Thursday, October 29, 2020

#30DaysWritingChallenge | DAY 29

"Goals"

Bicara soal tujuan hidup, wah banyak sekali kalah haris dijabarkan satu-satu. Apalagi jika itu menyangkut mimpi versus keinginan versus kebutuhan. Bisa nggak kelar-kelar tulisan ini. Tapi, saya coba menuliskannya secara sederhana.

Pertama, saya ingin menjadi pribadi yang lebih bahagia. Saya sebenarnya mudah dibikin bahagia. Mencium aroma tanah yg terkena hujan, bahagia. Mencium aroma dedaunan saat berkendara di tengah kota, bahagia. Minum kopi enak, bahagia. Memiliki quality time bersama pasangan--meski hanya mengobrol tentang hal remeh, juga bahagia. Tapi, jujur aja, setelah nggak punya orang tua, saya belum mampu memutuskan sendiri tentang suatu hal yg menyangkut hidup saya. Contohnya, seperti pingin punya tempat tinggal pribadi di suatu daerah, demi kebahagiaan mental. Tapi, ya tentu saja banyak hal yang harus dipikirkan terlebih dahulu.

Kedua, saya ingin menjadi pribadi yg lebih sehat. Saya ingat sekali, tak lama setelah bapak wafat, saya turun berat badan sekitar 4 kg. Ada yg bilang saya lebih segar, tapi banyak juga yang bilang saya seperti tak lagi bersemangat. Selain berduka, saya waktu itu sempat memutuskan rajin detoks setiap hari demi bisa menemani pengobatan kanker ibu. Saya harus lebih sehat dan kuat demi Ibu. Ditambah juga, sebenarnya ada satu gangguan kesehatan yang saya alami bahkan sejak kehamilan Birru. Ke depannya, saya akan melakukan pengobatan menyangkut penyakit tersebut sebelum (misalnya) memutuskan hamil kembali. Selama 4 tahun, terakhir saya juga sudah tidak mengkonsumsi mie instan. Tapi, ya itu juga sebenarnya menyangkut kebiasaan, bukan kesehatan. Intinya, pingin lebih peka atas kesehatan diri demi orang-orang tersayang.

Ketiga, saya ingin mandiri secara finansial. No need to explain, lah, ya.

Keempat, saya sebenarnya seperti punya cita-cita terpendam untuk sekolah lagi dan juga mewujudkan cita-cita untuk kembali menjadi jurnalis.

Mungkin itu saja, sih, tujuan hidup sederhana yang saya inginkan ke depannya. Semoga keinginan tersebut dan juga keinginan pembaca postingan saya kali ini segera terwujud, ya. Aamiin 🙂

Wednesday, October 28, 2020

#30DaysWritingChallenge | DAY 28

"Write about Loving Someone"

Di sepanjang kisah percintaan saya, kayaknya saya yang paling sering jatuh cinta sama orang, deh. Hahaha! Tapi, seringkali juga cintanya bertepuk sebelah tangan, sih. Ada yang memang karena nggak suka sama saya, ada yang kasihan, ada yang malah sukanya sama sahabat saya, ada yang juga malah jadiin saya taruhan. Kayaknya, hampir bisa dihitung dengan jari yang berdasar karena suka sama suka. 

Seperti yang pernah saya ceritain di sini, saya pernah suka banget sama senior Paskibra saat SMA. Semacam love at the first sight gitu, deh. Saya nekat menembak dia di minggu pertama saya masuk SMA. Surprisingly, saya langsung diterima. Belum sebulan kami jadian, ternyata dia sudah punya pacar. Nggak cuma 1, tapi 2, hahaha! Bodohnya, karena sayang banget sama dia, saya masih mau berpacaran sama dia. Ah, dasar cinta buta.  

Semasa kuliah, saya pernah naksir berat sama senior saya. Secara fisik, sih, kayaknya nggak jadi incaran cewek-cewek. Soalnya buluk dan cuek abis gayanya, hahaha. Tapi, dia super perhatian. Kami sempat dekat, eh taunya dia naksir sahabat saya. Tapi, saya nggak lantas patah hati, sih. Malah saling jadi tempat curhat dan berteman hingga sekarang. 

Soal suka sama suka, mungkin terjadi di kisah percintaan terakhir saya. Seru aja, sih, rasanya sama-sama suka di waktu yang pas. Terlebih, awalnya juga udah sama-sama jadi teman, dekat, jadi masing-masing semacam kayak nggak perlu mengulang cerita tentang kesukaan dan tentang diri sendiri lagi. Mostly, kami menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol dan saya sangat menikmatinya. Kenapa di waktu yang pas? Karena saya merasa seperti diangkat dari titik terendah yang pada saat itu sedang saya alami. Dia nggak cuma menyayangi saya dari 'sampulnya' aja, tapi juga trauma, masa lalu, dan ketidaksempurnaan saya. Karena berawal dari teman, saat kini berpasangan pun kami kerap kali memposisikan diri sebagai teman. Saya nggak pernah canggung membicarakan pekerjaan yang saya jalani, walau seringnya saya yang malah suka kurang paham (dan sabar) saat dia membicarakan pekerjaannya. Kami juga sangat menghormati privasi masing-masing, dari sekadar tak saling kepo dengan isi ponsel dan memiliki jatah me time masing-masing. Contohnya, saya dengan Netflix dan dia dengan games serta sesi olahraganya.

Jujur, ini salah satu tantangan tulisan terberat, deh. Saya tumben bingung mau nulis dari segi apa, hahaha. Jadi, mungkin terkesan agak sama dengan beberapa tema dari tantangan sebelumnya. Sekian untuk #30DWC hari ini. Sampai jumpa besok!


Tuesday, October 27, 2020

#30DaysWritingChallenge | DAY 27

"Someone who inspires me"

Mungkin bukan seseorang, tapi beberapa orang. Pertama, adalah bapak saya. Laki-laki pertama yang saya cintai di dunia ini ya Bapak saya. Dari dia, saya belajar berbagai bentuk sabar dan maaf. Dia orang pertama yang memberi contoh kepada saya bahwa semua manusia itu sama. Jangan lihat manusia dari gendernya, agamanya, suku atau adatnya, dan juga miskin atau kayanya. Dari Bapak, saya belajar punya banyak teman. Hal ini terbukti saat Bapak meninggal. Banyak kolega dan mahasiswanya, yang bahkan saya tidak kenal, sampai ikut bermalam di rumah hingga Bapak dikebumikan esok hari. Bapak juga orang yang paling tidak pelit ilmu. Selain sebagai dosen, dia juga masih mau ikut andil dalam pendidikan anak-anaknya. Bapak juga mengajarkan saya bahwa belajar itu sampai kapan pun. Sampai menjelang sakit, Bapak tidak henti membaca dan bahkan dimintai banyak pendapat oleh para mahasiswa dan koleganya. Bapak juga pantang menyerah. Saya baru benar-benar melihat dia kepayahan saat menjelang wafat. Sebelumnya, beliau adalah manusia yang pantang telat beribadah dan pantang berhenti untuk belajar. Al Fatihah.

Kedua, adalah ibu saya. Di beberapa postingan saya, saya pernah bercerita bahwa saya benar-benar baru dekat dengan Ibu, saat ia divonis kanker di 2017. Kami jadi punya banyak waktu luang, untuk berbicara tentang hidup, mengobrol tentang anak, tentang rumah tangga, dan bahkan obrolan basa-basi lainnya. Dari sakitnya, saya melihat kegigihannya. Pantang menyerah Ibu dalam melawan sakitnya sungguh tiada bandingannya. Setelah melahirkan, saya sempat merasa sedikit 'jumawa' karena satu posisi dengan ibu--sama-sama seorang ibu. Ternyata sampai beliau berpulang pun, saya tak ada seujung kukunya pun. Dari peristiwa meninggalnya Bapak, saya melihat kesabarannya. Kesabaran menghadapi kemoterapi tanpa Bapak di sisinya dan juga kesibukan anak-anak yang takut ia rusak. Di satu sisi, Ibu ingin anak-anaknya sukses. Tapi, di sisi lain, saya tahu, Ibu ingin menghabiskan sisa waktunya bersama kami. Dalam sakitnya pun, ia masih memikirkan Birru. Beliau seperti ingin menyusun memori agar selalu diingat Birru. Dari wafatnya Bapak yang sungguh serba tiba-tiba, Ibu berupaya menyiapkan risiko terburuk yang terjadi pada dirinya, dan menyiapkan kami sebagai anaknya. Keuletan dan kegigihan Ibu saya, akan selalu terkenang dan terpatri sampai selamanya. Al-Fatihah.

Ketiga, Birru. Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya justru banyak belajar bagaimana menjadi pemaaf dan penyabar dari anak ini. Anak 7 tahun yang saya banggakan. Sesosok yang nggak bikin saya berhenti belajar dan belajar. Dari Birru, saya juga belajar melihat segala hal dengan sederhana. Melalui matanya, saya melihat kesederhanaan itu. Ada dia, saya bahagia.

Terakhir, dia yang tersayang. Darinya saya belajar banyak hal. Darinya, saya belajar untuk melihat ketidaksempurnaan menjadi suatu hal yang tidak jadi masalah. Darinya, saya belajar untuk tidak menuntut. Darinya, saya belajar untuk tidak berhenti bermimpi. Darinya juga, saya belajar untuk mempelajari banyak hal dan gali potensi di dalam diri. Berada di dekatnya, saya bahagia dan selalu merasa percaya diri. Dia juga tak henti mendorong saya untuk tetap bekerja dan gigih meraih mimpi. Dari ia pula, saya belajar menjadi seorang yang kreatif. Karenanya, saya belajar untuk tak mudah putus asa dan bodo amat dalam menghadapi orang/hal yang nggak penting di dalam hidup kita. Terima kasih 😊

Tak terasa, 3 hari lagi tantangan berakhir. Semangat, Prita! 

Sampai ketemu besok, ya!

Monday, October 26, 2020

#30DaysWritingChallenge | DAY 26

"School"

TK dan SD saya masih berada di satu area. Benar-benar yang tinggal jalan kaki, sampai, deh. Terkadang dulu suka mikir, kok nggak menarik amat ya rumah saya saking dekatnya. Suatu ketika, sempat loh akal-akalan sama supir jemputan pas TK. Biasanya, saya selalu diantar paling duluan. Kali itu, saya minta diantar paling akhir agar bisa jalan-jalan. Eh pulang-pulang malah dimarahin Ibu karena beliau nyariin. Pak supirnya juga ikut kena marah Ibu 🤭. Al Fatihah untuk Pak Sudjiman, pak supir tersayang. 

Waktu SD, saya berbadan agak gemuk. Sampai-sampai, teman saya memanggil "kembung". Sebenarnya, saya nggak suka. Tapi, daripada kehilangan teman, ya sudah saya terima aja panggilan itu. Saya baru dipanggil "Prita" saat sudah memberi contekan kepada mereka. Menyebalkan, sih. Saat SD, Ibu menargetkan saya dan adik saya untuk selalu mendapat ranking. Saya pernah sekali dapat ranking 1. Sisanya, ranking 2 dan ranking 8 (saat lulus kelas 6). Dibilang pintar, saya nggak merasa begitu. Ibu saya selalu ikut andil dalam metode pembelajaran saya. Saat esok hari akan ada ulangan, Ibu saya akan menggarisbawahi materi ulangan, dan meminta kami menghapalkan materi tersebut. Setelah itu, ibu akan melakukan tanya jawab mengenai materi yang sudah kami pelajari. Rasanya, yaaa, persis kayak lagi interview kerja terus dapat user yang killer gitu, deh. Kalau nggak bisa jawab, lumayan lah, mulai dari diceples pahanya pakai telapak tangan Ibu, atau pakai sapu lidi. Hehehe...

Lulus SD, saya nggak diterima masuk SMP favorit. Walau nggak favorit, sekolah saya masih SMP negeri. Masa SMP adalah masa yang nggak saya suka. Saya hampir nggak punya teman yang benar-benar dekat di masa itu. Pernah ikut ekskul, eh disuruh keluar sama Ibu. Kuper banget, deh. Sekalinya dekat, sama kakak kelas, walau nggak berujung pacaran. Gara-gara ini, saya sempat dilabrak pacarnya karena dikira merebut si kakak kelas, padahal mereka putus pun nggak. Long story short, mereka akhirnya putus saat lulus SMP. Ya, tapi, nggak ada hubungannya dengan saya juga, sih. Saya punya satu kebiasaan saat saya SMP. Sampai di sekolah, saya pasti langsung ke kantin untuk beli tisu dan biskuit. Setiap hari. Nggak ingat juga, sih, alasan punya kebiasaan itu. Cuma, saya ingat ada teman saya saat SMP baru-baru ini bilang ke saya: "lo dulu khan suka banget beli tisu dan biskuit di kantin setiap pagi" 🙃. Pelajaran yang paling saya tidak suka di SMP adalah Fisika. Saya pernah tidur di kelas saat pelajaran Fisika, mana guru Fisika itu juga wali kelas saya pula. Ingat banget, saya disuruh ke kamar mandi buat cuci muka. Paling ada satu masa di SMP yang saya suka, waktu saya les di sebuah bimbel saat kelas 3. Saya jadi punya teman dekat yang berbeda sekolah. Seru, aja, sih. Nggak jodoh sama satu sekolah, malah punya teman dari beda sekolah. Saya juga ingat banget pernah kena cacar air menjelang UN SMP. Bahkan, saat UN, cacar saya belum kering benar. Padahal sudah satu minggu belajar di rumah. Mau nggak mau, harus pakai jaket hoody yang menutupi seluruh badan, dan datang ke sekolah untuk UN. Hahaha!

SMA adalah salah satu masa yang saya suka. Selain karena punya banyak teman, akhirnya di SMA saya benar-benar bisa cinta sama Matematika. Guru tuh sama kayak pacar, jodoh-jodohan. Guru Matematika saya di SMA keren banget, tapi di mata saya. Di mata yang lain, ia mungkin seorang bapak-bapak Batak yang killer. Tapi, saya suka banget dengan metode belajar guru saya itu. Memang dasar jodoh, saya diajar beliau dari kelas 1 hingga kelas 3, nggak pernah diganti orang lain. Selain guru Matematika, guru sejarah saya cool banget. Dulu, dia jadi guru paling muda di sekolah. Saya dan teman saya terkadang suka 'godain' dan makan saat jam pelajarannya. Tapi, serius, dia enak banget mengajarnya. Walaupun jadi salah satu masa yang saya suka, banyak juga, sih, hal nggak mengenakkan di sekolah. Contohnya, pernah ranking 2 tapi ada nilai merah di rapor (mata pelajaran penjaskes), rok saya pernah digunting wakepsek, putus sama cowok hingga melibatkan guru BP, pingsan saat lomba paskibra, pacar direbut adik kelas, ah banyak lagi, deh! Tapi, benar, deh, masa SMA ini saya benar-benar dikelilingi teman-teman yang baik, walau sekarang sudah banyak yang hilang kontak, huhu.

Saya berkuliah di salah satu universitas negeri di Depok. Saya mengambil dua jenjang, jenjang D3 (2005-2008) dan jenjang sarjana (2008-2010). Keduanya di kampus yang sama, walau beda fakultas. Mungkin di beberapa postingan sebelumnya, saya pernah bercerita sekilas tentang kehidupan saya di kampus. Walau saya cinta mati sama fakultas tempat saya mengambil jenjang D3, tapi saya lebih suka kuliah di fakultas tempat saya mengambil gelar sarjana. Saat berkuliah, saya merasakan segala pengalaman, mulai dari naksir senior tapi bertepuk sebelah tangan, kehilangan teman, mengandalkan diri sendiri untuk menyelesaikan tugas akhir, dan juga punya banyak sekali teman baru dari berbagai jurusan. Saat lulus D3, saya sempat magang di rektorat kampus selama beberapa waktu. Bahkan, di akhir 2012, saya sempat menjadi CPNS di tempat saya berkuliah (walau akhirnya memutuskan keluar).

Itu saja paling yang bisa saya ceritakan tentang masa-masa saya saat berstatus pelajar/mahasiswa. Mungkin agak panjang dan membosankan. Tapi, semoga terhibur sedikit, ya? Sampai jumpa besok di #30DWC besok, ya!

Sunday, October 25, 2020

#30DaysWritingChallenge | DAY 25

"Something inspired of the 11th image on your phone"


Gambar di atas adalah gambar ke-11 yang ada di galeri ponsel saya. Saya ingat sekali, gambar itu saya ambil di tengah kesibukan mengejar deadline naskah buku umum. Hari itu sebenarnya bukan jadwal saya masuk kantor. Sebagai info, kantor saya memang menerapkan jadwal WFO dan WFH secara bergantian selama masa pandemi. Di luar itu, kami diperbolehkan masuk sewaktu-waktu ada urgensi.

Seperti yang bisa dilihat pada gambar, barang-barang tersebut adalah barang wajib bawa saya setiap keluar rumah, di luar cadangan masker kain dan disposable. Hari itu, saya sedang mengedit naskah biografi singkat Sutan Sjahrir. Seorang teman baik saya, yang juga lulusan ilmu sejarah, meminjamkan saya salah satu 'harta karun' Sutan Sjahrir. Buku itu merupakan salah satu bukti sejarah yang berisi surat-surat Sutan Sjahrir kepada istrinya, saat ia sedang diasingkan ke Banda Neira dan Boven Digoel. Sang istri menyimpan surat Sjahrir, membundelnya, dan mencetaknya hingga menjadi sebuah buku. Kalau saja Sjahrir tak terpikir menulis surat kepada istrinya, mungkin saja ia tak pernah disebut sebagai salah satu bapak bangsa dengan sebutan "Bung Kecil". Ah, ini hanya spekulasi subjektif saya saja, sih.

Mungkin itu saja yang bisa saya tulis pada tantangan hari ini. Tak terasa, tantangan tersisa 5 hari lagi. Semoga saja, setelah itu saya masih bisa konsisten menulis, ya. Aamiin.

Saturday, October 24, 2020

#30DaysWritingChallenge | DAY 24

"Lesson Learned"

Di sepanjang hidup setiap orang, berapapun usianya, pasti banyak melewati kejadian dan pelajaran. Ada yang harus ditinggal orang tua di usia muda, ada yang harus dihadapi dengan orang tua yang menikah lagi, dihadapi dengan kebangkrutan, kehilangan, kelahiran, kebahagiaan, atau apa pun itu namanya. Begitu pun saya. 

Bapak saya pensiun ketika saya masuk SMP di tahun 1999. Adik saya saat itu baru duduk di kelas 6 SD.  Sebenarnya, tidak ada yang berubah dari pensiunnya bapak saya. Dari sebelum bapak pensiun, kami juga sudah hidup sederhana. Tapi, seperti ada tuntutan 'tidak langsung' dari ibu, agar kami selalu juara kelas agar gampang naik ke jenjang sekolah berikutnya--terlebih sekolah negeri. Sebuah peristiwa terjadi saat saya lulus SMP, saya hampir tidak diterima di SMA negeri. Sebenarnya, pilihan itu ada, tapi karena jaraknya yang jauh, ibu langsung menolak mentah-mentah opsi tersebut. Saya ingat sekali Bapak berkata: "mau sekolah di negeri atau swasta, nggak masalah, tapi kamu harus punya tujuan, mbak. Mau kuliah di negeri? Go for it". Singkat cerita, saya bersekolah di SMA swasta. Nilai saya tidak pernah mengecewakan hingga lulus, dan syukurnya benar-benar berkuliah di universitas negeri pada akhirnya. 

Saat saya masih satu rumah dengan orang tua, saya kerap bertengkar dengan adik saya. Ibu selalu berkata: "ribut melulu, sih. Kalau ibu mati kalian masih ribut begini, mau jadi apa?". Terkadang, kami menganggapnya ini hanya salah satu caranya agar kami kembali akur. Tapi, ketika situasi membuat kami harus bersatu dan akur saat ibu sakit, lalu bapak meninggal, dan akhirnya ibu menyusul bapak, Saya bersyukur kami sudah dalam keadaan yang jauh lebih baik. 

Mungkin masih ada sedikit rasa penyesalan saat saya memilih untuk keluar dari sebuah BHMN dan balik menjadi karyawan di sebuah perusahaan swasta. Hal itu mengingat perjuangan untuk mendapatkannya, seperti saat melakukan tes tertulis dan wawancara saat hamil muda. Wah, berat sekali rasanya! Tapi, saya belajar banyak. Kalau ada seseorang atau sebuah lembaga yang hanya melihat kita sebelah mata, terlebih dari prestasi yang sudah kita capai, dan memilih orang yang lebih pandai 'cari perhatian', ya tinggalin aja dan move on cepat-cepat. Cari tempat atau orang yang bisa menghargai kita dengan sepadan. 

Begitu pun saat memilih seseorang untuk berdampingan dengan kita. Saya banyaaak sekali belajar dari orang tersayang. Untuk tidak terlalu ambil pusing dengan perasaan atau hal nggak penting, untuk merasa bodo amat dengan orang yang secara nyata menghabiskan waktu kita, untuk selalu sabar dan tenang saat dihadapi masalah--karena pasti ada banyak opsi untuk menyelesaikannya, untuk selalu menyayangi tanpa letih, dan untuk tetap pantang menyerah untuk selalu belajar. Terima kasih 💙

#30DaysWritingChallenge | DAY 23

23-10-2020: "A letter to someone"

Hai, Birru.

It's been a while since my last letter for you. Suatu hari nanti, Birru akan baca ini. Mungkin, Birru akan "apa sih Ibuk, norak deh" atau "Ibuk, hapus! malu akuu". Nggak apa-apa, ibuk akan menunggu hari itu tiba, hehe.

Maaf, ya, hari ini ibuk harus dinas. Sudah semingguan ini juga ibuk sedang sibuuuk sekali. Ah, jadi ingat waktu ibuk cuti melahirkan dulu. Ibuk sudah harus kembali ke kantor waktu Mas masih 1,5 bulan. It was hard, Mas. Ingat nggak, Ibuk suka tiba-tiba muncul di rumah pas jam istirahat tiba? Ibuk pingin Mas menyusu langsung dari Ibuk. Padahal, Ibuk sudah bawa gerombolan peralatan pompa ASI yang malah ditinggal di kantor. Sebegitunya Ibuk kangen kamu, Mas. Walau sekarang kamu boro-boro deh senang kalau Ibuk video call dari kantor, pasti kamunya langsung kabur atau minta udahan. Anak Ibuk sudah besar ...

Mas, Ibuk tahu, Mas bakal sebel banget kalau Ibuk suka cium-cium gemas. Pasti kalau sudah kelewat gemas, kamu akan teriak "bisa dikurang-kurangi nggak sih buk gemasnya?", lalu kamu menangis. Ibuk tambah gemaaas! You're gonna always be my baby, Mas. Like, always. Jadi, mohon sabar, ya.

Mas, Ibuk tahu, di beberapa peristiwa yang pernah kita lewati sama-sama, Ibuk suka kurang sabar. Bahkan, Ibuk kerap kali harus belajar dari kamu apa artinya sabar dan memaafkan. Terima kasih, ya, Mas, sudah selalu memaafkan Ibuk yang jauuuuh dari kata sempurna ini.

Mas, senang-senang, ya. Senang sekolah, senang bermain, senang berteman. Ibuk percaya banget, Mas akan punya banyak teman nanti. Berteman itu menyenangkan banget, loh, Mas. Mas juga akan tahu, bahwa banyak orang yang berbeda. Mas akan banyak belajar dengan berteman. 

Mas, Ibuk minta maaf. Mungkin ada beberapa situasi yang menuntut Mas harus paham dan mengerti. Ada beberapa kondisi yang mengharuskan Mas melakukan dan menghadapi sesuatu. Tapi, Ibuk ada, ya, Mas. Ibuk akan temani.

Ibuk akan selalu sayang Birru--sampai kapan pun.