Tuesday, March 29, 2016

Etika Saat Mengambil Cuti


As we know, bagi kita yang menjalani sebuah pekerjaan di dalam perusahaan, kita pastinya punya hak cuti yang sebagaimana disebut di Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja adalah sebanyak 12 hari. Disitu disebutin juga, cuti apa aja sih yang kita dapet:
  • Cuti Tahunan: yang sudah disebutkan sebelumnya tadi, sebanyak 12 hari kerja.
  • Cuti Sakit: biasanya tidak dipotong dari jatah cuti yang kita miliki selama setahun, asal mengikuti persyaratan yang berlaku di tiap perusahaan. Biasanya sih, harus dilengkapi dengan surat keterangan dari dokter.
  • Cuti Bersalin/Cuti Melahirkan: di Undang-undang Ketenagakerjaan Pasal 82 UU No.13/2003, disebutkan kalau hak maternal karyawati yang mau melahirkan adalah 3 bulan. Boleh dibagi 1,5 bulan sebelum dan sesudah melahirkan, atau sesuai kehendaknya.
  • Cuti Besar: biasanya ini untuk PNS yang sekurang-kurangnya telah bekerja selama lebih dari 6 tahun. Mengenai berapa lamanya, tergantung dari negosiasi antar karyawan dengan perusahaannya.
  • Cuti karena alasan penting, misalnya menikah (3 hari), menikahkan anak (2 hari), mengkhitan anak (2 hari), membaptis anak (2 hari), istri melahirkan/ keguguran (2 hari), suami/istri/orangtua/anak atau menantu meninggal dunia (2 hari), dan anggota keluarga serumah meninggal (1 hari).
Sesuai hak-nya juga, si peminta cuti ini juga tetep dapat gajinya. Biasanya gaji pokok saja, tanpa embel-embel tunjangan yang biasanya didapat sesuai kehadiran. Sebenernya lagi nih ya, ada hal lainnya yang harus diperhatikan ketika karyawan mau mengambil cuti. Ini sih hanya sekedar pendapat saya aja ya:
  • Tidak meninggalkan kewajibannya. Diharapkan sih ya, ketika kita atau siapapun mau cuti sebaiknya gak ninggalin pekerjaan yang sudah menjadi kewajibannya. Kecuali, ada perjanjian dengan atasan untuk mencari pengganti selama karyawan tersebut cuti. Tapi tidak semerta merta dia jadi ga mau tau menau soal pekerjaan-yang-harusnya-jadi-kewajiban-dia-ini. Setidaknya, dikontrol (gak bossy ya, inget ini ngadepin pengganti bukan bawahan), dan ngasi tau harus gimana-gimananya (jangan sok tau). 
  • Tidak membawa pekerjaan ke rumah. Bagi yang mengambil cuti panjang (cuti besar atau cuti maternal) sebaiknya tidak diharapkan untuk membawa pekerjaan ke rumah. Yang saya alami nih ya, temen satu tim membawa pekerjaan ke rumah. Yang kita harapkan pekerjaan itu selesai dong ya, tanpa ada bantuan dari kita. Kenyataannya, baper sendiri karena ngerasa cutinya kepotong lah karena harus ngerjain pekerjaan, gak bisa istirahat lah. Duh jangan begitu yaaa...
  • Menghargai pengganti kita selama cuti (jika ada). Diharapkan sih si pengganti tidak harus mengerjakan kewajiban yang belum selesai dikerjakan si pemohon cuti. Tapi kalau memang harus begitu, setidaknya ditanyai kabarnya setiap beberapa hari sekali untuk menjaga mood si pengganti. Jangan sesekali membanjiri si pengganti dengan pekerjaan-pekerjaan yang kita gak mampu kerjain di rumah. Well, hellooooo. Oh ya, jangan keseringan meminta maaf for couldn’t be there. Karena gak membantu, sis. Mending ngirim makanan atau kue-kuean, diterima dengan lapang dada deh. Ada satu lagi sih, sebisa mungkin tidak terlibat secara emosional terhadap permasalahan-permasalahan di kantor yang (mungkin) terjadi saat kita tidak ada. Ikut campur dengan ikutan marah-marah, melontarkan kata tidak pantas, atau hal-hal tidak baik lah. Ingat, kita gak disana. Fokus dengan apa yang sedang dikerjakan di rumah (atau dimana saja), atau mending diam sekalian. beneran loh, itu membantu banget buat pengganti kita di kantor. Nah kalau tidak punya pengganti? Sebaiknya jangan terlalu cuek atau gak mau tau dengan keadaan kantor. Sebisa mungkin (kalau kita mampu) bantu pekerjaan kantor dengan menawarkan diri atau menawarkan bantuan yang bisa kita lakukan unuk meringankan pekerjaan tersebut. Datang ke kantor sesekali dalam masa cuti juga tidak masalah kok ;) 
  • Seimbang. Bagi yang cuti maternal, otomatis keseharian kita dibagi dengan kesibukan di rumah dan (mungkit sedikit) di kantor. Sebaiknya, ketika bayi tidur dan kita sudah cukup beristirahat, update berita terbaru di kantor melalui grup di Whatsapp atau dari beberapa teman. Kalau kita cuti untuk kepentingan pribadi (seperti jalan-jalan, dsb), jika memungkinkan mendapat sinyal untuk update berita di kantor ga masalah dong ya? Kantor juga bakal seneng punya pegawai loyal macem begitu. Siapa tau, besok-besok tunjangan dinaikkin XD
Ada lagi, mungkin ada yang mau nambahin?


Ps: ini murni curcol, cyint ~ ~

Thursday, March 3, 2016

Merayakan Hidup di Herman Lantang Camp



 

Sudah menjadi kebiasaan saat bosan ditambah kalut melanda, pelariannya harus jalan-jalan. Pas banget lelah-lelahnya jadi single fighter di kantor, pas banget sahabat saya, Nisa dari Kawan Jalan, mengajak piknik. Piknik kali ini murni karena kami berdua, si mamah-mamah muda bau kencur, butuh piknik. Dan Nisa mengajak saya dan sejumlah kawan dari eks kantor lama kami untuk glamping (glamour camping) di Curug Nangka, Bogor. 

Glamping sudah menjadi hal yang biasa untuk saat ini. Sebut saja di Bogor, sudah banyak spot-spot yang dijadikan lahan khusus untuk tempat glamping. Ngapain aja sih glamping? Sebenarnya sih buat yang belum pernah kemping pakai tenda beneran, glamping bisa menjadi percobaan awal yang sangat menyenangkan. Gimana gak menyenangkan? Kita tidak perlu mendirikan tenda untuk bermalam, karena sudah didirikan dan diisi perlengkapan tidur seperti Kasur, bantal dan selimut. Kalau kemping biasa kita sibuk mencari spot untuk buang hajat, glamping camp biasanya sudah menyediakan toilet.

Menuju Curug Nangka sendiri masih belum ada transportasi umum yang menuju langsung kesana. Kalau mau, bisa menyewa angkot dari Stasiun Bogor menuju Curug Nangka. Tapi hati-hati, di pertigaan menuju kawasan Taman nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) biasanya akan ketemu okamsi (orang kampung situ) yang biasa narik bayaran lagi per orang @ 5000, atau naik ojek menuju tempat yang dituju. Jangan khawatir, kalo punya kendaraan pribadi, ga musti mikir-mikir bayar okamsi di pertigaan, langsung caw aja. Cuma, nanti harus bayar retribusi 2 gerbang masuk TNGHS.

Herman Lantang Camp (HLC) sendiri posisinya tidak jauh dari gerbang kedua TNGHS. 500 meter dari gerbang kedua, kita sudah disuguhi pemandangan camp-camp untuk glamping. Bagi yang belum siap trekking ke Curug Nangka, HLC juga menyediakan kolam buatan yang menyerupai sungai berbatu-batu. Ada juga kolam renang ala-ala yang cocok banget untuk keluarga yang menginap dengan membawa anak kecil. Dingin gak sih? Sejuk, gak dingin yang menggigit banget, enaklah buat orang kota yang tiap hari kenanya udara sejuk AC. 

Tenda di HLC muat maksimal sampai 4 orang, walau sebenernya itu tenda untuk 6-8 orang. Demi kenyamanan bersama, kalo kata Opa Herman, si empunya HLC. Fasilitasnya sendiri, di samping tenda ada kamar mandi (wc duduk + shower), ada lampu dan colokan listrik di tiap tenda, dapat sarapan (roti biasanya), dan kita bisa memilih untuk dimasakkan makan siang atau malam cukup dengan membayar 20-25ribu (untuk lauk ayam/ ikan, dan sebagainya) atau 15 ribu (untuk lauk telur, dan sebagainya). Praktis khan? Ada bonusnya juga, bisa kenalan sama Opa Herman Lantang, the legend yang juga sahabat Soe Hok Gie, si empunya glamping camp ini.

Kapan lagi bisa ‘menjamah’ alam tanpa banyak pikiran?


For further info:

For reservation:
  • Call/ text/ Whatsapp: 0811439315 
  • BBM: 5D607112
  • Traveloka
  • Agoda