berupa ember, gayung, dan WC jongkok) dengan apik dan bersih. Terus dapet cerita dari temen seperombongan, ternyata si ceceweks gengges dan geng jepang sempat ditegor ABK dan penumpang lain karena keberisikan dengan ulah mereka. Sukurin, emang mereka harus digituin *dendam kesumat*




Turun dari kapal, agak sedih, karena berarti harus ninggalin si karpet dan bantal yang udah kayak soulmate. Masih subuh banget waktu itu, tapi udah banyak orang di pelabuhan. Kita nunggu sampai rombongan lengkap, untuk selanjutnya carter angkot buat ke pelabuhan Canti. Saya mengajak suami dan dua teman saya untuk mencari angkot tanpa si geng berisik. Jadilah saya satu angkot bersama Mas Andie, Ardi, Putri, Nene, Sinta, Zicco, suami, Egi, Pichan. Surprisingly, mereka juga terganggu sama geng berisik! Horeee…

Mas Andie bilang, kalau perjalanan Bakauheni – Canti akan sebentar. Ternyata sodara-sodara, lama! Sejam setengah ada kali ya. Dan baru kali ini ngerasain lalu lintas Sumatra, yang sudah terkenal dengan asoy begajulannya. Rasanya pengen noyor supir angkot karena berulang kali nyalip truk gede terus papasan sama truk gede lainnya di lawan arahnya. Macam naik kora-kora campur halilintar yang lintasannya gak abis-abis. Saking capek, ngantuk campur berisik (have I told you si supir angkot nyetel lagi Nike Ardila sampe goblok keras-keras di angkotnya?), akhirnya saya tidur. Berasa baru tidur 5 menit, suami sudah memberi tahu saya kalau sudah sampai di pelabuhan Canti. Mm, mendung. Saya sudah khawatir dengan trip ini, kenapa jadi mendung gini suasananya. Kekhawatiran saya terobati dengan toilet yang disediakan disana. Walau bayar, toilet yang tersedia bersiiiiiihhhh sekali (sayang tidak difoto  ), sampai rasanya gak mau nyebrang dengan kapal, maunya mandi dan bersih-bersih disana terus. Airnya pun melimpah, dan herannya, gak asin atau payau! Padahal biasanya di pesisir pantai air yang digunakan untuk mandi atau bersih-bersih berasa agak payau. Saya sempatkan untuk ganti baju, sholat subuh, dan bersih-bersih disana. Saya pun gambling, mau makan atau gak. Pertama karena masih harus naik kapal kau cepat untuk menuju ke Sebesi Island, tapi sarapan juga belum. Akhirnya saya memilih untuk makan. Lumayan enak, saya mengambil lauk tempe goreng dan telur dadar. Untuk lauk tersebut dengan nasi, mereka menghargainya dengan 10ribu rupiah. Cukup mahal sih, karena saya pernah makan dengan lauk telur balado (telurnya bulat utuh ya!), sayur dan es teh manis di sekitar Malang (waktu mau ke Bromo) hanya seharga 5ribu saja! Tapi gak apalah, yang penting enak, dan perut terisi.



Di pelabuhan Canti sebelum ke pemberhentian berikutnya ;)


Sok-sokan saya tidak menenggak antimo dulu. Dan agak deg-deg seer pas kapal mulai melaju. Maklum, sudah sekitar 2 tahun saya tidak melakukan perjalanan laut seperti ini. Terakhir tahun 2010 lalu sewaktu saya pergi ke Tidung. Benar adanya, saya merasa mual setelah mendekati spot snorkeling pertama. Huaaah, mengesalkan! Untung saya mempunyai teman si pengantin baru 3 minggu, Meiying, yang ternyata sedang menstruasi sesampainya di terminal Leuwi Panjang kemarinnya. Padahal, ia dan suami sudah membeli kaki katak dan kacamata renang. Yaaa, gagal deh. Tapi seneng juga sih, karena berbekal kemampuan dan profesinya sebagai fotografer, saya bisa mengikuti dia untuk mencari spot-spot terbaik untuk motret.

Baru berangkat dari Pelabuhan Canti :)


Setelah selesai snorkeling, kami belum langsung menuju ke penginapan. Kami berkunjung dulu ke Sebuku Island. Aroma pantai. Bunyi angin, dan warna indah yang terpancar, langsung menghilangkan rasa mual saya. saya langsung loncat dan tak sabar bermain di pantai pasir putih itu. PANTAI! Life is a beach, baby! Saya tak henti-hentinya mengagumi keindahan pantai disana. Sambil sesekali bermain pasir dan mengumpukan kulit kerang. Panggilan Mas Malik dan Mas Andie untuk menyudahi waktu bermain kami pun, kami hiraukan. Kami terlalu tenggelam untuk bermain air dan pasir. Setelah lelah dan merasa lapar, barulah kami beranjak untuk menuju pulau dimana tempat kami menginap.

Life is a BEACH!

Akhirnya kita menuju tempat peristirahatan, yaitu du Pulau Sebesi. Sesampainya disana, kami disambut wewangian gorengan pisang, bakwan dan tahu yang benar-benar menggugah selera. Pantas saja, waktu sudah menunjukkan hampir jam makan siang. Saya langsung mengambil alih kamar mandi untuk bersih-bersih diri. Hmm, sayang… Kamar mandinya hampir tidak layak. Keramik di lantai dan di WC sudah retak-retak. Sehingga jika tidak berhati-hati dan tidak menggunakan sandal, bisa saja kaki kalian tertusuk atau tergores pecahan keramik. Walau tak payau dan asin, air disana tidak laik untuk digunakan untuk berkumur. Yaah, namanya jauh dari rumah. Pasti rasa membanding-bandingkan akan ada jika tak sesuai dengan hati.

Waktunya makan siang! Awalnya saya membayangkan paling makanannya tidak jauh dari ikan bakar, lalap dan sambal. Apalagi di pinggri laut, apa sih yang kita harapkan? Ternyata perkiraan saya salah! Makanannya lumayan enak. Ada teri kacang (favorit sepanjang masa), sayur asem, tahu-tempe goreng, dan beberapa lauk lainnya. Benar-benar makanan rumahan, seperti di rumah sendiri. Teman-teman lain pun makan dengan lahapnya, terlebih si geng Jepang ada juga yang sampai nambah! Setelah makan siang, kita diberi waktu sampai jam tiga sore untuk beristirahat dan menghilangkan kapal lag (khusus untuk naik kapal). Saya benar-benar tidur siang enak saat itu. Lumayan lah sampai ketika bangun badan terasa oleng karena saking nyenyaknya.

Setelah cuci muka, kami bersiap untuk snorkeling lagi dan explore Umang-umang Island. Kali ini, saya menenggak antimo untuk mengantisipasi mabuk laut. Wuidih, perjalanan yang singkat hingga ke spot snorkeling menghilangkan sejenak pikiran saya dari rutinitas kantor. Sayang, sewaktu saya bersiap nyebur, ada yang teriak kalau banyak ubur-ubur kecil disana. Wew, gak beraniii! Egi pun langsung mengurungkan niatnya…tapi buat apa jauh-jauh kalau berdiam diri saja di kapal? Saya pun memberanikan diri untuk nyebur, dan wuih…SEGER! Kalau dibandingkan, arus laut di pulau ini dan Tidung agak berbeda. Disini arusnya lebih kuat. Mungkin karena masih berhubungan dengan selat Sunda. Saya agak kerepotan berenang walaupun sudah menggunakan life vest. Gaya apapun dicoba tetap tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya hanya memegang life vest suami, dan mengikutinya kemana pun. Sayang, terumbu karang disini agak kurang bagus. Hampir sama sekali tidak berwarna. Laut disini hanya menang warnanya. Warnanya masih biru kehijauan. Indah sekali.

Selesai snorkeling, kami dibawa kapal menuju tempat berikutnya. What a surprise, kami dibawa ke surga! Umang-umang Island indah sekali…. Pasirnya putih bersih, hampir menyerupai salju. Sesampainya disini, kami harus trekking sedikit, hingga mencapai pantai pasir putih yang super-duper indahnya. Beberapa biota laut seperti terumbu karang, bintang laut dan timun laut (teripang), tampak di pantai berair bening ini. Karena mungkin kadar garam di pantai ini lebih tinggi (ini mungkin loh ya!), kami hampir bisa mengambang tanpa harus panik. Apalagi buat saya yang memang tidak bisa berenang, apalagi mengambang. Hihihi…



Pasir putiiih...

Kami menghabiskan waktu di pantai ini hingga menjelang sunset. Sayang, kami tidak bisa melihat sunset yang bulat utuh, seperti hal-nya jika saya tenggo pulang dari kantor di wilayah Ciracas (zzz!). tapi, keindahan pantai dan laut yang cantik, cukup mengobati kekecewaan saya. Sudah pukul 18.30 ketika kami sampai di Sebesi Island. Wewangian gorengan pisang menyambut kami lagi. Kali ini, saya tidak kuasa untuk membeli 5 buah gorengan sekaligus karena kelaparan yang sudah cukup mendera. Setelah bersih-bersih dan mandi, kami berkumpul kembali untuk makan malam. Tidak jauh berbeda dengan menu tadi siang, kami tetap menikmati makan malam dengan nikmat. Awalnya, saya mengira jika makan malam akan dibarengi dengan BBQ, ternyata, ada perubahan jadwal, dimana BBQ akan dimulai setelah makan malam. Whew! Udah kenyang cyint… terlebih melihat ikan yang akan dibakar berupa ikan tongkol panjang dengan bobot sekitar 5 kilo. Widiiihhh, mentahnya saja sudah amis! Saya dan teman lainnya memutuskan untuk tidur. Sepertinya suami, yang memang berbeda kamar tidur dengan saya, memilih untuk berkumpul sebentar dengan rombongan BBQ. Saya? molor dengan sakses.

Terbangun sekitar jam dua, saya seperti mendengar beberapa orang berkumpul di beranda ‘rumah cewek’. Ternyata, beberapa orang dari kami memilih terjaga, untuk menjaga rumah huni ceceweks. Oh iya, rombongan Jepang dan cewek gengges sedari menginjak Sebesi Island untuk pertama kalinya, sudah memilih untuk berpisah kamar inap. Mereka rela membayar lebih demi dapat berkumpul bersama. Romantis walau cenderung najis. Saya pun tertidur lagi sebentar, dan bangun kembali karena ingin poop dan melihat, ternyata waktu sudah hampir jam 3 pagi. Hampir mendekati waktu kami menuju Krakatau. Yippie yay! Hmm, disini saya mulai sadar. Jadi sewaktu belum berangkat, saya nanya ke penggila hajat, Nisa, untuk bawa jaket atau tidak. Dia bilang, gausah, mending bawa kain atau pasmina. Saya memang sudah bawa keduanya, untuk menutupi seprai dan bantal. Takut-takut, dari waktu ke waktu penginapan ini tidak pernah mengganti sarung, seprai, dan bantal gulingnya. Hiiiy… Ternyata sodara-sodara, Nisa bohong. Berangkat melaut di jam 3 pagi itu sungguh aduhai duingiiinnya. Suami yang terlalu pintar meninggalkan jerseynya di rumah, dan memilih memakai kaus oblong kala itu, super kedinginan. Padahal, saya hanya membawa pasmina, untuk sekedar menutupi badan saya. alhasil, kami pun berbagi pasmina. *getok suami*

Ternyata perjalanan dari Sebesi Island menuju Gunung Anak Krakatau jauhnya minta ampun. Walaupun kurang dari 3 jam, saya memastikan ini sejauh Jakarta-Bandung. Alhamdulillah, saya dan suami tidak masuk angin, tapi malah lapar. Eits, belum boleh makan. Berbekal air minum di tas kamera, dengan kamera mengalah dengan cara digantungkan di leher, kami memulai perjalanan mendaki Anak Krakatau. Namun, ada kejadian mengagetkan sebelum memulai pendakian. Salah satu geng Jepang, Daiki kalau tidak salah namanya, mendadak terjatuh dengan posisi kepala menghantam tanah bagian belakang. Awalnya saya, dan kawan-kawan Daiki dari jepang mengira daiki bercanda. Karena kalupun kenapa-kenapa, dia paling tidak menggeram, atau mata mendelik ke atas. Tapi ini dia melek tapi diam saja. Mulailah dia menggeram. Di pikiran saya saat itu hanya ada stau hal, SENDOK! Saya yakin dia semacam epilepso. Kalau tidak diganjel sendok diantara kedua giginya, kemungkinan dia bisa mengigit lidah. Tim cewek gengges yang sedari hari pertama sedikit-sedikit berteriak Obana, Obana! Daiki, Shun.. atau siapalah, diam pucat pasi. Saya langsung teriak: “katanya temennya, kok gak tau temnnya sakit. Bego!” Gila betulan mereka. Tidak ada 5 menit, Daiki bangun. Ketika ditanya Mas Malik mengenai keadaannya, ternyata Daiki memang mempunyai riwayat epilepsi.

Though it was a hard time when we climb the mountain, mulai dari pasir, bebatuan dan lain-lain, we had a super-quality time, and get closer each other. Si suami agak payah, karena phobia ketinggian dengan kemiringannya. Saya juga kesusahan dengan napas berat saya. benar kata Nisa, kalau diibaratkan kita melangkah 2 langkah, turun selangkah, saking licin dan terjalnya. Pasirnya pun masih anget-anget panas, karena sebulan lalunya baru saja meletus. Tapi semua itu tidak apa-apanya ketika kami sampai di puncak Anak Krakatau. Subhanallah, akhirnya merasakan menjadi makhluk yang tidak lebih besar dari butiran pasir karena melihat keindahan gunung dengan laut lepas di sekitarnya. Menyentuh banget pokoknya. Kami puaskan berfoto-foto disana, istirahat, dan memandangi kemegahan luar biasa yang ada. Si Miss Heboh, Egiyong, juga gak kalah exited-nya karena ini pertama kali di ahiking dan berhasil. Malah, dia berhasil mendahului saya loh! Salut! Bagian terseru dari mendaki si gunung pasir ini adalah ketika kami menuruninya. WOW, seru! Walau pasir masuk-masuk di sela-sela jari kaki, serunya menuruni si anak gunung ini melebihi gegap gempita langit malam lebaran.


Trekking!!

Setelah selesai ber-hiking ria, kita sarapan dulu. Menunya standar tapi lumayan lah buat isi perut: ada nasi lemak dengan lauk tahu pedas dan telur balado. Karena banyak sekali nasinya, saya dan suami sharing berdua. Setelah sarapan, kami sempatkan untuk berfoto keluarga kembali di dekat palang tulisan “Taman Nasional Anak Gunung Krakatau”. Seru. Saat itu, kayaknya kita dan geng Jepang berisik udah mulai berbaur.

Gak lama setelah foto-foto, kami kembali ke kapal. Rencananya, kita akan ke Lagoon Cabe, yang katanya asri sekali pemandangan lautnya. Taunya sodara-sodaraaaa, setelah kita sampai di Lagoon Cabe (jadi titik buat snorkeling gitu), itu banyak sekali ubur-uburnya! Saya, yang sudah berniat snorkeling mulai ragu. Apalagi, suami tiba-tiba naik ke permukaan, dan bilang jari kakinya kayak ada yang nyetrum, Wadoh! Si Egiyong yang udah ready dengan swimsuit dengan rok manisnya, udah geleng-geleng kepala gak mau turun nyebur. DAN, tiba-tiba si Phican kembali ke perahu, dan saya melihat 3 bercak merah di pergelangan tangan dan juga lengannya. Benar, si ubur-ubur mulai membabi buta. Sebenernya uibur-uburnya kecil sih, yang kalo lagi mekar, paling selebar koin seratusan. Cuma yang namanya parno, dan kebayang film Seven Pounds, jadi banyak temen-temen yang juga naik ke perahu. Entah siapa yang berteriak dig eng berisik, saya mendengar kalau salah satu geng jepang ada juga yang disengat ubur-ubur di bagian mulut! Lucu, jadi jontor gitu... Saya nanaya lah ke Mas Malik, ini kira-kira turun ke satu spot lagi gak? Ternyata enggak  Yaaah, mau gak mau, biar saha, saya menceburkan diri untuk sekedar “gak rugi” jauh-juah kesini. Lumayan lah, walau (have I told you) tetep aja spot yang dipilih gak tepat karena kurang bagus pemandangan bawah lautnya. Kami pun akhirnya selesai mengarungi laut Lagoon Cabe,d an kemabli pulang ke Pulau Sebesi untuk bersiap pulang ke Jakarta. Kembali kami melakukan perjalanan yang cukup jauh, kurang lebih 2 jam. Saya sempat berfoto sedikit di dek kapal. Kesampaian! Walau ada punggungnya si Ardi yang nongol di belakang saya.

Selesai berkemas, kami pun melakukan makan siang terakhir di Pulau Sebesi. Rasanya makanannya agak hambar, karena mungkin saya akan meninggalkan liburan dan kembali ke kantor. Walau besok Senin saya masih cuti, tetap saja, rasanya agak gimana gitu ke kantor. Kami pun meninggalkan kenangan di Pulau Sebesi sekitar jam setengah 2 siang. Beraaaaat rasanya, agak dadah-dahah terharu sambil ngeliat ke arah pulau Sebesi.


Pelabuhan Canti sudah terlihat di belakang. Hiks!


Sesampainya di pelabuhan Canti, kami sudah ditunggu oleh beberapa mobil angkot yang akan membawa kami kembali ke Pelabuhan Bakauheuni. This is it, kalau kata Farah Quinn. Saya memilih seangkot bersama rombongan awal waktu pertama kali menjejakkan kaki di Bakauheni. Sambil cerita-cerita dan ketawa-ketawa, dan juga menikmati jalanan lintas Sumatera yang membahana, kami menikmati waktu-waktu terakhir di lampung dengan penuh sukacita. Sesampainya di Bakauheuni, kami masih menunggu agak lama. Karena kebetulan, rombongan di mobil angkot lainnya sempat turun untuk membeli oleh-oleh. Yasudahlah, gak bisa protes juga karena mau cepet sampai di Bakauheuni atau nggak, kita juga masih harus tetap menunggu kapal yang belum tiba.

Kapal kami pun tiba! Agak ‘dekil’ dibanding dengan kapal yang membawa kami ke Lampung kemarin sebelumnya. Ditambah, kekecewaan anak-anak setelah tahu kelas eksekutifnya ternyata duduk, bukan gelaran karpet seperti kapal sebelumnya. Hihihi… mau gimana lagi coba? Ya masa nunggu kapal berikutnya, khan? Ternyata perjalanan juga nggak lama-lama amat. Saya banyak bercerita ngalor-ngidul dengan si Egia. Tentang kisah percintaan dia, tentang kehidupan saya di kantor, tentang bos-bos saya yang ajaib, banyak sekali. Hal ini mungkin yang bikin persahabatan saya dan Egia gak pernah pudar karena kami sering saling tukar pikiran dan cerita.

Well, say hello to goodbye. Sesampainya di Merak, kami mulai berdikari untuk perjalanan selanjutnya ke rumah masing-masing. Rombongan Bandung memilih untuk makan terlebih dahulu, sedangkan rombongan Jakarta langsung buru-buru mencari tumpangan kea rah Kampung Rambutan dan sekitarnya. Di titik ini saya baru merasa sedih sekali. Yah, bakal kangen liburan lagi nih. Dan pikiran saya saat itu, kayaknya bakal lama lagi deh ngelakuin liburan yang asyik kayak begini. Hmm…

Lagi-lagi, kayaknya perjalanan seru dan banyak kejadian ‘unik’ gak afdhol kalo gak ditutup dengan kejadian yang ‘luar biasa’ juga. Setelah naik bis dari Merak yang supirnya ugal-ugalan setengah idup itu, kami (saya, suami, Egia, dan Ohican) turun di depan TMII. Pas turun, kami sudah disambut oleh Taksi Express yang kami sudah rencanakan akan mengantar ke 3 tempat. Pertama, kami akan mengantar Phican, karena lokasinya paling dekat dari TMII. Setelah mengantar Phican, kami menuju rumah Egia. Disini, sang supir yang sejak awal kami masuk taksi sudah berusaha ‘sksd’ mulai meluncurkan aksi sok dekatnya lagi. Berikut percakapan ia dengan suami saya:
PS (Pak Supir): mas tinggal dimana?
SS (suami saya): oh di beji pak (setengah ngantuk)
PS: oh beji, deket mananya?
SS: belakang UI pal (berusaha meminimalisasi interaksi)
PS: oh yang dulu ada poling ya? (pas ngomong ini saya dan egi langsung liat-liatan)
SS: poling? Apaan tuh pak?
PS: itu tuh pocong keliling. (mendadak egi memegang tangan saya. saya melihat kea rah kaki supir untuk memeriksa bahwa dia bukan jurig or even …amit-amit apapun itu)
SS: oh yang pocong tapi maling itu ya? Bukan hantu beneran khan?
PS: oh bukan mas, ini hantu beneran. Jadi istrinya tukang ketoprak yang mati, terus pas dikubur tikernya gak dilepas. (si egi makin mencengkeram tangan saya. saya makin melihat ke arah wajah PS untuk memastikan dia punya muka)
SS: hmm, bapak mangkalnya dimana? Tinggalnya jauh?

HUAAHH! Ada aja, omongan si PS smape terngiang-ngiang ketika saya sudah di rumah. Beruntung saya dan suami sampai rumah dengan selamat.
Dan jujur, trip kali ini selain melepas penat juga melepas emosi. Tapi enggak papa lah, yang penting gak ngurangin rasa bahagia dan lepasnya saya menikmati cuti yang sangat menyenangkan! 

Thanks, Mas Malik dan Mas Andi!


Sunday, December 9, 2012

KEPO dan MOVE ON

Mungkin mbak-mbak yang kemarin-kemarin ini ngacakkin 'tempat sampah' saya seneng kalau sekarang saya menulis tentang mereka. Berasa arteis, mungkin katanya. Eh tapi gak cuma mbak-mbak sih, ada juga bapak-bapak lapak sebelah yang... *gak jadi deh ntar dikepoin*

Well, sebuah pelajaran kembali menghampiri saya. Sebenernya gak pelajaran sih, hanya hasil pemikiran 'sampah' saya yang dibawa ke ranah publik. Dan kabarnya juga, sudah dibahas dengan Cyber Law dan diduga pencemaran nama baik. Wew!

Ini semua tentang Twitter, yang kalau telat, saya kembali perkenalkan dengan 'tempat sampah' cyber saya. Kebanyakan orang yang punya Twitter selalu menganggap Twitter sebagai buangan pikirannya atau juga tempat untuk share something. Terserahlah ya... Mereka mau buat marah-marah, 'berdoa', apalagi KEPO...bodo amat. Pendek kata, orang bisa berbuat apa saja di Twitter. Dan itu yang sedang dipermasalahkan orang kantor saya, yang lebaynya 'tersinggung' dengan buangan saya di Twitter.

Demi Tukang Gerobak Sampah yang harus berkutat dengan sampah setiap harinya, itu Twitter gw! Heran juga sampe sebegitunya mereka mempermasalahkan ini. Bukannya kalau malah merasa, berarti selama ini yang diasumsikan benar ya? Apapun itu, saya benci orang KEPO. Mungkin juga seperti apa yang dibicarakan oleh salah satu dari mereka yang benci dengan orang kepo (tapi malah kepo), saya berhak dong benci mereka. ;)

Yah, kalau boleh jujur, ini adalah puncak dari segala tuduhan miring yang sering kami rasakan. Kami? Yes, saya dan teman-teman satu divisi saya. Ketika masalah ini menyeruak, bos saya memperingatkan untuk tidak balik menghina orang walaupun dia menghina kita. Well, manusiawi emang gampang sih ngomong begitu. Nah kalau lo yang digituin? Apa gak langsung ngiris bawang?

Mbak Bos saya yang baik ini juga mengingatkan saya dengan kondisi kehamilan saya sekarang ini. "Please, be nice" katanya. Sedangkan.... yah sudahlah.

Lelah.

Orang kepo memang bikin lelah. Terlebih, seolah tidak ada pekerjaan dan urusan yang lebih penting dari kepo-in tempat sampah orang. Di saat bersamaan, suami saya ternyata sering menolak halus permintaan dinas luar dari kantornya. Ini mulai ia lakukan sejak saya diketahui hamil. Too bad, saya baru mengetahuinya berapa hari lalu. Itupun ketika ia mau nggak mau harus berangkat perjalanan dinas ke Lombok besok, dan dia tidak tahu lagi harus memberi alasan apa lagi untuk menolak. Satu sisi, saya berat. Karena kehamilan ini benar-benar menguras tenaga. Di sisi lainnya, saya bangga karena suami saya mulai dipercaya oleh kantornya untuk perjalanan dinas. Memangnya kantor saya yang hobinya objektif itu. Cih!

Rumah tangga jadi tidak sehat. Itu hal yang langsung ada di pikiran saya. Pasti kalau saya di rumah, suami saya tidak akan sekhawatir ini. Di luar kenyataan bahwa suami saya sangat tahu bahwa saya orang yang tidak bisa diam saja. Ada lagi yang menjadi prioritas saya. Ketika masalah orang kepo ini ada, kandungan saya sedikit bermasalah dengan timbulnya flek ketika saya BAK dan BAB. It's time for me to re-think about my family. Pekerjaan bisa dicari. Tapi nikmat Allah yang sudah 9 minggu di rahim saya ini? Susah dicarinya. Gak bisa hanya dengan nulis CV, kirim lewat pos, tinggal nunggu dipanggil. Teguran Allah pada saya, saya sadari sudah berulang kali. Mulai dari kantor, rumah tangga saya, dan berakhir pada kandungan saya.

Sudah waktunya untuk MOVE ON. Terlebih, dari kantor yang sudah tidak dapat saya perjuangkan lagi.

It's not a goodbye. It's a hello for my life. Hidup saya yang Insya Allah masih panjang. Pipie, Mbak Novi atau mungkin Toto dan Poet bisa kok, masa saya enggak?


Doakan saya ya! Doakan Ndatie, adek bayyi :*
Mudah-mudahan rejeki saya, suami dan adek bayyi gak kemana-mana ya, Ya Allah :')


Thursday, December 6, 2012

#1 random things

  • pengen makan stoop macaroni bikinan nyokap panas-panas, dicemplungin garlic bread renyah versi nyokap mertua.
  • tetep pengen resign atau dipecat sekalipun dr kantor saya sekarang ini. Se-ri-yus-li!
  • walaupun blangsak, cm pengen situasi di kantor aman terkendali. Walau gak sama, kayak jamannya masih ada Toto atau Poet dulu.
  • Pengen ngejambak muka mbak-mbak lapak sebelah.
  • Pengen dekbay ngerasa nyaman dan tentram di perut Ndatie-nya, walau Ndatie sering di-dzalimin orang.
  • Pengen terus ngerasain punya temen-temen yang sayang dan peduli, kayak sekarang ini. Long last, ya gurls!
  • Pengen banget renov kamar, ngecat ulang, dan buang-buangin barang gak penting di kamar.
  • Berharap ada secercah harapan (secercah aja kok) untuk besok, dan hari-hari selanjutnya.
  • Berharap dekbay kuat, dan baik-baik saja selama ibunya masih berkantor di kantor yang karyawannya hobi kepo ini.

Stay healthy, baby........ :*